• umamnoer.com
  • 50 tahun Attaqwa Putri

bacaan hari ini: the ritual process – Victor Turner

on . Posted in Catatan Tepi

I
 
Buku yang ditulis oleh Turner, bagi saya, adalah pembuktian keahlian Turner dalam melihat, memahami, dan menjelaskan ritual yang dilakukan oleh masyarakat di, entah di mana, di suatu tempat di Afrika. Turner meneliti mengenai orang Ndembu. Secara umum dapat saya katakan bahwa tulisan Turner bukan lah tulisan yang mudah dibaca. Selain karena, lagi-lagi menurut saya, Turner terlalu sibuk menguraikan secara sangat mendetail ritual Ndembu, sehingga membuat pikiran inti dari apa yang diinginkan Turner menjadi sangat terpencar. Adalah terlalu naif, tentu saja, dengan mengharap Turner dapat menuliskan apa yang ingin dia katakan secara jelas dalam beberapa paragraf singkat, namun setidaknya saya mencoba untuk mengambil beberapa pemikiran Turner yang saya anggap penting.
 
Turner memulai tulisannya dengan memberikan apresiasi pada Morgan. Bagi Turner, tulisan Morgan mengenai ritual memberikan dorongan baginya untuk meneliti topik yang kurang lebih sama. Dan saya rasa tidak lah berlebihan kiranya jika buku ini, barangkali, ditulis sebagai bentuk apresiasi Turner pada Morgan. Dalam bab satu buku ini membahas mengenai sangat mendetail mengenai ritual Isoma. Turner sendiri tidak lah langsung mendapatkan kesempatan untuk melihat ritual-ritual yang dilakukan oleh Ndembu. Turner secara khusus menyatakan bahwa orang Ndembu tidak melarang bagi orang asing untuk melihat ritual-ritual mereka sepanjang orang tersebut mampu menghormati kepercayaan mereka. Dalam pandangan Ndembu, ritual-ritual yang mereka jalankan seringkali berkaitan dengan krisis yang terjadi dalam kehidupan sosial mereka. Turner sendiri menengahi adanya hubungan yang dekat antara konflik sosial dan ritual dalam level desa dan kluster dalam desa, dan keserbaragaman dari situasi konflik yang berkorelasi dengan frekuensi pelaksanaan ritual.
 
Turner, dalam bab satu, membahas dengan sangat lengkap mengenai Isoma. Ritual Isoma atau lebih dikenal dengan ‘ritual perempuan’, merupakan subkelas dari ritual yang dikaitkan dengan roh para leluhur. Istilah khusus ritual bagi Ndembu adalah chidika atau perjanjian khusus. Ritual sendiri dilakukan manakala seseorang atau kelompok usaha gagal memenuhi kewajiban mereka. Ritual Isoma sendiri dilakukan karena ketidakberuntungan yang dialami oleh perempuan terkait dengan kapasitas reproduksi dirinya.
 
Orang Ndembu mempratikkan model kekerabatan matrilineal di satu sisi, dan mempraktikkan model virilokal di sisi lainnya. Kondisi ini menyebabkan seorang perempuan Ndembu yang menikah terjerat dalam arena kontestasi antara suami dan saudara laki-laki dari pihak ibu. Dalam kondisi lain, seorang perempuan yang menikah dan melahirkan, dalam jangka pendek atau panjang, akan membawa anak yang dilahirkannya untuk masuk dan berafiliasi dalam klan ibu (matrilineal). Konsekuensi lain dari model ini adalah bahwa masyarakat Ndembu mendasarkan keberlangsungan hidup mereka dari ketidakberlanjutan hubungan perkawinan. Hal ini disebabkan bahwa perempuan yang bercerai akan kembali ke kerabatnya dan membawa anak yang dilahirkannya. Berbeda halnya jika seorang perempuan menikah dan memiliki anak, dan bertempat tinggal bersama suaminya, namun tidak kembali ke kerabatnya, maka perempuan tersebut dianggap tidak memenuhi “tugasnya” untuk menjaga keberlangsungan kerabatnya. Seorang perempuan diharapkan berpartisipasi dalam menjaga keberlangsungan kerabatnya dengan menyumbangkan kemampuan fertilitas yang dia miliki agar dia tetap memiliki hubungan dengan para leluhurnya. Kegagalan dalam pemenuhan tugas ini menjadikan mereka sebagai orang yang “melupakan” asal-usul dan tujuannya, dan ritual Isoma memiliki peran khusus untuk mengingatkan kembali di mana harusnya dia meletakkan loyalitasnya.
 
