• umamnoer.com
  • 50 tahun Attaqwa Putri

bacaan hari ini: the impact of the concept of culture on the concept of man – C. Geertz

on . Posted in Catatan Tepi

Seorang teman pernah bertanya, dengan mimik serius, “apa yang kita maksud dengan manusia?”, “berdasarkan kriteria apa seseorang dapat dikatakan sebagai manusia?”, dan “apa yang membedakan satu ‘manusia’ dengan ‘manusia’ lainnya?”. Terus terang saja, mengingat teman saya ini sangat senang bertanya hal yang sangat filosofis, saya cenderung mendiamkan pertanyaan tersebut dengan bengong dengan tatapan mata hampa (maksudnya saya tidak tahu mau menjawab apa), dan membiarkan teman saya berkicau sendiri dengan pikirannya.
 
Geertz, dalam tulisan yang bagi saya cukup membingungkan, pada dasarnya menanyakan hal yang sama, walaupun dengan variasi yang berbeda. Di mulai dengan cuplikan pandangan dari masa pencerahan, hingga berakhir pada kutipan, terlihat seperti prosa dari Hawthorne. Meskipun dimulai dengan sedikit kebingungan, dan berakhir dengan sedikit pencerahan, saya menyadari sepenuhnya, bahwa pemahaman saya terhadap konsep Geertz tidak lebih dari pemahaman saya terhadap bagaimana kebudayaan membentuk diri saya.
 
Ketika saya membaca tulisan Geertz dan membuat tulisan ini, waktu menunjukkan tepat pukul 00.00, dan saya menyadari bahwa saya mengantuk. Rasa kantuk, secara lama telah dianggap sebagai gejala fisiologis, namun saya sendiri menganggap bahwa kantuk tidak lebih dari gejala kultural, sebab kita secara kultural sedang beristirahat pada jam tersebut. Akibatnya ketika saya mengantuk, orang-orang di sekitar saya menyarankan untuk minum kopi, karena kopi secara kultural dianggap sebagai solusi sederhana mengatasi kantuk. Saya menyadari, bahwa kebudayaan mempengaruhi kita sebagai individu. Hal ini dapat dilihat dengan saran yang begitu menggelikan yang diberikan oleh teman-teman saya untuk “menghalau” kantuk. Jika kantuk kita anggap sebagai gejala fisik, bagaimana mungkin kita begitu percaya pada pengaruh kopi untuk menghalau gejala tersebut.
 
Kopi dengan demikian telah menjadi, mengutip istilah yang digunakan Geertzconsensus gentium, untuk menghindari kantuk. Sebagaimana yang ditulis oleh Geertz, bahwa consensus gentium mengenai adanya pola kebudayaan universal telah gagal menjelaskan mengenai manusia, maka consensus gentium mengenai kopi juga telah gagal mewujud dalam diri saya. Saya dibesarkan dalam lingkungan budaya yang tidak terlalu menyukai kopi. Lingkungan budaya saya pun mengajarkan hal yang sama: bahwa teh lebih sering digunakan ketimbang kopi, akibatnya saya lebih memilih teh ketimbang kopi.
 
Jika Geertz berargumen bahwa “agama” atau “perkawinan” tidak dapat dianggap sebagai sesuatu yang empiris karena tidak memiliki isi yang sama, maka saya sendiri mengimani bahwa kopi memiliki efek yang tidak sama bagi setiap orang. Bagi sebagian orang kopi barangkali sangat membantu mengusir kantuk, tapi tidak dengan saya. Kopi justru membuat beban kelopak mata menjadi semakin berat. Teh menjadi jawaban atas masalah saya, sebab lagi-lagi kondisi kebudayaan saya telah membentuk diri saya saat ini.
 
Saya percaya, sebagaimana yang Geertz percaya, bahwa tidak mungkin membuat sebuah generalisasi yang menjelaskan tentang manusia. Manusia, ketika saya belajar di pesantren, dianggap sebagai hayawan an natiq, atau hewan yang berbicara. Geertz sendiri percaya bahwa manusia tidak lebih dari hewan yang paling beraneka ragam. Saya percaya, bahwa manusia adalah hewan yang paling tidak mudah dijelaskan.
 
Secara khusus Geertz mengajukan dua gagasan pokok: (1) kebudayaan paling baik dilihat bukan sebagai komplek pola-pola perilaku konkret, melainkan sebagai seperangkat aturan untuk mengatur tingkah-laku. (2) manusia persis seperti hewan yang bergantung mati-matian pada mekanisme kontrol di luar dirinya yang mengatur tingkah-lakunya. Saya percaya sebagaimana Geertz percaya bahwa kondisi fisik manusia telah mencapai satu titik seperti yang kita alami saat ini, namun kondisi budaya tidak selalu berjalan seiring dengan pertumbuhan fisik manusia. Dalam konteks yang lebih luas, kebudayaan merupakan inti dalam keberadaan manusia, dan keberadaan manusia sepenuhnya digantungkan pada unsur kebudayaan itu sendiri, atau dalam kata lain, tidak ada hakikat manusia yang tidak bergantung pada kebudayaan. Kebudayaan dengan demikian dilihat sebagai kata kunci untuk menjelaskan apa itu manusia. Setiap gagasan, tingkah-laku, bahkan emosi, tidak lain dari hasil-hasil kebudayaan, yakni hasil yang diciptakan.
 
Sekarang saya lebih menyadari, bahwa ketergantungan saya terhadap teh lebih karena faktor budaya ketimbang keinginan atau ‘hasrat’ saya sendiri. Dibesarkan dalam lingkungan yang sangat menhargai teh, saya menyadari sepenuhnya bahwa hidup saya disandarkan pada sebuah aturan tak tertulis mengani cara menikmati sekaligus menghargai teh. Sebagaimana orang Jepang yang menjadikan teh sebagai bagian integral dalam diri mereka, maka saya pun melakukan hal yang sama, menjadikan teh sebagai bagian integral dalam diri saya. Akibatnya jelas, teh telah menjadi bagian dari kebudayaan saya, atau dalam kata lain, teh, sedikit-banyak, sadar atau tidak sadar, telah membentuk diri saya saat ini. Konsekuensinya jelas, ketika saya telah menikmati secangkir teh hitam di tengah malam, di dalam kamar, dan di hadapan notebook, saya menuliskan kisah ini. Mengenai Geertz yang bicara sangat banyak soal konsep kebudayaan dan pengaruhnya terhadap konsep menusia, dan kisah ketergantungan saya terhadap teh. Akhirnya saya sampai pada satu kesimpulan, bahwa saya setuju dengan Geertz, bahwa kebudayaan lah yang membentuk kita sebagai satu spesies, dan kebudayaan pula yang membentuk kita sebagai individu yang terpisah. Sebagai catatan akhir, meskipun saya kurang menyukai kopi, saya percaya bahwa kopi telah membentuk individu lain sebagaimana teh telah membentuk diri saya, dan saya sangat menghormati perbedaan tersebut.
 

Jadwal Salat