• umamnoer.com
  • 50 tahun Attaqwa Putri

bacaan hari ini: culture and cultural analysis as experimental systems – M.M.J. Fischer

on . Posted in Catatan Tepi

Tulisan ini adalah ulasan terakhir yang saya buat untuk matakuliah konsep kebudayaan dalam kajian antropologi. Ulasan terakhir ini membahas tulisan Michael Fischer yang mencoba merangkum atau merekapitulasi berbagai definisi mengenai kebudayaan (atau budaya), sejak abad ke-19 hingga masa kini. Fischer menjelaskan budaya sebagai:

 
“(1) that relational (2) complex whole (3)whose parts cannot be changed without affecting other parts (4) mediated through powerful and power-laden symbolic forms (5) whose multiplicities and performatively negotiated character (6) is transformed by alternative positions, organizational forms, and leveraging of symbolic systems, (7) as well as by emergent new technosciences, media, and biotechnical relations".
 
Terus terang saja, tidak mudah memahami konsep kebudayaan sebagaimana dituliskan oleh Fischer. Konsep yang diajukan Fischer sangat eklektif, melintasi ruang dan waktu, terbentang dari tahun 1848 hingga tahun 2007. Namun saya harus mengakui, apa yang diajukan Fischer sangat kompilatif, lengkap, mumet, sekaligus brilian.
 
Saya setuju dengan Fischer, bahwa tanpa melihat adanya hubungan-hubungan di dalam kebudayaan, katakan lah seni, media, agama, orientasi nilai, ideologi, imaji, dan lain sebagainya, ilmu sosial akan timpang, sebab mereduksi aksi sosial ke dalam intrumentalitas murni. Sama celakanya jika kita membayangkan konsep kebudayaan sebagai sesuatu yang singular, beku, dan nominal. Dalam hal ini, Fischer mencoba menjelaskan, bahwa konsep kebudayaan itu sendiri berkembang sesuai dengan masanya, bergerak mengikuti pendulum, dan secara dinamis berubah.
 
Budaya, dalam konteks pendefinisian sebagai konsep metodologis atau alat penyelidikan, akan lebih baik dipahami dalam konteks perkembangan historis, di mana budaya dilihat dalam serial ‘experimental systems’. Dalam sistem eksperimental ini, budaya (atau kebudayaan), memungkinkan realitas-realitas baru untuk dilihat, dipertimbangkan, dan dikaitkan. Konsep metodologis dari kebudayaan sebagai sistem eksperimental adalah untuk menegaskan, bahwa terdapat hubungan antara eksperimental dan sistematis: bahwa konsep kebudayaan itu sendiri muncul dari intermediasi dan interaksional ruang, baik intersubjektif dan institusional. Sederhananya, konsep kebudayaan itu sendiri terus mengalami perubahan, seiring perubahan yang terjadi dalam dinamika keilmuan itu sendiri.
 
Pada awalnya, kebudayaan selalu (1) dilihat sebagai hubungan-hubungan (that relational...). Premonisi dan portoformulasi mengenai kebudayaan yang dilihat sebagai hubungan-hubungan ini telah ada di berbagai tempat setidaknya pada pertengahan abad ke-19. Hal ini dapat dilihat dengan munculnya budaya kelas pekerja (working-class culture), budaya borjuis (borgeois culture), budaya nasional (national culture), budaya sebagai perjuangan dialektis (culture as dialectic anogist) melawan sivilisasi, dan kebudayaan sebagai relasi kuasa yang hegemonis (culture as hegemonic power relations).
 
Dalam hal ini, diskursus mengenai budaya (atau kebudayaan) muncul dalam empat komponen dari hubungan-hubungan budaya, yang muncul pada pertengahan abad ke-19, melalui diferensiasi dan reorganisasi dalam masyarakat modern, yaitu: (a) cerita rakyat (folklore) dan identitas, (b) ideologi dan kesadaran politik, (c) budaya kelas dan status, dan (d) plural dan budaya yang saling berhubungan versus ideologi sivilisasi yang universal.
 
Tahap selanjutnya (dengan catatan kita sepakat bahwa apa yang dikatakan Fischer sebagai tahapan yang linier) adalah kebudayaan dilihat sebagai (2) komplek keseluruhan (complex whole). Dalam hal ini budaya (atau kebudayaan) dilihat sebagai seluruh atau setiap hal yang dihasilkan oleh manusia. Keempat komponen yang muncul pada pertengahan abad ke-19, kini menjadi: (a) di Inggris berhubungan erat dengan elaborasi utilitarianisme, baik sebagai alat untuk rasionalisasi reformasi sosial maupun sebagau ideologi dari budaya Victorian, dan (b) di Eropa dengan reformulasi nasionalisme kebudayaan dan sivilisasi universal.
 
Tahap selanjutnya adalah kebudayaan dlihat sebagai (3) bagian yang tidak dapat diubah tanpa mempengaruhi bagian yang lain (whose parts cannot be changed without affecting other parts). Dalam tahap ini, jelas terlihat bagaimana perkembangan pada awal abad 20, terutama dengan berkembangnya pemahaman mengenai struuktur dan fungsi, yang menyebar ke berbagai disiplin ilmu. Pada era ini, keempat analisis kebudayaan mulai masuk ke ranah metodologis: (a) budaya dan linguistik, (b) budaya dan hermeneutik, (c) budaya, struktur sosial, dan personhood, dan (d) budaya dan metode komparatif.
 