Isoma juga berlangsung jika seorang perempuan memiliki “kegagalan” dalam reproduksi, baik itu melahirkan anak atau pun merawat kehamilan. Ritual ini dipimpin oleh seorang dokter atau chimbukiyang dianggap mengetahui mengenai pengobatan. Di sisi yang berbeda, setiap ritual yang dilakukan oleh Ndembu selalu melibatkan seperangkat simbol. Bagi Turner, orang Ndembu sangat menyadari fungsi ekspresif dari simbol dalam setiap ritual mereka, termasuk dalam Isoma. Pelaksanaan Isoma secara implisit memiliki tujuan untuk merestorasi hak dalam hubungan antara kekerabatan matrilineal dan perkawinan, merekonstruksi hubungan perkawinan antara suami dan istri, dan membuat hubungan antara perempuan, kekerabatannya dan perkawinannya, berhasil. Dalam istilah Ndembu, ritual ini membuang chisaku atau ketidakberuntungan atau penyakit yang ditimbulkan akibat membuat leluhur tidak senang atau melanggar tabu.
 
Turner menjelaskan, bahwa ritual Isoma sendiri terdiri atas satu set tiga serangkai yang tidak terpisah, yakni: witch, shade dan muweng’i (saya sengaja tidak menterjemahkan istilah ini), di mana tiga serangkai ini beroposisi binari dengan dokter, pasien, dan suami pasien. Pada serangkai pertama, witch adalah mediator antara yang mati dan yang hidup dalam permusuhan dan pertempuran, dan dokter adalah mediator antara yang mati dan yang hidup dalam perdamaian dan kehidupan. Turner menjelaskan mengenai struktur binari dalam ritual Isoma, seperti shade (naungan leluhur) yang dikonotasikan perempuan dan ikishi yang dikonotasikan laki-laki, pasien yang perempuan dan suami yang laki-laki, bahkan rasio 2:1 antara obat dingin dan obat panas yang menyimbolkan kemenangan kehidupan atas kematian. Oposisi binari lebih terlihat lagi pada penggunaan ayam jantan merah dan anak ayam betina putih. Bagi Turner, berbagai simbol yang dipergunakan oleh Ndembu pada dasarnya dibentuk oleh pengalaman hidup mereka. Simbol-simbol dan hubungannya dalam Isoma tidak hanya menggambarkan set pengetahuan kognitif mereka sebagai konfigurasi alam pengetahuan mereka, namun juga sebagai alat yang dipergunakan untuk menyalurkan emosi mereka. Dalam pandangan Turner, setiap benda-benda simbolik berkaitan dengan hal-hal empiris yang mereka alami.
 
II
 
Jika pada bab satu Turner menjelaskan dengan sangat lengkap mengenai Isoma, maka pada bab selanjutnya Turner mencoba menjelaskan kontradiksi pada anak kembar. Turner mencoba menjelaskan mengenai Wubwang’u. Ritual ini dilaksanakan untuk menguatkan perempuan yang dianggap akan memiliki dua anak kembar atau jika si anak tersebut telah lahir atau ampamba. Keberadaan anak kembar memang paradoks. Paradoks ini muncul manakala keberadaan anak kembar dilihat dalam pandangan orang Ndembu. Sebagaimana digambarkan sebelumnya, orang Ndembu memberikan porsi yang utama pada masalah fertilitas, di mana kita melihat keterkaitan antara fertilitas dengan fisiologi dengan kesulitan ekonomi. Dalam pandangan Turner, dalam masyarakat yang tidak berternak atau tidak memiliki gagasan bahwa biri-biri dan kambing dapat diambil susunya untuk konsumsi, maka akan sangat sulit bagi seorang perempuan untuk memiliki dua anak dan menyusui anak-anaknya. Seringkali keberlangsungan hidup anak tersebut bergantung pada belas kasihan orang lain, misalnya perempuan yang anaknya meninggal dan ia masih memiliki persediaan air susu.
 
