• umamnoer.com
  • 50 tahun Attaqwa Putri

bacaan hari ini: Structural Anthropology – C. Lévi-Strauss

on . Posted in Catatan Tepi

Kali pertama saya mendengar nama Claude Lévi-Strauss, saya langsung mengasosiasikan nama tersebut dengan merek jeans yang, dahulu, sering saya gunakan. Entah mengapa nama Lévi-Strauss kemudian menjadi merek dagang tersebut. Tulisan ini tidak membahas mengapa nama Lévi-Strauss beralih menjadi merek dagang, namun memfokuskan pada dua karya utama dari Lévi-Strauss: structural anthropology. Membaca tulisan dari Lévi-Strauss sama halnya seperti tersesat di negeri asing, dan si orang asing tersebut hanya bermodalkan peta yang bahasanya tidak ia mengerti. Saya adalah orang asing tersebut, dan buku structural anthropology yang saya baca tidak lain adalah peta tersebut. Acapkali saya menggunakan dugaan atau bahkan tebakan untuk mengerti buku yang ditulisnya, terlebih adalah sebuah godaan yang luar biasa untuk tidak membaca buku orang lain yang membahas tulisan-tulisan Lévi-Strauss, atau bahkan membaca buku terjemahnya (walaupun yang saya tahu belum ada terjemahan lengkap dari buku-buku Lévi-Strauss).
 
Lévi-Strauss menulis sangat banyak hal dalam dua buku ini, meskipun tema umumnya sama: antropologi struktural. Begitu banyak isu yang dia bahas, di mana isu-isu tersebut pada dasarnya pernah pula ia tulis dalam buku-bukunya yang lain. Isu seperti kekerabatan dengan sangat lengkap ia bahas dalam bukunyathe elementary structure of kinship (1969), maupun agama dan totemisme yang ia bahas dalam totemism(1963). Buku-buku lain, yang belum sempat saya baca, seperti the savage mind (1966) maupun raw and the cooked (1975) agaknya sama sulitnya dengan buku-buku lain yang ditulis oleh Lévi-Strauss. Mengingat begitu banyak cakupan tulisan dari Lévi-Strauss, izinkan saya bercerita dengan sedikit melompat-lompat. Dari posisi antropologi dan sejarah lah saya akan memulai.
 
 
I
 
Apa hubungan antara antropologi dan sejarah? Lévi-Strauss memberikan gambaran yang begitu kompleks mengenai hubungan antara antropologi dan sejarah. Dalam pandangannya, Lévi-Strauss melihat antropologi sebagai sebuah ilmu yang diakronik, atau dalam bahasa lain, antropologi memiliki kaitan erat dengan fenomena yang memiliki dimensi diakronis. Meskipun memiliki keyakinan bahwa antropologi memiliki keterkaitan dengan dimensi diakronis, namun Lévi-Strauss mengkritik orang-orang yang mengaitkan antropologi dengan model-model evolusionisme maupun difusionisme.
 
Dalam kritik yang disampaikannya, Lévi-Strauss mengatakan bahwa peradaban Barat, jika melihatnya dalam kerangka evolusionisme, akan terlihat seperti ekpresi evolusi masyarakat yang paling maju, sedangkan kelompok-kelompok non Barat dianggap sebagai kelompok primitif yang masih harus mempertahankan keberlangsungannya untuk bergerak maju sebagaimana dilakukan oleh peradaban Barat. Bagi Lévi-Strauss, hal ini sama halnya membagi kebudayaan ke dalam elemen-elemen yang dapat dipisahkan melalui abstraksi-abstraksi, dan tidak lagi membangun antarkultur elemen itu sendiri. Alih-alih mengannggap bahwa setiap elemen kebudayaan itu berbeda, model ini memaksakan penyeragaman dengan membangun antarelemen dengan tipe yang sama di tengah kebudayaan-kebudayaan yang berbeda. Bagi Lévi-Strauss, penyeragaman ini membawa implikasi serius: agar hipotesis ini dapat dipertahankan, maka perlu legitimasi untuk membuktikan bahwa satu kebudayaan lebih primitif ketimbang kebudayaan lainnya, dan kebudayaan yang primitf tersebut akan berkembang sejalur dengan kebudayaan yang telah terlebih dahulu maju.
 