Tahap selanjutnya adalah kebudayaan dilihat sebagai (4) termediasi melalui kekuatan dan kekuatan yang dimuat dalam bentuk simbolik (mediated through powerful and power-laden symbolic forms). Hal ini berkaitan erat dengan krisis pada tahun 1930an, seperti trauma PDI, depresi ekonomi global, dan pertumbuhan politik massa, periklanan, dan budaya industri. Hal-hal ini merevisi sekaligus mengubah laju metodologis dari studi budaya. Misalnya dapat dilihat dari: (a) Cassirer mengenaiKultuurwissenschaften (pengaruhnya sangat terasa pada perkembangan kajian mengenai simbol), (b) dialektika antara dokumenter realisme dan surrealisme (pengaruhnya terasa pada penguatan peran fotografi dalam memotret realitas empiris), dan (c) studi Frankfirt School mengenai industri dan media modern.
 
Tahap selanjutnya adalah kebudayaan dilihat sebagai (5) multiplisitas dan karakter yang dinegosiasi secara performatif (whose multiplicities and performatively negotiated character). Dalam hal ini terkait erat dengan trend yang terjadi pada 1970an, di mana studi budaya (cultural studies), (post)strukturalisme, dan simbolik atau interpretif antropologi berjalan beriringan dengan feminisme, media, historisisme baru, studi kolonialisme. Dalam kajian-kajian yang mucul, katakan lah kajian Geertz atau Turner, mencoba menitikberatkan pada keragaman, misalnya Geertz yang mengaitkan antara agama, ideologi, common sense, seni dan pemikiran moral sebagai ‘sistem kebudayaan’.
 
Tahap selanjutnya adalah kebudayaan dilihat sebagai (6) ditransformasi melalui posisi alternatif, bentuk-bentuk organisasi, dan pengaruh sistem simbol (is transformed by alternative position, organizational forms, and leveraging of symbolic systems). Era 1980an menghasilkan moda revisi dari analisis kebudayaan, diikuti pada tahun 1990an dengan perubahan infrastruktur, seperti media, lingkungan, dan bioteknologi. Perubahan yang terjadi pada 1980an termasuk adanya usaha menggunakan etnografi untuk menginvestigasi dan memetakan perubahan sosial dan budaya pada akhir abad 20. Penyelidikan dengan menggunakan alat yang multidisiplin memungkinkan untuk mengungkap lebih dalam mengani analisis kebudayaan, termasuk menginkorporasikan berbagai disiplin ilmu, penggunaan multi-site ethnography, dan analisis yang lebih luas terhadap jaringan-jaringan (termasuk modernisasi dan globalisasi di dalamnya).
 
Tahap yang terbaru, dalam Fischer tentu saja, adalah melihat kebudayaan sebagai (7) sejalan dengan kebangkitan baru teknosains, media, dan hubungan dengan bioteknikal (as well as by emergent new technosciences, media, and biotechnival relations). Dalam hal ini, daftar istilah dalam kebudayaan dan pemahaman atas dunia sosial mengambil analogi dari teknosains baru pada era 1990an dan 2000an. Misalnya simbiogenesis dianalogikan atau metafora untuk mengkonseptualisasikan ulang mengenai interaksi sosial dan hibridasi kultural. Para ahli teori kebudayaan dan sosial mempergunakan istilah-istilah teknosains untuk mendeskripsikan, mengeksplorasi, membandingkan gejala-gejala yang muncul dalam suatu masyarakat.
 
Fischer secara jelas menyatakan bahwa budaya (atau kebudayaan) bukan lah variabel, namun saling berhubungan. Pemahaman kita mengenai budaya (atau kebudayaan) tidak boleh meletakkan budaya (atau kebudayaan) sebagai sesuatu yang beku. Dalam hal ini, pemahaman atas budaya (atau kebudayaan) selalu berubah, terevisi, dan selalu terbarui. Hal ini terjadi, bahkan melalui paksaan di luar kontrol kesadaran individu, namun tetap saja perubahan itu sendiri menyediakan ruang bagi individu dan tanggungjawab sosial dari institusi dan perjuangan etis untuk terlibat di dalamnya.
 
Adalah penting untuk mengingat hasil kerja para antropolog sepanjang satu abad yang melandasi perubahan dari konsepsi mengenai budaya (atau kebudayaan). Analisis budaya (atau kebudayaan) telah meningkat menjadi model hubungan yang relasional, plural, dan memiliki kesadaran atas historisitasnya sendiri. Analisis ini terbuka dan membuka diri terhadap momen historis yang membuatnya memungkinkan untuk mengalami revisi, pergeseran, bahkan perubahan, sebagaimana sistem eksperimental dalam menciptakan “new epistemic things”.
 
Sebagai penutup, izinkan saya mengutip Fischer:
“Culture, then, is one of the names of the anthropological form of knowledge that grounds human beings’ self-understandings .... It is a form of knowledge inflected by warm engagement with people and oriented by a jeweler’s eye for detail and precision. It is a form of knowledge characterized by the openness and joy .... It is a form of knowledge, ever evolving, urgently needed in today’s world.”
 

 

 

 

Jadwal Salat