• umamnoer.com
  • 50 tahun Attaqwa Putri

bacaan hari ini: religion as cultural system - C. Geertz

on . Posted in Catatan Tepi

Apa itu agama? Bagaimana kita mendefinisikan agama? Apa pula fungsi agama dalam kehidupan? Berbagai pertanyaan boleh jadi muncul sebagai akibat dari perbincangan kita mengenai agama. Seorang teman saya pernah berkata bahwa agama tidak pernah “jatuh” dari langit, suatu waktu dia juga berkata bahwa Tuhan tidak pernah “memfaks” agama dari singgasananya. Barangkali kesannya ngawur, tp setidaknya saya menyadari bahwa apa yang dikatakan teman saya tersebut boleh jadi ada benarnya.

 
Geertz secara pasti mendefinisikan agama bukan sebagai dogma yang transenden. Bagi Geertz, agama adalah “sebuah sistem simbol yang berlaku untuk menetapkan suasana hati dan motivasi-motivasi yang kuat, yang meresapi, dan yang tahan lama dalam diri manusia dengan merumuskan konsep-konsep mengenai suatu tatanan umum eksistensi dan membungkus konsep-konsep ini dengan semacam pancaran faktualitas, sehingga suasana hati dan motivasi-motivasi itu tampak khas realistis.”
 
Kali pertama membaca definisi semacam itu sangat sulit dipahami. Kesulitan tersebut bukannya tidak mendasar. Saya sejak pertama kali mengenal agama (entah kapan ya?) selalu menganggap agama adalah sesuatu yang sifatnya transenden, sesuatu yang suci, agak hampir wingit malah, yang diajarkan oleh kedua orangtua saya. Terlepas dari latar belakang pendidikan saya di pesantren, saya perlahan menyadari bahwa apa yang dikatakan Geertz dapat saya temukan dengan sangat mudah di sekeliling saya. Barangkali karena saya selalu menganggap sesuatu sebagai commonsense, ah sudah biasa, saya akhirnya menerima sesuatu sebagaimana adanya.
 
Dalam pandangan Geertz, agama tidak lain adalah sistem simbol yang berlaku di masyarakat. Sistem simbol tersebut membantu menciptakan suasana hati dan motivasi, begitu kuatnya, sehingga suasana hati dan motivasi tersebut tampak nyata. Saya akan mencoba menjelaskan melalui penelitian kecil yang pernah saya lakukan, oleh karena itu, izinkan saya bertutur.
 
Saya pernah meneliti mengenai kegiatan keagamaan, saya ingin menyebutnya ritual tapi entah kenapa rasanya kurang cocok, yang dilakukan di desa saya di Bekasi. Setiap malam nisfu Sya’ban, tanggal 14 setiap bulan Sya’ban (sistem penanggalan kalender hijriah), ratusan, bahkan ribuan orang datang ke masjid Attaqwa pada sore hari menjelang magrib. Mereka yang datang umumnya laki-laki, sebab perempuan biasanya mengadakan acara nisfu Sya’ban di rumah masing-masing. Ada yang khas dari para laki-laki ini, yakni mereka datang dengan membawa air minum dengan berbagai ukuran. Mulai dari air minum dalam kemasan gelas hingga galon (jika kuat membawa). Ketika waktu magrib tiba, seluruh jamaah akan melaksanakan salat magrib berjamaah, dan setelah salat magrib, seluruh barisan diatur ulang membentuk lingkaran dengan mengosongkan area tengah masjid. Di area tengah tersebut kemudian setiap orang yang datang meletakkan air yang ia bawa (tentunya dengan diberi tanda khusus agar tidak tertukar) dengan membuka tutup dari air tersebut. Setelah semua air berada di tengah dan setiap orang sudah duduk, maka acara dimulai dengan pembacaan Surat Yasin sebanyak tiga kali dan doa yang dipimpin oleh kiai yang paling sepuh. Kemudian beberapa surat lain di baca, dan doa penutup oleh kiai lainnya. Ketika semua bacaan sudah dibacakan dan doa sudah dipanjatkan, setiap orang mengambil air miliknya, menutup kembali air tersebut, dan kembali berbaris untuk melaksanakan salat isya berjamaah. Setelah salat dan saling bersalaman, seluruh penduduk pulang dengan menyisakan masjid yang di beberapa tempat tergenang air.
 