Di sisi yang berbeda, ritual wubwang’u memiliki paradoks lain dalam keteraturan struktur sosial. Turner mengutip Schapera, yang menggambarkan fakta bahwa di mana pun kekerabatan secara struktural memegang posisi yang signifikan, terlebih jika menghasilkan kerangka hubungan korporasi dan status sosial, kelahiran anak kembar adalah sesuatu yang memalukan. Hal ini disebabkan adanya asumsi dasar bahwa manusia melahirkan hanya satu anak dalam satu waktu, dan hanya satu tempat yang tersedia dalam struktur sosial di mana anak tersebut dilahirkan. Hubungan saudara kandung adalah faktor penting lainnya. Dalam suatu struktur sosial, keberadaan kakak seringkali memiliki hak lebih ketimbang adik-adiknya, dan hal ini menjadi persoalan ketika lahir anak kembar, di mana secara fisik terdapat dua individu namun secara struktural hanya ada satu posisi yang disediakan, dan apa yang mistis satu namun secara empiris dua.
 
Ritual wubwang’u sebagaimana ritual-ritual lainnya, memegang posisi penting bagi diri perempuan. Ritual ini dilaksanakan bagi perempuan yang melahirkan anak kembar atau perempuan yang dianggap (atau diharapkan) memiliki anak kembar. Seluruh ritual Ndembu pada dasarnya memiliki keterkaitan dengan reproduksi perempuan, baik dalam aspek umum maupun spesifik. Dalam konteks ini, wubwang’udipeercaya memberikan keuntungan bagi perempuan yang dianggap menderita akibat kekacauan reproduksi. Sebagaimana Isoma, ritual wubwang’u juga memiliki opisisi binarinya tersendiri. Opisisi binari merah dan putih merepresentasikan kekuatan/kelemahan, nasib baik/nasib buruk, kesehatan/penyakit, maskulinitas/femininitas, dan lain sebagainya.
 
Lebih jauh Turner juga menjelaskan mengenai kontestasi antara jenis kelamin, di mana dalam pandangan Turner, bahwa ritual-ritual yang dilaksanakan memiliki referensi spesifik ke arah pembedaan divisi menjadi laki-laki dan perempuan, dan ke arah pembentukan hasrat seksual dengan penekanan pada perbedaan di antara mereka dalam bentuk perilaku antagonistik. Dalam ritual wubwang’u, orang Ndembu terobsesi dengan kontradiksi yang besar, dalam istilah Turner “the more the sexes stress their differences and mutual aggression, the more do they desire sxual congress (saya lagi-lagi sengaja tidak menterjemahkan)”.
 
Masalah dualisme ini memang menjadi perhatian Turner. Dualisme ini tidak hanya paradoks jika dikaitkan dengan keberadaan dan posisi anak kembar, namun banyak aspek dalam kehidupan orang Ndembu. Salah satu aspek mendasar dari dualisme ini dapat dilihat dari kompetisi dalam filiasi tempat tinggal, yakni antara kerabat matrilineal istri dengan virilokal-patrilokal. Bagi Turner, kompetisi ini dapat dilihat sebagai aspek krusial untuk melihat mengenai bagaimana orang Ndembu memposisikan anak kembar, dan juga bagaimana konsep yang mereka miliki mengenai dualitas, dalam artian bahwa dualisme itu dilihat bukan sebagai dua hal yang sama melainkan dua hal yang berbeda.
 
III
 
Ini adalah bagian tiga dari tulisan Turner. Berbeda dengan dua tulisan berikutnya yang secara detail membahas dengan sangat mendetail mengenai ritual dalam masyarakat Ndembu, bagian tiga (dan sisa bab lainnya) membahas aspek struktural yang dikaitkan dengan dua bab berikutnya. Secara khusus bab ini membahas mengenai liminalitas dan komunitas. Terus terang, tidak mudah menjelaskan perbedaan penerjemahan antara communitas dengan community, keduanya diterjemahkan sebagai ‘’komunitas’’ dalam bahasa Indonesia. Meskipun demikian, Turner membedakan antara communitas dan community, dalam pandangan Turner, jika saya tidak salah dalam memahami, community merujuk pada sebuah wilayah yang ditempati oleh masyarakat, dalam hal ini community adalah sebuah teritori. Maka dengan itu, saya tidak memaksudkan dengan menulis komunitas yang merujuk pada community, namun komunitas di sini merujuk pada communitas yang digunakan oleh Turner.
 
