• umamnoer.com
  • 50 tahun Attaqwa Putri

bacaan hari ini: pathways of power, building an anthropology of the modern word – E.R. Wolf

on . Posted in Catatan Tepi

Saat ini saya sedang membaca buku dari Wolf, khususnya yang secara spesifik membahas mengenai kerja lapangan (fieldwork). Tulisan Wolf dimulai dengan kesadaran penuh mengenai kritik bertubi-tubi yang datang ke dalam disiplin antropologi, konsep kebudayaan, hingga kerja lapangan itu sendiri. Barangkali kita dapat mengandaikan, bahwa seorang antropolog pada dasarnya mencoba untuk mencatat berbagai kebiasaan yang ada pada manusia, dan dalam prosesnya mereka menemukan kebiasaan-kebiasaan yang di luar dugaan. Meskipun banyak kritik yang menerpa, terutama dengan masuknya bias etnosentrisme, imperialisme hingga rasisme, namun kita tidak dapat melupakan fakta bahwa hal tersebut memberikan banyak sumbangan bagi kemajuan disiplin antropologi itu sendiri. Di sisi yang berbeda, sebagai sebuah disiplin ilmu, antropologi telah membangun sebuah tradisi penelitian yang mencoba melindungi dari ‘self-interested error’. Dalam hal ini, antropologi telah banyak memberikan arahan bagaimana memperluas horizon pemahaman kita mengenai satu spesies yang kita sebut dengan manusia. Lebih jauh, antropolog sendiri menemukan bentangan horizon tersebut dengan hidup di antara subjek penelitian.

 
Penelitian antropologi modern seringkali dimulai dengan pemahaman atas pengalaman lokal atau pengetahuan lokal, dan hal itu tidak lah berhenti di sana. Namun pengetahaun tersebut kemudian diolah kembali untuk menemukan sebuah penjelasan, sebuah pemahaman: sebuah teori. Umumnya kita memberikan kredit poin kepada apa yang telah dilakukan oleh Malinowski. Apa yang dilakukan oleh Malinowski, membawa pengaruh yang luar biasa dalam studi antropologi, terutama etnografi. Apa yang kita kenal saat ini sebagai participant observation pada dasarnya dimulai dengan usaha untuk melihat secara langsung apa yang dilakukan oleh orang-orang, dalam hal ini subjek penelitian, sesuai dengan konteksnya. Tentu saja melihat saja tidak lah cukup. Apa yang dilakukan oleh antropolog kemudian lebih memfokuskan pada apa di balik peristiwa tersebut dan bertanya. Bertanya tidak lah sekedar bertanya, namun lebih pada mencatat apa yang dikatakan mengenai banyak hal yang ia tanyakan.
 
Tentu saja terdapat batasan-batasan. Sebagai manusia biasa, setiap antropolog pasti terbatas dalam melakukan protokol maupun prosedur penelitian. Batasan-batasan ini bukan lah pembenaran atas ketidakmampuan antropolog untuk memberikan gambaran yang maha luas, namun sebagai batasan esensial sehingga seorang antropolog sampai pada satu kesadaran bahwa tidak mungkin ia memfokuskan pada hal-hal yang luar biasa luas. Batasan adalah kuncinya. Meskipun antropolog, umumnya, hanya memiliki sejumlah kecil pihak yang dinyatakan sebagai pemberi informasi, namun antropolog, umumnya, dapat menjelaskan dengan detail dan mengkonstruksikan sebuah peta yang membahas mengenai hubungan sosial di antara subjek yang diteliti.
 
Tugas seorang antropolog adalah melihat berbagai peristiwa, hadir di antara peristiwa-peristiwa tersebut, dan mencari sejumlah informan kunci yang memiliki pengetahuan, pengalaman, atau posisi yang memungkinkan untuk memiliki akses terhadap informasi yang dibutuhkan oleh antropolog itu. Jika si antropolog itu beruntung, di akan belajar dua hal. Pertama, menemukan hal-hal yang belum pernah dilihat yang mengubah pandangan dan pemahamannya mengenai bagaimana sesuatu itu terjadi. Kedua, pengalaman melihat secara langsung bagaimana ketegangan yang diwujudkan dalam hubungan sosial, sebuah perang terbuka yang berada di luar gambaran yang damai yang menguak gambaran sesungguhnya dari apa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari.
 
Satu hal yang agaknya dapat dipastikan, melihat kerja lapangan, dari perspektif seperti ini, boleh jadi memunculkan berbagai pertanyaan mengenai objektivitas dan subjektivitas. Terutama bagaimana seorang antropolog ketika melakukan kegiatan penelitian di lapangan. Problem utama, setidaknya bagi saya, adalah bagaimana antropolog menempatkan diri di antara subjek yang diteliti, dan bagaimana dia melihat atau memahami setiap perkataan dari subjek. Wolf melihat, bahwa seorang antropolog harus memberikan gambaran sebagaimana digambarkan, entah itu harapan atau kondisi yang dialami oleh para subjek. Meskipun Wolf sendiri tidak terlalu menyetujui perihal ‘giving voice to the people’ sebagai subjek utama dalam antropologi. Dalam pandangannya, harus dibedakan antara apa yang dikatakan dengan apa yang dilakukan. Bagi Wolf, tujuan utamanya adalah “to priovide a densely substantiated model of how material social relations and signifying practices are mediated through the cultural form of a specified population.” Di sisi yang berbeda, Wolf melihat bahwa selalu terdapat hubungan antara kerja lapangan yang dilakukan oleh antropolog dengan perkembangan teori. Hal ini dapat dilihat dari perkembangan teori sejak Malinowski hingga Marx. Pada akhirnya, Wolf tiba pada satu kesimpulan, bahwa “fieldwork … never goes forward without theory: the theories of the time direct what the antrhopologist look for, but what it seen in the field may expose difficulties in those theories and lead to new formulation.”
 

 

 

 

Jadwal Salat