• umamnoer.com
  • 50 tahun Attaqwa Putri

bacaan hari ini: ethnography then and now – J.V. Maanen

on . Posted in Catatan Tepi

Tulisan Maanen adalah ulasan terakhir yang saya buat untuk kuliah matrikulasi metode penelitian antropologi. Sebagaimana tipikal penutup, tulisan Maanen merangkum secara umum perubahan yang terjadi dalam etnografi dan metode yang dipergunakan. Saya sendiri akan menggunakan tulisan Maanen sebagai pijakan dalam merangkum, melihat kembali, dan memahami kembali apa yang telah coba saya pelajari dalam semester ini. Sepanjang mata kuliah ini berjalan, banyak telah saya pelajari, berdasarkan bahan bacaan dan bagaimana saya memahaminya.

Etnografi, sebagai manifestasi resmi dari antropologi, adalah pijakan awal, tempat di mana saya berpijak dan mulai berjalan. Sebagaimana telah dijelaskan jauh sebelumnya, para antropolog, dimulai sejak kelahiran ilmu ini, telah melakukan perjalanan menuju tempat-tempat jauh, di mana langit adalah batasnya. Di tempat-tempat itu lah mereka melakukan penelitian, menuliskan catatan lapangan, melakukan serangkaian pengamatan, bertanya pada banyak orang, dan menuliskan kembali apa yang mereka dapatkan. Sepanjang sejarahnya, antropologi telah menghasilkan karya-karya etnografis yang monumental.

 

Seiring dengan perkembangan waktu, antropologi secara keilmuan terus mengalami perubahan, demikian pula etnografi. Maanen menyebutnya sebagai ‘ethnography in motion’. Apa yang berubah dari etnografi? Banyak hal telah berubah sejak etnografi kali pertama dilaksanakan. Hal ini misalnya dapat dilihat dari berbagai karya etnografi yang dihasilkan, sejak masa klasik hingga karya etnografi yang lebih kontemporer. Maanen secara umum memberikan gambaran apa yang berubah dari etnografi.
 
Secara metodologis, beberapa hal mengalami perubahan, atau lebih tepatnya pergeseran secara fundamental. Apa yang dilakukan oleh Malinowski akan tetap dilakukan pula oleh para antropolog kontemporer, tentunya dengan melakukan sejumlah modifikasi. Realisme adalah awal dari segalanya. Para antropolog datang ke suatu wilayah, melakukan penelitian etnografi, dan menggambarkan sebagaimana adanya gambaran masyarakat di wilayah tersebut. Saya harus akui, beberapa etnografi yang mudah dicerna, lebih banyak lagi yang sulit dicerna, mampu memberikan gambaran yang sangat mendetail mengenai wilayah penelitiannya. Seakan saya dapat berimaji bahwa saya ada di wilayah tersebut. Etnografi mencoba memberikan gambaran realitas sepenuhnya mengenai apa yang terjadi, apa yang dilakukan, dan apa yang dipahami dalam konteks masyarakat yang diteliti.
 
Gambaran tersebut berubah seiring dengan bergesernya peran dan posisi antropolog dalam wilayah penelitian. Jika para antropolog klasik berdiri pada posisi sebagai ‘orang luar’ yang mempelajari ‘pengetahuan orang dalam’ tanpa perlu ikut terlalu dalam, maka antropolog yang lebih kontemporer memilih untuk meninggalkan posisi tersebut. Mereka memilih untuk terlibat langsung dalam masyarakat yang mereka teliti. Mereka tidak hanya meneliti, namun bertindak atau mengadvokasi, mencarikan solusi atau bahkan ikut serta dalam solusi tersebut.
 
Pergeseran yang sama juga terjadi pada wilayah yang menjadi area utama penelitian. Globalisasi menjadi kata kunci dari pergeseran ini. Rasanya sulit untuk membayangkan para antropolog masa kini meneliti sebuah masyarakat yang terisolir, selain bahwa gambaran isolasi geografis itu sendiri tidak lah relevan saat ini. Etnografi mengalami pergeseran, dari single-site studies ke arah multi-site studies. Pergeseran ini membawa implikasi yang lebih serius: dengan multi-site studies, etnografi meninggalkan pijakannya dengan meneliti sebuah fenomena yang partikular untuk mendapatkan pengetahuan yang spesifik, dan menuju pengetahuan yang dinamis yang muncul dari kondisi dinamis dunia yang ditelitinya.
 