Lévi-Strauss juga mengkritik para penggila difusionisme. Dalam pandangannya, difusionisme juga mengandaikan adanya kebudayaan yang lebih maju ketimbang kebudayaan lainnya. Penganut difusionisme cenderung akan memilih satu wilayah untuk diobservasi, yang dianggap paling kaya dan paling kompleks sebagai representasi dari bentuk primitifnya, dan akan mencari akar dan asal-usul dari suatu daerah di dunia ini sebagai contoh tempatnya yang paling baik, sedangka bentuk lain semuanya merupakan hasil migrasi dan pinjaman dari tempat tinggal umum.
 
Lebih jauh Lévi-Strauss melihat bahwa seorang peneliti yang baik hanya akan memfokuskan pada satu wilayah atau masyarakat saja. Ketika seorang peneliti hanya membatasi pada satu wilayah atau masyarakat saja, maka peneliti tersebut dapat membuat sebuah hasil karya yang bernilai. Dalam pandangan Lévi-Strauss, peran seorang etnograf adalah mendeskripsikan dan menganalisis perbedaan-perbedaan yang muncul dalam manifestasinya di berbagai masyarakat.
 
Lalu apa hubungannya antara antropologi (dalam hal ini metode etnografi) dengan sejarah (dalam hal ini metode sejarah)? Menurut Lévi-Strauss, keduanya sama-sama mempelajari masyarakat “yang lain” dari tempat di mana peneliti itu berasal. Ke”lain”an ini boleh jadi berpegang pada jauhnya rentang waktu maupun tempat. Peran seorang etnograf adalah mengumpulkan kejadian, dan menyajikannya dengan tuntutan yang sama dengan tuntutan dari sejarahwan. Peran dari sejarahwan lah untuk mempergunakan hasil karya itu ketika sebuah observasi yang bertingkat-tingkat tentang sebuah periode dalam waktu tertentu sudah dimungkinkan, dan peran etnolog berupa sejumlah observasi yang mencukupi tentang berbagai daerah yang berbeda-beda memberikan kemungkinan akan hal tersebut. Bagi Lévi-Strauss, perbedaan fundamental antara antropologi dan sejarah bukan lah objek atau pun metodenya. Kajian kehidupan sosial adalah persamaannya, dan dengan variasi ukuran cara-cara penelitian, maka ukuran itu lebih diperjelas melalui pilihan perspektif komplementer. Karena sejarah mengorganisasikan masukan-masukan yang dikaitkan dengan ekspresi-ekspresi secara sadar, sedangkan etnologi dikaitkan dengan kondisi-kondisi kehidupan sosial yang tidak sadar. Secara tradisional sering dibedakan antara sejarah dan etnologi (antropologi) melalui ada atau tidaknya dokumen tertulis dari masyarakat yang dipelajari. Agaknya etnolog lebih tertarik pada apa yang tidak tertulis, bukan karena masyarakat tersebut tidak mampu menulis, tapi karena apa yang menarik perhatiannya berbeda dengan apa yang umumnya dikhayalkan manusia ketika ia menggoreskan sesuatu di atas batu maupun di atas kertas.
 
 
II
 
Tidak hanya menulis panjang-lebar mengenai sejarah dan antropologi, Lévi-Strauss menulis dengan sangat terperinci mengenai analisis struktral dalam linguistik dan antropologi. Dalam pandangan Lévi-Strauss, linguistik memberikan banyak bantuan pada antropologi, termasuk dalam menjelaskan mengenai masalah kekerabatan. Dalam kajian mengenai masalah kekerabatan, kondisi seorang peneliti kekerabatan berada dalam situasi yang hampir sama dengan situasi linguistik seorang fonolog. Hal ini disebabkan, karena sebagaimana fonem, istilah-istilah kekerabatan merupakan elemen signifikansi. Fonem[1] mendapatkan posisi dan maknanya ketika diletakkan pada suatu sistem tata bunyi dan tata bahasa, demikian pula istilah kekerabatan yang hanya memiliki posisi dan makna (signifikansi) ketika diletakkan atau diintegrasikan ke dalam sistem. Dalam kata lain, fenomena kekerabatan merupakan fenomena dengan jenis yang sama seperti fenomena linguistik.
 
