• umamnoer.com
  • 50 tahun Attaqwa Putri

bacaan hari ini: a neo-boasian conception of cultural boundaries – I. Bashkow

on . Posted in Catatan Tepi

Sebagaimana Olwig (lihat catatan saya atas tulisan Karen F. Olwig), Bashkow juga melihat adanya kritik yang muncul dalam disiplin antropologi. Secara spesifik Bashkow melihat kritik yang muncul pada konsepboundaries. Di dunia yang terdeteritorialisasi, batasan-batasan (boundaries) tidak dapat dipertahankan lagi. Mimpi besar untuk meletakkan kebudayaan sebagai sesuatu yang memiliki teritori dan batasan boleh dibilang telah usang. Kritik yang muncul mengenai batasan-batasan yang tidak mungkin dilakukan, telah memunculkan beragam model yang dikembangkan oleh para antropolog. Alih-alih melihat kebudayaan sebagai objek yang terbatasi secara alami, para ahli saat ini justru melihat batasan-batasan tersebut sebagai konstruksi yang diciptakan melalui proses representasi yang dilakukan.

 

Hal ini disadari betul oleh Bashkow, dan karenanya dia memberikan solusi, yakni kembali kepada apa yang dahulu pernah dijelaskan oleh Boas. Boas dan para muridnya, para Boasian, menjelaskan menganai batasan-batasan. Batasan-batasan (boundaries) yang digunakan oleh Boasian tidak merujuk pada batasan formal, seperti tembok, namun sebagai “cultural distinction that were irreducibly plural, perspectival, and permeable”. Meskipun demikian, antropologi budaya ala Boasian memiliki keterbatasan, terutama kemampuan utamanya hanya ketika melihat struktur budaya dan politik kebudayaan, namun sangat sensitif ketika melihat hibriditas budaya, identitas ideosinkratis, dan koneksi translokal.
 
Meskipun Boasian sendiri tidak lah satu suara, namun mereka berbagai prinsip yang sama, yaitu: (1) adalah aksiomatis bagi Boasian bahwa batasan-batasan kultural adalah keropos dan dapat ditembus. Boasian tidak pernah memberikan gambaran batasan-batasan kultural sebagai tembok yang kokoh dan tidak dapat ditembus dari pengaruh luar. (2) Boasian mempluralkan batasan-batasan kultural. Misalnya Boas selalu mengunakan kata “culture”, “people”, “tribe”, atau “society” sebagai unit yang setara, dan metodologi yang dikembangkanya menempatkan delimitasi kebudayaan sebagai keseluruhan. (3) Boasian menggambarkan batasan-batasan sebagai analisis yang tidak setara dengan batasan-batasan yang digambarkan orang bagi diri mereka sendiri, hal ini berbeda dengan para ahli lain yang memperlakukan konsep analitik dari batasan-batasan kultural menjadi rentan terhadap kritik.
 
Bashkow merangkum mengenai bangunan konsepsi batasan-batasan kultural sebagaimana dibangun oleh Boasian, yaitu: (1) bahwa batasan-batasan kultural terbuka dan dapat ditembus, bukan lah seperti balok yang membatasi orang, objek, dan ide. (2) bahwa batasan-batasan kultural itu plural dan selalu berubah secara relatif dengan konteks yang partikular, tujuan, dan sudut pandang. (3) bahwa perbedaan antara analitik batasan antropolgis dan batasan cerita rakyat (people’s folk bondaries) menciptakan sebuah “zone of the foreign” yang didefinisikan dalam ‘diri sendiri’ atau ‘yang lain’ sebagaimana digambarkan sendiri oleh orang-orang.
 
Lalu mengapa teori mengenai batasan-batasan kultural itu menjadi penting? Bayangkan jika batasan itu seperti tembok yang sulit ditembus, lalu bagaimana kita melihat globalisasi, migrasi dan diaspora, komunitas transnasional? Akan sangat sulit membayangkan hal-hal tersebut jika batasan-batasan selalu dianggap sebagai perwujudan fisik. Bashkow sendiri melihat tetap pentingnya melihat konsepsi mengenai batasan-batasan kultural karena tiga hal. Pertama, batasan-batasan kultural penting bagi proses berpikir dan menulis, jadi sangat tidak realistik untuk meninggalkan konsep umum mengenai ‘bounded culture’ sepenuhnya. Kedua, batasan-batasan kultural tetap menjadi fenomena yang penting dalam dunia yang dipelajari bahkan dalam dunia yang terinterkoneksi dan globalisasi. Ketiga, batasan-batasan kultural tidak lah secara ekslkusif melayani tujuan-tujuan yang berbahaya, namun adalah perpaduan dari hal-hal yang diinginkan dan hal-hal yang tidak diinginkan
 

 

 

 

 

Jadwal Salat