Liminalitas, merupakan konsep yang dipinjam dari van Gennep, secara sederhana dipergunakan untuk merujuk pada ritus peralihan atau rites de passage. Ritus peralihan sendiri terjadi untuk menandai sebuah perubahan atau peralihan tempat, keadaan, kedudukan sosial dan usia. Pelaksanaan ritus peralihan dilaksanakan dalam tiga fase, yaitu separasi (separation) atau pemisahan, margina atau peminggiran, dan agregasi. Pemisahan ditandai dengan terbentuknya perilaku simbolik yang menjadi penanda adanya keterpisahan individu (atau kelompok) dari posisi awalnya dalam struktur sosial. Margin adalah posisi antara, di mana individu (atau kelompok) tersebut belum dapat sepenuhnya melepaskan atributnya, sekaligus belum dapat sepenuhnya mencapai atributnya yang baru. Sedangkan agregasi ditandai dengan pembentukan kembali melalui pemberian atribut setelah proses pengukuhannya selesai.
 
Situasi liminal, dalam pandangan Turner, adalah situasi di mana semua orang memiliki kesetaraan dalam segala atribut yang ada. Secara khusus Turner membahas mengenai liminalitas terkait dengan kepala atau pemegang otoritas suatu wilayah. Ketika orang tersebut berada dalam proses liminal, maka dia tidak diposisikan sebagai kepala, namun memiliki posisi yang sama dan setara dengan masyarakat umum. Dalam kondisi ini, maka berbagai atribut yang dimiliki oleh kepala tidak lah sepenuhnya dipergunakan, sebab si kepala (atau calon kepala) sendiri berada dalam posisi liminal. Setelah proses liminal terjadi, maka si kepala akan menempati posisi yang memang tersedia untuk dirinya dan masuk ke dalam struktur masyarakat.
 
Dalam konteks yang lebih spesifik, liminalitas berfungsi untuk menarik orang yang berada di luar struktur untuk masuk ke dalam struktur, setelah terlebih dahulu mengalami berbagai kendala yang ada di masyarakat luas. Dalam istilah lain, liminalitas berperan untuk membawa orang untuk masuk ke dalam struktur setelah memahami terlebih dahulu berbagai persoalan yang ada di dalam struktur itu sendiri. Dalam konteks si kepala, proses liminal tersebut berlangsung dengan mengeluarkan si kepala dari struktur, menyamaratakan posisinya dengan masyarakat luas, dan kembali mendudukkannya ke dalam struktur. Dalam proses liminal ini lah di kepala diingatkan kembali mengenai tugas-tugas yang ia emban, sekaligus mengingatkan kembali mengenai kepentingan masyarakat umum yang harus ia pertimbangkan.
 
Secara khusus Turner membahas mengenai liminalitas yang dikaitkan dengan hal-hal yang bersifat magis dan dapat dilihat sebagai bahaya tersendiri. Dalam pandangan Turner, munculnya court jestermerupakan kondisi di luar struktur yang memiliki kemampuan berbahaya, yakni kemampuan untuk memper-tanyakan sekaligus menggugat struktur itu sendiri. Di sisi yang hampir bersamaan, posisi di luar struktur memungkinkan seseorang untuk memberi-kan jalan keluar manakala struktur itu sendiri mengalami stagnasi dan tidak dapat mencapai jalan keluar terbaik.
 
Liminalitas dan komunitas dalam pandangan Turner adalah cara yang dilakukan oleh masyarakat untuk menghilangkan paradoks yang ada dalam masyarakat. Liminalitas, sebagai kondisi, muncul akibat ketidakmampuan seseorang menentukan posisinya dalam struktur sosial sebagai konsekuensi dengan masuknya orang tersebut ke dalam struktur. Barangkali saya membayangkan, bahwa kondisi liminal ini terjadi manakala seseorang masuk, baik itu itu atas dasar keinginan sendiri maupun desakan orang-orang, ke dalam sebuah struktur, namun ia sendiri belum dapat secara pasti menentukan di mana posisi dirinya dalam struktur tersebut. Komunitas di sisi lain, merupakan kondisi di mana tidak terdapat struktur yang ditandai dengan adanya hubungan yang sama, setara dan spontan antara orang baru tersebut dengan masyarakat. Proses-proses ini dilihat sebagai sebuah peralihan, di mana kondisi liminal dan komunitas toh tidak mungkin berjalan sepanjang waktu, namun terdapat suatu kondisi di mana setelah proses-proses tersebut di lalui, maka individu yang baru tersebut dapat diterima secara penuh dan menempati posisi struktur dalam masyarakat.
 

 

 

 

Jadwal Salat