Istilah-istilah kekerabatan tidak hanya memiliki eksistensi sosiologis, namun juga elemen pembahasaannya (linguistik). Dalam pandangan Lévi-Strauss, terdapat perbedaan mendasar antara daftar fonem dari sebuah bahasa dengan daftar istilah kekerabatan dalam sebuah masyarakat. Dalam pandangan ahli bahasa, struktur bahasa memiliki fungsi bahasa yang sudah jelas, namun bagaimana fungsi tersebut ke dalam sebuah sistem tidak diketahui. Sebaliknya, para antropolog sudah mengetahui sejak lama sistem tersebut, namun bagaimana fungsi terbangun dalam sebuah struktur bahasa, atau bahkan tujuan bahasa itu sendiri, tidak diketahui.
 
Lebih jauh Lévi-Strauss menjelaskan, bahwa apa yang umumnya dikatakan sebagai sistem kekerabatan pada dasarnya meliputi dua realitas yang berbeda. Di satu sisi, sistem kekerabatan mempersyaratkan adanya hubungan-hubungan kebahasaan, meskipun tidak murni bersifat nomenklatur, tapi setiap orang yang mempergunakan istilah tersebut berpegang pada patokan yang telah ada, atau dalam hal in disebut sebagai sistem panggilan/penyebutan (yang tidak lain adalah sistem kosakata). Di sisi yang berbeda, karena tidak murni nomenklatur, maka sistem ini pun mempersyaratkan adanya sistem sikap, di mana sikap yang dimunculkan oleh seseorang disesuaikan dengan sistem panggilan yang melingkupi orang tersebut. Sistem panggilan dan sistem sikap ada kalanya tidak saling berhubungan, di mana banyak contoh memberikan gambaran betapa daftar istilah kekerabatan tidak merefleksikan secara tepat daftar sikap kekerabatan, demikian pula sebaliknya.
 
Dalam paparannya yang maha njelimet ini, Lévi-Strauss memberikan lima contoh hubungan kekerabatan: Tchkesse yang patrilineal, Trobriand yang matrilineal, Tonga yang patrilineal, Siuai yang matrilineal, dan Danau Kubutu yang patrilineal. Dalam bagan hubungan kekerabatan, avunculat (si paman) harus diperlakukan sebagai sebuah hubungan internal dengan suatu sistem, dan sistem tersebut harus dipertimbangkan secara menyeluruh agar dapat dipahami strukturnya. Struktur itu sendiri terbangun dari empat istilah, yakni saudara laki-laki, saudara perempuan, ayah dan putra. Keempat istilah ini membangun hubungan yang acapkali opsisi secara korelatif, da sebagaimana hubungan dari dua generasi yang fluktuatif, akan selalu muncul hubungan yang positif dan negatif.
 
Agar sebuah struktur kekerabatan dapat terus berlangsung, diperlukan tiga tipe hubungan yang selalu berkait dalam kehidupan manusia, yakni tiga tipe hubungan yang berlandaskan sanguin, aliansi, dan filiasi. Sanguin adalah hubungan darah antara germain (saudara kandung laki-laki, seayah dan seibu) dan germaine (saudara kandung perempuan, seayah dan seibu), aliansi adalah hubungan pernikahan antara satu orang laki-laki dengan perempuan atau sebaliknya, sedangkan filiasi adalah hubungan antara orangtua dengan anak-anaknya.
 
Secara khusus Lévi-Strauss menjelaskan mengenai tabu inses. Dalam pandangan Lévi-Strauss, karakter kekerabatan yang paling primitif sekalipun tidak menghendaki adanya inses. Aliansi harus terbangun antara laki-laki yang secara khusus menerima perempuan dari laki-laki lain, baik itu anak perempuannya maupun saudara perempuannya. Pada dasarnya kekerabatan bukan lah fenomena yang statis. Kekerabatan dapat eksis manakala dilestarikan, dan pelestarian ini tekait erat dengan pemeliharaan struktur-struktur kekerabatan. Di sisi yang lain, sistem kekerabatan tidak memiliki kepentingan yang sama pada semua kebudayaan, namun hanya pada masyarakat tertentu sistem kekerabatan ini memberi prinsip aktif yang mengatur seluruh hubungan sosial, atau pada sebagian besar dalam hubungan tersebut. Dalam sistem kekerabatan dikenal empat ekspresi sikap, yakni hubungan timbal-balik mutualitas (ditandai dengan simbol =), resiprositas (ditandai dengan simbol ±), hak (ditandai dengan simbol +) dan kewajiban (ditandai dengan simbol -). Dalam banyak kesempatan, hubungan antara dua individu sering terekspresikan melalui beberapa sikap sekaligus.
 
