• umamnoer.com
  • 50 tahun Attaqwa Putri

bacaan hari ini: the domain of methodology and science and anthropology – Pelto and Pelto

on . Posted in Catatan Tepi

Membaca tulisan Pelto dan Pelto, saya kembali teringat ketika kali pertama mempelajari metode penelitian dengan lebih serius. Dosen saya waktu itu bertanya, apa tujuan utama dari sebuah penelitian? Seingat saya, bahkan ketika saya lulus pun dosen tersebut belum memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut.

Pelto dan Pelto agaknya memberikan sedikit gambaran bagi saya untuk menemukan, setidaknya bagi saya sendiri, atas pertanyaan tersebut. Pelto dan Pelto mengajukan sebuah pertanyaan sederhana, “how we can find “true and useful information” about a particular domain of phenomena in our universe?”. Pelto dan Pelto menjelaskan, bahwa pertanyaan ini membawa dua persoalan yang saling berkaitan. Pertama, bagaimana kita dapat melacak berbagai fenomena dalam rangka untuk mendapatkan kebenaran dan informasi yang berguna; dan kedua, bagaimana kita mengetahui bahwa seseorang, atau peneliti, mengajuka proposisi mengenai informasi dan bagaimana kita, sebagai pembaca, dapat menilai apakah kita akan mempercayai mereka atau tidak. Masalah yang pertama membawa kita pada penggunaan teknik dan kondisi yang membantu kita dalam mengeksplorasi dunia fenomena di sekitar kita. Persoalan ini membawa implikasi yang lebih luas manakala kita mencoba melakukan sebuah penelitian tentang manusia.
 
Pada umumnya, data primer yang dipergunakan dalam sebuah penelitian sosial berasal dari tiga sumber: (1) pengamatan perilaku manusia secara langsung, (2) mendengarkan dan mencatat isi pembicaraan, dan (3) menguji hasil-hasil dari perilaku manusia. Jika melihat sepintas, rasanya tidak sulit untuk mendapatkan data dalam sebuah penelitian sosial. Namun persoalannya tentu saja tidak lah semudah membalik telapak tangan. Menarik melihat contoh yang diberikan oleh Pelto dan Pelto, jika seorang amatir diberikan mikroskop, maka ia tidak dapat memperoleh hasil apapun meskipun dengan instrumen yang paling mutakhir sekalipun. Demikian pula dengan penelitian sosial.
 
Jika dilakukan oleh orang yang benar-benar awam, dan benar-benar amatir, maka sebuah penelitian sosial tentu tidak dapat dilaksanakan. Menurut Pelto dan Pelto, agar sebuah penelitian dapat berjalan dengan baik, sekurangnya diperlukan seperangkat aturan prosedural untuk mengubah bukti, atau apa yang kita pikir bukti, menjadi generalisasi atas fenomena tersebut. Seperangkat aturan prosedural tersebut lebih kita kenal dengan nama metodologi.
 
Secara sederhana metodologi dapat dibedakan dengan teknik penelitian. Metodologi mempersyaratkan penggunaan logika (logic-in-use) dalam teknik pengamatan, penggunaan data, dan menghubungkan data-data ini dengan proposisi teoritis. Metodologi sendiri memiliki sejumlah elemen penting, seperti konsep dan definisi, preposisi, teori dan hipotesa, dan model.
 
Pelto dan Pelto memberikan penekanan yang lebih pada penggunaan definisi yang lebih berguna. Pada dasarnya setiap konsep, senyata apapun penampakannya, mengimplikasikan tipologi atau kategorisasi dari domain konseptual di mana konsep tersebut berasal. Persoalannya lebih terletak pada definisi atas konsep tersebut. Setiap orang sangat mungkin memiliki definisi yang berbeda atas konsep yang sama. Orang yang berbeda menggunakan istilah yang berbeda dengan cara dan konteks yang berbeda pula, dan hal ini seringkali dipengaruhi oleh penilaian yang ada dalam diri mereka. Lalu apa hubungannya dengan antropologi?
 
Menarik untuk dikaji apa yang diungkapkan oleh Pelto dan Pelto. Bagi sebagian orang, antropologi dan ilmu sosial lainnya tidak dimasukkan dalam kategori ilmu pengetahuan. Hal ini disebabkan kesulitan bagi antropologi dan ilmu sosial lainnya untuk melakukan pengamatan atau eksperimentasi yang terkendali penuh. Hal ini, menurut Pelto dan Pelto, tidak perlu terjadi, mengingat betapa geologi maupun astronomi pun tidak dapat melakukan eksperimentasi yang terkendali penuh atas objek kajian mereka. Lalu apa kita maksud dengan ilmu pengetahuan (science)?
 
Agaknya sangat sulit menemukan definisi yang sangat jelas mengenai apa itu ilmu pengetahuan. Pelto dan Pelto sendiri menyarankan agar ilmu pengetahuan tidak lah difenisikan dengan sempit, namun harus pula mencakup sejumlah besar komponen dari pencarian data, spekulasi, dan penemuan kembali, tentu saja dengan mempertimbangkan posisi institusi atau organisasi yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan.
 
Pelto dan Pelto sendiri mengambil sebuah posisi, bahwa antropologi dapat dikategorikan sebagai ilmu pengetahuan karena menagndung akumulasi dari pengetahuan yang tersusun secara sistematis dan reliable, dibawa dengan pengamatan empiris, dan diinterpretasikan dengan menghubungan konsep yang dipergunakan dengan pengamatan empiris. Meskipun dibekali sejumlah aturan metodologis, kontroversi seringkali muncul dalam kajian antropologi. Salah satu kontroversi yang mencuat adalah perdebatan yang muncul dari hasil penelitian Redfield dengan penelitian Lewis. Apa yang terjadi dalam kajian Lewis-Redfielddapat dikatakan terletak pada masalah metodologi.
 
Antropologi sejak awal menapaki diri sebagai sebuah ilmu yang mempelajari manusia. Dalam tradisi ini, antropologi mencoba, semaksimal yang dimungkinkan, untuk menjelaskan tentang manusia secara objektif. Pelto dan Pelto menggarisbawahi hal yang sama. Menurut mereka, setiap orang yang terlibat dalam penelitian antropologi, atau barangkali antropolog sendiri, harus mengembangkan cara–cara atau metode riset yang melindungi mereka dari subjektifitas dan penilaian nilai. Menurut pandangannya, pelatihan metodologi dapat menjadi cara meminimalkan bias personal dari peneliti. Dalam hal ini saya setuju dengan Pelto dan Pelto. Melalui penggunaan metodologi yang tepat guna, antropologi diharapkan tetap mampu menjejak sebagai ilmu pengetahuan yang dengannya kita dapat mengerti manusia dan dunianya dengan lebih baik.
 

 

 

 

 

Jadwal Salat