• umamnoer.com
  • 50 tahun Attaqwa Putri

bacaan hari ini: the human adaptation for culture – M. Tomasello

on . Posted in Catatan Tepi

Kisah ini adalah lanjutan dari cerita saya dalam review buku Geertz. Kisah tentang secangkir teh yang membentuk diri saya saat ini, namun lebih pada adaptasi saya terhadap kebudayaan minum teh. Dalam tulisannya, Tomasello, dengan sangat meyakinkan, mengatakan bahwa manusia (human beings) secara biologis beradaptasi dengan kebudayaan, dengan cara yang tidak dilalui oleh primata lainnya. Bagi Tomasello, bukti paling kuat dari argumen tersebut adalah bahwa hanya manusia yang memiliki akumulasi dari modifikasi kebudayaan sepanjang rentang waktu kehidupan. Dalam bahasa yang lebih sederhana, Tomasello mencoba menjelaskan bahwa manusia adalah satu-satunya spesies di bumi yang memiliki kemampuan beradaptasi sekaligus memodifikasi kebudayaan yang mereka miliki untuk menunjang kehidupan mereka.

 
Dalam pandangan Tomasello, apa yang kita miliki saat ini sebagai manusia modern tidak terlepas dari adaptasi yang kita lakukan. Manusia tidak lain adalah hasil dari dua kolaborasi yang luar biasa, antara evolusi biologis dan evolusi kultural. Evolusi biologis dapat dilihat dengan perkembangan fisik, dan telah berlangsung sejak masa prasejarah. Evolusi kultural lebih sulit terdeteksi, sebab pembelajaran kebudayaan telah dilakukan sejak seseorang menginjak usia pertama dalam kehidupannya.
 
Tomasello percaya, bahwa pembelajaran kebudayaan yang berlangsung dalam usia yang sangat dini, berlangsung melalui proses imitasi. Proses pembelajaran imitasi (imitative learning) dianggap sebagai salah satu proses utama yang menjadi pedoman dalam adaptasi manusia terhadap kebudayaan yang mereka miliki. Proses imitasi yang diberlangsungkan sejak masa kanak-kanak akan sangat berpengaruh pada kognisi manusia. Dalam konteks yang lebih luas, Tomasello memberikan porsi yang cukup besar terhadap perbincangan mengenai kognisi manusia.
 
Kembali ke soal teh dan kopi. Membaca tulisan Tomasello, saya semakin yakin, bahwa kantuk adalah gejala budaya ketimbang gejala fisiologis. Kakak saya memiliki seorang anak yang berusia dua tahun. Sejak berusia satu tahun, setiap pukul 21.00 kakak saya selalu mengajaknya untuk masuk kamar dan tidur, dan dia berhasil. Saat ini setiap menjelang pukul 21.00, keponakan saya selalu menunjukkan tanda-tanda mengantuk. Saya mulai bertanya, apakah kantuk yang menyerang keponakan saya murni karena alasan fisiologis atau kah adaptasi manusia (yang berpengaruh pada fisiologis) sehingga ia selalu merasa mengantuk menjelang pukul 21.00? Lalu mengapa hal yang sama tidak terjadi pada keponakan saya yang lain? Atau bahkan pada diri saya sendiri.
 
Jika merujuk pada Tomasello, apa yang dialami oleh keponakan saya boleh jadi adalah hasil adaptasi kultral yang berpengaruh pada adaptasi fisiologis. Sama seperti yang saya alami. Saya “beriman” kepada teh jauh melebihi “keimanan” saya terhadap kopi. Dan sebagaimana telah saya jelaskan, hal ini semata-mata adalah faktor pembelajaran kebudayaan yang berpengaruh pada kognisi saya.
 
Kognisi saya menolak “beriman” pada kopi sebab sejak kecil saya telah diajarkan untuk lebih percaya pada keajaiban teh ketimbang kopi. Dibesarkan dalam keluarga yang mencintai teh, saya percaya bahwa keponakan saya pun akan memiliki keyakinan yang sama terhadap teh ketimbang kopi. Keyakinan saya terhadap teh, jika mengikuti kerangka berpikir Tomasello, dimulai melalui proses imitasi yang saya lakukan sejak kecil. Sejak kecil saya sering melihat kedua orangtua dan lingkungan sosial saya meminum teh, jauh lebih sering ketimbang kopi. Akibatnya saya mulai meniru perilaku tersebut dan menjadikannya sebagai perilaku saya. Dalam hal ini, imitasi yang saya lakukan tidak lebih dari proses pembelajaran kebudayaan, dan saya pun beradaptasi dengan kebudayaan yang saya pelajari.
 
Saya mulai mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan teh secara lebih serius. Misalnya bagaimana cara yang tepat menikmati teh, kapan saat yang tepat untuk menikmati teh, dan bagaimana teh, atau lebih tepatnya kafein dalam teh, dapat lebih berpengaruh pada diri saya ketimbang kopi. Adaptasi yang saya lakukan pada dasarnya sama seperti berbagai pembelajaran kebudayaan yang dialami oleh setiap orang. Berbagai kegiatan seperti kehidupan sosial, komunikasi non-verbal, dan lain sebagainya, muncul melalui serangkaian proses panjang, dan dalam proses tersebut, kita sebagai manusia, beradaptasi dengan kebudayaan yang kita pelajari.
 
Tomasello memang memberikan contoh yang luar biasa kaya, namun satu hal yang dapat saya tangkap dengan mudah, bahwa adaptasi manusia terhadap kebudayaan mampu membuat manusia bertahan melalui rentang waktu yang panjang. Melalui adaptasi itu pula saya mampu bertahan untuk tetap terjaga dan menulis rangkuman tulisannya sekaligus memikirkan pengaruh pemikiran, baik Geertz maupun Tomasello terhadap diri saya, tentu saja usaha ini dibantu oleh secangkir teh hijau yang mampu membuat saya terjaga.
 

 

 

 

Jadwal Salat