Apa yang ingin saya katakan sederhana. Mengikuti alur berpikir Geertz, yang dilakukan oleh penduduk tersebut adalah sistem simbol yang mendorong suasana hati dan motivasi diri. Tentu saja hal ini tidak memiliki pijakan yang kuat dalam dogma ajaran agama Islam, tapi yang dilakukan ini adalah bentuk agama sebagai sebuah sistem kebudayaan. Berbagai simbol dapat dilihat dengan sangat nyata, misalnya air yang dibawa oleh setiap orang yang datang ke masjid tersebut. Simbol yang termanifestasikan melalui air pada dasarnya mendorong suasana hati dan motivasi orang-orang tersebut untuk datang pada acara tersebut dan berharap pada satu hal: berkah. Saya menyadari, bahkan sebelum bulan Sya’ban datang, yakni masih pada bulan Rajab, para penceramah, baik itu ustaz maupun kiai, selalu menyatakan makna pentingnya bulan Sya’ban sebagai bulan diturunkannya rahmat. Saya menyebutnya rahmat dari langit.
 
Para penceramah ini selalu menyatakan bahwa pada malam nisfu Sya’ban dilakukan penutupan buku amal manusia dan dibukanya buku amal yang baru. Dalam istilah ekonomi, malam nisfu Sya’ban adalah sama dengan malam akhir tahun anggaran. Dengan ditutupnya buku dan dibukanya buku yang baru, maka setiap orang diharapkan menutupnya dengan amal baik, dan membuka buku tersebut dengan amal yang baik dan permohonan (berupa doa) yang baik pula, dengan harapan keberkahan melimpah pada satu tahun ke depan. Pada malam nisfu Sya’ban pula, dikatakan, bahwa pintu-pintu langit terbuka dan semua berkah tercurah dari Allah kepada seluruh hambaNya yang memohon kepadaNya.
 
Berkah sendiri merupakan konsep yang amat sering digunakan dalam tradisi pesantren. Konsep berkah, jika saya tidak salah ingat, merujuk pada dua kondisi: berkah yang berasal dari bumi, umumnya berupa hasil panen dan lain sebagainya; dan berkah dari langit berupa ilmu pengetahuan yang berdasarkan pada wahyu dan anugrah berupa ilham. Dalam konteks nisfu Sya’ban, setiap orang yang datang, dengan membawa air, berharap sepenuhnya pada berkah yang tercurah pada malam itu, dan harapan agar berkah tersebut, setidaknya dapat disimpan dalam air yang mereka bawa.
 
Malam nisfu Sya’ban, yang dapat kita lihat sebagai sebuah sistem simbol, mendorong suasana hati sekaligus memotivasi orang-orang untuk datang dan terlibat langsung dalam kegiatan tersebut. Suasana hati dan motivasi ini mendorong orang tidak hanya untuk datang, namun memberikan mereka dorongan, bahwa dengan datang dan berpartisipasinya mereka dalam kegiatan tersebut mereka dapat memperoleh berkah yang melimpah. Berkah yang dapat membantu kehidupan mereka selama satu tahun ke depan, berkah yang dapat memberikan mereka ketenangan dalam menjalankan hidup mereka. Tentu saja sistem simbol ini tidak hanya dimengerti hanya pada individu-individu tertentu, namun sistem simbol ini bersifat publik, mengingat hampir semua orang (laki-laki) yang ada desa tersebut hadir dan berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.
 
Dalam pandangan Geertz, kajian mengenai agama merupakan operasi dua tahap. Tahap pertama adalah dengan melakukan analisis atas sistem simbol dan mencari makna di balik sistem tersebut. Tahap kedua adalah dengan mengaitkan sistem-sistem tersebut pada struktur sosial dan proses-proses sosiologis. Setidaknya, menurut saya, saya telah mencoba melakukan dua hal tersebut.
 
Lagi-lagi Geertz menegaskan bahwa agama bukan hanya urusan metafisika belaka. Yang disucikan (the sacred) selalu membawa pada kewajiban instrinsik: tidak hanya mendorong rasa untuk berbakti, namun juga menuntutnya; tidak hanya berkaitan dengan persetujuan intelektual, namun juga memiliki kaitan emosional. Dalam konteks yang lebih luas, agama mendorong pada etos dan pandangan dunia. Etos tidak lain adalah sikap mendasar terhadap diri mereka sendiri, dan juga pandangan mereka terhadap dunia yang mereka huni dan bagaimana mereka merefleksikannya dalam kehidupan mereka. Pandangan dunia tidak lain adalah gambaran mereka tentang realitas sebenarnya, konsep mereka tentang alam sekitar mereka, diri mereka sendiri, maupun masyarakat. Pandangan dunia mengandung gagasan-gagasan yang lengkap mengenai tatanan. Pembuktian atas hubungan yang bermakna antara nilai-nilai yang dimiliki suatu bangsa dan tatanan eksistensi yang bersifat umum yang di dalamnya bangsa tersebut menemukan dirinya sendiri merupakan sebuah unsur sejati pada semua agama, terlepas bagaimana nilai-nilai atau tatanan tersebut dipahami. Setiap agama pada dasarnya adalah sebagian usaha untuk memperbincangkan kumpulan makna umum, dan dengan kumpulan makna umum tersebut setiap individu dapa menafsirkan pengalamannya dan mengatur tingkah lakunya.
 
