• umamnoer.com
  • 50 tahun Attaqwa Putri

bacaan hari ini: the anthropological lens – J.L. Peacock

on . Posted in Catatan Tepi

Membaca tulisan dari Peacock, mau tidak mau, saya tersenyum. Tugas seorang antropolog itu unik, bahkan keunikan ini muncul akibat ketidaktahuan orang mengenai apa itu antropologi itu sendiri. Saya ingat betapa banyak orang salah paham ketika saya mengatakan bahwa saya mengambil jurusan antropologi. Bagi teman-teman saya, antropologi diasosiasikan dengan arkeologi bahkan astronomi. Hal yang sama juga dikatakan oleh Peacock, yang menganalogikan pekerjaan antropolog bak Indiana Jones. Di mana letak persamaannya? Setidaknya hal ini dapat dilihat dengan perjalanan yang dilakukan oleh seorang antropolog.

 

Pencarian data yang dilakukan oleh seorang antropolog acapkali membawa antropolog untuk melakukan perjalanan. Perjalanan yang dilakukan pun bukan lah sembarang perjalanan. Berbeda halnya dengan perjalanan sebagai sebuah aktivitas rekreasi yang bersifat temporal, perjalanan yang dilakukan antropolog adalah sebuah perpindahan. Pindah di sini, sebagaimana yang diceritakan dilakukan oleh Zhivago, adalah perpindahan ke tempat baru, di mana seseorang, dalam satu tempat dan satu waktu, tinggal dan berinteraksi. Beberapa orang memilih untuk keluar dari kenyamanan dengan mengikuti petualangan yang paling menegangkan, dan beberapa orang akan tetap memilih berada di jalur aman.
 
Kegiatan penelitian lapangan yang dilakukan oleh antropolog pada dasarnya terdiri atas tiga tahap: pengalaman, pembentukan identitas di wilayah baru, dan interpretasi. Apa yang terjadi pada Geertz misalnya, bagaimana ia mengikuti kegiatan sabung ayam illegal dan kemudian harus lari ketika dikejar oleh polisi. Setiap orang, tentunya yang mengetahui kejadian tersebut, membuat karikatur atas kejadian tersebut. Apa yang dilakukan oleh Geertz pada dasarnya adalah upaya, yang disadari atau tidak, membuat Geertz akhirnya memiliki posisi di masyarakat Bali. Pembentukan identitas membawa pada langkah selanjutnya: interpretasi.
 
Tiga langkah ini, pengalaman, pembentukan identitas, dan interpretasi merupakan kombinasi dari subjektivitas dan objektivitas, petualangan dan kerja, romantisisme dan pragmatism. Hal-hal ini lah yang dikenal dengan observasi partisipasi yang tidak lain adalah inti dari antropologi. Peneliti etnografi, atau etnografer, datang ke suatu wilayah untuk tinggal. Berbeda dengan para pengelana yang tinggal di suatu wilayah dengan atau tanpa tujuan, seorang etnografer harus berada di wilayah tersebut, mencatat setiap hal, mendeskripsikan, menganalisa, dan dalam derajat tertentu memformulasikan, semampu yang ia dapat, mengenai kebudayaan. Kegiatan lapangan acapkali juga dapat dilihat sebagai sebuah kelahiran kembali, setidaknya Peacock mempercayai hal tersebut. Pengalaman berada di lapangan dapat, secara radikal, mentransformasikan diri; membawa diri etnografer pada tingkat baru maturitas (kematangan).
 
Partisipasi dan observasi kadangkala membawa implikasi yang benar-benar lain: menjadi penduduk asli (to go native). Peacock memberikan contoh mengenai beberapa beberapa antropolog yang tenggelam terlalu dalam dan menjadi penduduk asli. Dalam pandangan Peacock, tugas seorang antropolog bukan lah untuk merasakan atau bahkan bergabung dengan masyarakat yang diteliti, namun untuk menganalisa dan memahami dengan lebih baik, dan untuk mencapai hal tersebut, partisipan harus tetap menjadi pengamat. Dalam beberapa hal, penelitian lapangan dapat menjadi hal yang sangat sulit. Dalam beberapa hal yang lain, penelitian lapangan pun memiliki kaitan dengan banyak aspek. Sebut saja mengeksplorasi, ekskavasi, sejarah, cerita rakyat, literatur, jurnalisme, mata-mata, psikoanalisis, dan lain sebagainya.
 
Persoalan lain dalam penelitian lapangan adalah deskripsi dan interpretasi. Beberapa orang membedakan dua aspek dalam penelitian etnografi: data dan makna di balik data tersebut. Dalam banyak kesempatan, penelitian etnografi bahkan dianggap terlalu sederhana, yakni hanya sebatas pengumpulan data. Bagi Peacock, pikiran peneliti bukan lah keranjang atau buket, namun lebih merupakan senter, di mana melalui pikirannya lah peneliti melakukan seleksi atas apa yang ia kumpulkan. Beberapa berpikir bahwa pengumpulan data dan interpretasi adalah dua hal berbeda yang dilakukan secara berbeda pula. Faktanya adalah, dalam penelitian lapangan, pengumpulan data dan interprtasi data dilakukan secara bersamaan.
 
Penelitian etnografi sendiri melibatkan banyak sisi. Di satu sisi, penelitian lapangan berkaitan erat dengan kelompok yang khusus dan usaha untuk mempelajari kelompok tersebut. Di sisi yang berbeda, penelitian antropologi membawa suara pada generalisasi yang bersifat global. Hal ini misalnya dapat dilihat dari beberapa penelitian yang dilakukan di berbagai belahan dunia, antropolog dapat membuat klaim bahwa beberapa pola yang ditemukan itu bersifat universal. Beberapa penelitian tidak hanya mencari persamaan, namun juga perbedaan, dan bagaimana perbedaan tersebut berhubungan dengan yang lain. Aspek-aspek ini membawa penelitian antropologi pada usaha-usaha yang berlainan, tentu saja dengan kaitan dan pendekatan yang berbeda pula. Sebut saja pendekatan fungsionalisme yang mencoba melihat fungsi dari sebuah kelompok sebagai sistem yang saling fungsi dan bekerja untuk fungsi itu sendiri. Demikian pula konfigurasionalisme, studi kasus, atau analisis simbolik. Lebih jauh, sebuah penelitian etnografi pada dasarnya dilakukan dengan datang dan menetap di sebuah wilayah, mempelajari wilayah tersebut, menjelaskan sekaligus menginterpretasi wilayah tersebut berdasarkan apa yang telah ia pelajari, dan membuat generalisasi dari keberadaan manusia berdasarkan temuan dan berbagai data etnografis lainnya. Penelitian lapangan menuntun pada etnografi, dan berdasarkan penelitian lapangan lah etnografi dapat dilihat sebagai cara melakukan generalisasi mengenai manusia itu sendiri.
 

 

 

 

 

Jadwal Salat