Pandangan Lévi-Strauss pada dasarnya merefleksikan ketertarikan pribadi Lévi-Strauss terhadap bahasa atau linguistik. Dalam pandangannya, Lévi-Strauss menjelaskan bahwa pada awalnya kita umumnya memperlakukan bahasa sebagai produk kebudayaan, karena bahasa yang dipergunakan dalam suatu masyarakat merefleksikan kebudayaan masyarakat itu sendiri. Contoh paling konkret dari pendapat Lévi-Strauss mengenai linguistik dan antropologi dapat dilihat pada bagaimana Lévi-Strauss menjelaskan mengenai hubungan kekerabatan, mitologi, dan kaitannya dengan linguistik.
 
 
III
 
Salah satu prinsip penting dalam analisis struktural adalah melihat sesuatu dalam konteks yang lebih luas. Jika saya tidak salah dalam membaca, yakni dalam konteks sintagmatis dan paradigmatis. Jika melihat struktur linguistik yang terdiri atas fonem, fonem tidak lah dilihat sebagai entitas yang berdiri sendiri, namun harus dilihat dengan relasinya dengan fonem lain yang membentuk struktur kata. Sebagaimana posisi fonem, maka demikian pula posisi sebuah fenomena sosial. Sebuah fenomena sosial tidak memiliki arti jika diliihat secara partikular an sic. Fenomena sosial harus dilihat pada konteksnya dan dilihat secara luas. Misalnya pada larangan untuk melakukan inses. Larangan untuk melakukan inses harus dilihat pada konteksnya dan dilihat secara luas. Dari sudut pandang tertentu larangan inses merupakan larangan untuk menikah dengan perempuan dari “kategori tertentu” yang kemudian menghasilkan “lingkaran-lingkaran” sosial yang setiap individu di dalamnya tidak dapat saling kawin-mawin. Kondisi ini mendorong setiap individu yang ingin menikah untuk keluar dari “lingkaran” tersebut. Eksogami di satu sisi dapat dilihat sebagai struktur yang membentuk internal masyarakat, di sisi yang lain adalah cara untuk membangun aliansi antarkelompok.
 
Dalam pandangan Lévi-Strauss, perkawinan adalah satu bentuk proses komunikasi yang memungkinkan terjadinya aliansi. Komunikasi antarkelompok kekerabatan berlangsung melalui wahana pertukaran perempuan melalui aktivitas saling kawin-mawin. Bagi Lévi-Strauss komunikasi dalam masyarakat manusia berlangsung melalui perantaraan kata-kata, barang, dan perempuan. Dalam hal ini perkawinan bukan lah relasi antartanda, melainkan relasi antarkelompok melalui sistem tanda yang khusus: perempuan.
 
Contoh lain yang juga menggunakan analisis struktural, yang meminjam analisis dari linguistik ketika ia menjelaskan mengenai mite. Mite atau dongeng dilihatnya sebagaimana fenomena bahasa. Bahasa, Lévi-Strauss sangat terpengaruh oleh pandangan Saussure, merupakan sistem simbol yang digunakan untuk menyampaikan pesan-pesan. Lévi-Strauss, sebagaimana Saussure, memandang bahasa memiliki dua aspek, langue dan parole. Lévi-Strauss melihat mite memiliki dua aspek tersebut. Aspek langue dari suatu bahasa tidak lain adalah aspek strukturnya. Langue melihat bahasa sebagai sebuah sistem yang memiliki struktur yang relatif tetap, yakni tidak terpengaruh pada individu yang menggunakannya. Sedangkan aspek paroleadalah aspek di mana bahasa tersebut dipergunakan sehari-hari oleh para penuturnya.
 
Mite hanya dapat dimengerti manakala kita melihat mite tidak hanya sebagai metafor bahasa. Dalam pandangan Lévi-Strauss, mite merupakan fenomena yang berbeda dengan bahasa, walaupun masih tetap mengandung sifat-sifat bahasanya. Dengan mengungkap perbedaan (dan persamaan) antara mite dengan bahasa, maka Lévi-Strauss mengemukakan dua hipotesa kerja yang penting untuk melakukan analisis struktural terhadap mite, yaitu: (1) mite, sebagaimana bahasa, terbangun dari satuan-satuan tertentu (seperti halnya linguistik yang terdiri atas fonem dan morfem), (2) unit-unit dari mite berada pada tatanan yang lebih tinggi dan lebih kompleks, di mana tatanan ini disebutnya sebagai mytheme.
 