Geertz menjelaskan lebih jauh, makna hanya dapat disimpan melalui serangkaian simbol-simbol. Simbol-simbol religius, yang kemudian dimunculkan dalam kegiatan keagamaan, meringkas apa yang diketahui tentang dunia sebagaimana adanya, meringkas kualitas kehidupan emosional yang ditopangnya, dan cara bagaimana seseorang bertindak di dalamnya. Jika Geertz mengutip seorang informan Oglala, maka saya mulai berpikir, barangkali saya sering melihat simbol ini, dan bagaimana simbol ini berpengaruh pada orang-orang yang mencari makna di balik simbol ini: Ka’bah.
 
Bagi setiap orang muslim, walaupun belum ada data faktual namun saya yakin hal benar terjadi, melihat ka’bah secara langsung adalah impian yang amat dirindukan. Saya sendiri menyadari hal ini ketika melihat orang-orang di sekitar saya, termasuk saya sendiri. Saya menyadari sepenuhnya, bahwa ka’bah adalah simbol, beberapa bongkah batu yang disusun membentuk bidang kubus, dan dibungkus oleh kain sutra hitam. Terlepas dari adanya kepercayaan bahwa salah satu batu penyusun ka’bah diturunkan langsung dari langit, tapi ka’bah adalah simbol yang menyimpan makna. Setiap tahunnya jutaan orang muslim datang untuk mengunjungi rumah Allah tersebut, dan jutaan orang lainnya rela antri untuk dapat mengujungi rumah tersebut.
 
Setiap orang muslim yang hendak mengunjungi ka’bah, baik untuk haji maupun umrah, boleh jadi melihatnya sebagai representasi agama yang hakiki. Bahwa yang dilakukannya merupakan tuntutan, sekaligus keinginan untuk menunjukkan kadar keimanan. Jika orang Oglala percaya bahwa lingkaran adalah sesuatu yang sakral, maka orang muslim pun percaya bahwa ka’bah adalah sesuatu yang sakral. Sakralitas yang dimiliki ka’bah menjadikannya sebagai pusat kosmis keimanan setiap muslim, dan setiap muslim secara sadar, maupun tidak sadar, berputar di sekeliling pusat tersebut. Jika kembali ke tulisan Geertz, sistem religius terbentuk melalui serangkaian simbol sakral yang terjalin menjadi sebuah keteraturan. Bagi mereka yang terlibat dalam sistem tersebut tampaknya melihat sistem tersebut sebagai perantara atas pengetahuan sejati, pengetahuan atas kondisi-kondisi yang hakiki. Barangkali saya boleh membayangkan, bahwa setiap orang yang datang ke tanah suci memandang bahwa kedatangan mereka mendekatkan mereka pada realitas yang hakiki, tidak lain dari Tuhan itu sendiri. Dan sesuai dengan kondisi yang hakiki tersebut lah sebuah kehidupan dihayati.
 
Agama, langsung atau tidak, menopang tingkah laku yang layak dengan melukiskan suatu dunia yang di dalamnya tingkah laku tersebut merupakan satu-satunya akal sehat. Tingkah laku tersebut adalah satu-satunya akal sehat karena antara etos kerja dan pandangan dunia terdapat satu kesesuaian yang mendasar sehingga keduanya saling melengkapi. Demikian pula dengan Islam manakala ia dilihat sebagai agama. Islam menopang tingkah laku, tidak hanya dengan melukiskan kondisi ideal tingkah laku tersebut, namun juga memerintahkan setiap penganutnya untuk berlaku sesuai dengan tingkah laku tersebut. Dalam konteks yang lebih luas, Islam sebagai agama mendorong setiap penganutnya untuk memiliki seperangkat etos tentang bagaimana mereka melihat diri mereka sendiri, sekaligus memberikan pandangan dunia bagaimana mereka melihat lingkungan di sekitar mereka.
 

 

 

 

Jadwal Salat