Adalah mustahil untuk membayangkan sebuah penelitian yang partikular tanpa memperhatikan aspek perubahan besar yang terjadi di dunia pada umumnya. Globalisasi membuka ruang-ruang yang lebih lebar bagi setiap orang untuk masuk, terlibat aktif, dan ikut serta dalam setiap denyut nadi globalisasi itu sendiri. Multi-site ethnography dapat pula dilihat sebagai studi di mana orang–orang saling membentuk interkoneksi, mengaitkan diri mereka dalam berbagai seting, dan bagaimana mereka hidup dalam seting-seting tersebut.
 
Etnografi tidak lagi melihat hal-hal yang begitu luas, bahkan cenderung mencari elemen-elemen universal dalam kehidupan manusia. Etnografi lebih menitikberatkan pada hal-hal partikular. Cerita orang-orang yang dapat memberikan gambaran dan menunjukkan di mata pengetahuan tersimpan. Etnografi tidak lagi berbicara mengenai satu “suku yang terasing” di wilayah yang “terasing” pula. Etnografi berbicara mengenai kehidupan masyarakat yang saling terkoneksi, membentuk jaringan yang terbentang. Etnografi berbicara melalui ruang dan waktu yang lebih spesifik, tanpa ada pretensi untuk menjadikannya universal.
 
Perubahan juga terjadi dalam cara pandang kita terhadap ethnographic evidence, interpretasi, otoritas, bahkan gaya penulisan. Meksipun demikian, tetap ada satu benang merah di antara perubahan tersebut: bahwa seluruhnya direferensikan pada satu hal yang partikular, substantif, dan metodologis. Maanen sendiri mengatakan bahwa “now we can assert the textuality of ethnographic facts and the factuality of ethnographic texts at the same time.”
 
Meskipun etnografi telah banyak berubah dalam dirinya sendiri, ada hal lain yang harus diperhatikan: bagaimana etnografi di luar dirinya. Para pembaca etnografi adalah persoalan lain yang harus menjadi fokus. Sebab etnografi tidak hanya ditulis untuk kepentingan personal, namun juga dipublikasikan ke publik, maka etnografi pun tidak dapat melepaskan diri dari ‘kehendak pasar’. Maanen menyatakan bahwa “it seems safe to say that there are now fewer rules for ethnographers to follow but more work to be done.” Dalam konteks ini, etnografer harus mempertimbangkan hasil karya etnografi yang akan ditulisnya. Kehendak pasar, dalam hal ini pembaca, dan terutama sekali adalah editor, seringkali masih menganggap etnografi sebagai sebuah karya yang mempelajari kebudayaan sebagaimana adanya dalam masyarakat yang tertentu, tempat tertentu, dan melakukan hal-hal tertentu dalam waktu-waktu tertentu.
 
Tantangan lainnya adalah fakta bahwa etnografi muncul dari banyak disiplin ilmu. Etnografi tidak lagi menjadi domain antropologi sepenuhnya, sebab disiplin ilmu lain pun dapat mempergunakan etnografi sebagai domain mereka. Meskipun pada awalnya etnografi adalah merek dagang antropologi, namun kondisi keilmuan yang saling lintas-batas pun memiliki pengaruh pada domain etnografi itu sendiri.
 
Meski mengalami banyak tantangan dan perubahan, etnografi tetap menjadi sarana untuk memperoleh pengetahuan. Etnografi tetap secara relatif bebas dari jargon teknis maupun abstraksi tingkat tinggi, dalam hal ini etnografi tetap sebagai tulisan yang jauh lebih menyenangkan (bagi saya) ketimbang tulisan lain dalam ilmu sosial. Dalam hal ini, etnografi tetap menjadi sangat penting, bahkan absurd untuk melepasnya, dalam memahami lebih jauh mengenai manusia dan kebudayaannya.

Jadwal Salat