Saya sendiri harus membatasi diri untuk tidak terlalu jauh membahas mengenai aspek linguistik languedan parole, dan utamanya saya menahan diri untuk tidak membincangkan mengenai totem. Begitu luasnya cakupan pembahasan Lévi-Strauss agaknya membuat pembaca amatir seperti saya cukup terengah-engah. Meskipun demikian, Lévi-Strauss nampaknya tidak ingin membuatnya lebih mudah, setidaknya bagi saya.
 
 
IV
 
Lalu apa itu antropologi? Sampai di mana cakupan antropologi? Lévi-Strauss nampaknya mencoba menjelaskan dengan cukup padat mengenai dua hal di atas. Secara sadar agaknya Lévi-Strauss mencoba untuk tidak memberikan definisi pasti mengenai apa itu antropologi atau sampai di mana cakupan antropologi. Dalam apa yang pahami, Lévi-Strauss lebih tertarik untuk merefleksikan apa yang telah ia lakukan, dan bagaimana linguistik mampu memberikan kesempatan baru bagi para antropolog untuk melihat dunia yang ingin dilihatnya.
 
Dalam pandangannya, Lévi-Strauss secara sengaja menyampaikan bahwa antropologi sosial tidak dapat dilepaskan dari realita, dan memang antropologi tidak memiliki niat ke arah itu. Bagi Lévi-Strauss adalah tidak mungkin mempelajari tuhan (atau dewa-dewa) jika mengabaikan gambaran keberadaan mereka atau mempelajari aturan sosial tanpa memperhatikan keterkaitannya dengan masyarakat. Bagi Lévi-Strauss, manusia secara khusus berkomunikasi melalui seperangkat simbol dan tanda, dan bagi antropologi pemahaman atas simbol dan tanda tersebut dapat menjadi pangkal bagi pengetahuan atas komunikasi tersebut.
 
Bagi Lévi-Strauss, dengan adanya perbedaan dalam objek kajian dan teknik, konsepsi kita mengenai antropologi membawa kita menjauh dari Radcliffe-Brown dan ambisinya. Dalam pandangan Lévi-Strauss, antropologi tidak dapat berjalan sebagaimana yang diinginkan Radcliffe-Brown, yakni menjadi pengetahuan yang induktif, dengan memanfaatkan observasi fakta, memformulasikan hipotesa yang dapat dipergunakan untuk eksperimentasi, untuk kemudian menemukan hukum umum dari alam dan masyarakat. Beberapa antropolog saat ini, dianggap Lévi-Strauss, lebih moderat, tidak dengan melakukan generalisasi, namun lebih pada melihat perbedaan (yang seringkali taksonomis), menjelaskan perbedaan tersebut, dan menemukan korelasi di antara perbedaan-perbedaan tersebut.
 
Dalam pandangan Lévi-Strauss, cakupan antropologi berjalan seiring dengan perkembangan masyarakat, sebab fakta sosial yang dipelajari sepenuhnya termanifestasi dalam masyarakat, dan masyarakat itu sendiri terus berkembang. Sebagaimana telah disadari selama beberapa dekade, hilangnya masyarakat ‘terasing’ telah mengubah wajah investigasi etnografis, tidak lagi pada kalangan masyarakat terasing, namun pada diri kita sendiri. Hal ini membawa tantangan baru untuk dijawab, setidaknya oleh para ahli antropologi.
 
________________________________________
[1] Fonem merupakan unit bahasa terkecil yang tidak mengandung makna namun menjadi wahana yang turut menentukan makna. Ahimsa-Putra pernah memberikan contoh antara ‘kutuk’ dengan ‘khutuk’. Kutuk adalah jenis ikan yang hidup di sungai, maka kuthuk adalah anak ayam. Sama halnya seperti gender dengan génder. Gender adalah istilah yang merujuk pada jenis kelamin sosial, sedangkan génder adalah salah satu instrumen dalam karawitan. Meskipun hanya berbeda [k] dengan [kh] atau [e] dengan [é], secara fonemik hanya berbeda sedikit, namun maknanya berbeda. Fonem sendiri tidak lah bermakna jika hanya dilihat sebagai satuan yang terpisah-pisah. Ia hanya bermakna manakala dilihat sebagai satu kesatuan bentuk yang membentuk kata
 

Jadwal Salat