• umamnoer.com
  • 50 tahun Attaqwa Putri

bacaan hari ini: cultural sites, sustaining a home in a deterritorialized world – K.F. Olwig

on . Posted in Catatan Tepi

Dalam sejarahnya, antropologi selalu memiliki kecenderungan untuk menempatkan subjek penelitian dalam satu lingkup lingkungan yang ‘telah ada’ atau perpindahan penduduk dari satu wilayah ke wilayah baru dan menetap di sana. Kecenderungan ini mendapat banyak kritik, terutama dengan melihat kecenderungan yang ada saat ini, bahwa perpindahan adalah sesuatu yang tidak dapat dielakkan. Gambaran hidup yang normal berupa sekelompok orang yang tinggal di satu wilayah tertentu dalam jangka panjang tidak lah dapat dipertahankan lagi. Dunia modern, sebagaimana telah coba dijelaskan oleh Appadurai, tidak lagi memiliki batasan. Deteritorialisasi adalah kata kunci, dan kata kunci yang sama juga digunakan oleh Olwig dalam tulisannya kali ini.

Penelitian antropologi yang selalu menitikberatkan pada satu masyarakat homogen yang tidak berpindah telah menjadi sesuatu yang ‘aneh’ pada masa kini. Olwig menyadari sepenuhnya, bahwa gambaran itu tidak lebih dari fiksi. Perpindahan orang dari satu wilayah ke wilayah lain telah semakin sering terjadi seiring dengan terbukanya akses, dan hal ini lah yang menciptakan komunitas transnasional. Komunitas transnasional menjadi hasil dari perpindahan yang dilakukan. Dengan memberikan perhatian kepada perpindahan ini dan hasil yang dicapai, antropologi dapat melihat hubungan antara perpindahan orang dengan jaringan global yang saling terinterkoneksi secara langsung.

 
Sebagaimana dijelaskan Olwig dalam penelitianya di masyarakat Afrika-Karibia, bahwa perpindahan adalah sesuatu yang lazim terjadi. Bagi orang Nevis, sebagaimana dikatakan oleh Mrs. Browne, adalah hal yang natural bagi orang untuk melakukan perpindahan. Namun perpindahan ini bukan lah sekedar berpindah dari satu lokasi ke lokasi baru dan menetap di lokasi tersebut, namun berpindah secara tempat dan waktu dengan tetap menjaga hubungan dengan wilayah asalnya.
 
Sebelum Olwig berbicara mengenai komunitas transnasional dari orang Afrika-Karibia, dia bercerita mengenai sejarah terbentuknya komunitas Afrika-Karibia. Orang-orang Afrika, dalam sejarahnya, dibawa ke Nevis, sebagaimana orang Karibia, untuk kepentingan penanaman gula. Orang-orang Afrika ini diinkorporasikan ke dalam masyarakat lokal melalui institusi perbudakan. Hal ini secara langsung menjadikan orang Afrika ini sebagai properti pribadi dari pemilik budak. Hal ini terus terjadi hingga kedatangan misionaris dari Inggris yang memulai aktivitas mereka pada tahun 1780an. Beberapa tahun setelah kedatangan misionaris, dan munculnya gerakan emansipasi, maka muncul perubahan dalam komunitas Afrika-Karibia itu.
 
Beberapa tahun kemudian, pola dari deteritorialisasi muncul dan mengakar di antara mereka yang teremansipasi di Nevis. Akibatnya jelas, sebagian besar mereka: (1) secara fisik ada di Nevis namun memiliki harapan untuk migrasi untuk menaikkan derajat sosial dan ekonomi dari keluarga mereka, sekaligus harapan untuk membangun keluarga mereka sendiri; atau (2) secara fisik telah melakukan migrasi namun tetap menjaga hubungan dengan keluarga di Nevis dan menginvestasikan sebagian dari keuntungan yang mereka dapatkan di luar ke Nevis dengan harapan suatu hari mereka akan kembali.
 
Terkait dengan poin kedua, penting untuk melihat posisi ‘tanah keluarga’ dan ‘rumah keluaga’. Prinsip dasar dari tanah keluarga adalah kepemilikan bersama atas sebidang lahan oleh sekelompok orang yang merupakan keturunan dari pemilik asli properti tersebut. Meskipun demikian, tanah keluarga tidak dapat dilegalkan secara pasti dari hak kepemilikan, sebab orang Nevis sendiri memiliki perbedaan ide bagaimana orang dapat melakukan klaim atas tanah keluarga tersebut. Rumah keluarga adalah hal lain, di mana mereka yang telah meninggalkan Nevis tetap mengirimkan sejumlah uang atau penghasilan, seperti remiten TKI, ke rumah mereka. Adanya tugas untuk menjaga orangtua yang tinggal di rumah keluarga menyebabkan mereka yang telah migrasi ke luar Nevis tetap mempertahankan hubungan erat dengan rumah keluarga. Hal ini penting, sebab bagi mereka yang telah meninggalkan Nevis, rumah adalah penanda identitas mereka, dan hanya ke rumah keluarga lah mereka akan, atau setidaknya bermimpi untuk, kembali.
 
Olwig menggarisbawahi, bahwa kajian antropologi mengenai komunitas transnasional harus mendapat perhatian. Sebab hubungan antara tempat dan waktu adalah fokus yang menarik untuk dikaji, dan hal ini telah mendapat respon yang sangat baik dalam beberapa tahun ini. Dengan memperhatikan ruang dan waktu dalam konteks komunitas transnasional, antropologi telah melangkah, ke luar pijakan yang lama mengenai masyarakat yang berdiam di suatu wilayah. Mobilitas yang digambarkan dalam komunitas transnasional menggambarkan kompleksitas dari dunia yang terdeteritorialisasi. Dengan memfokuskan pada hubungan global, di mana generasi yang melakukan migrasi tetap menjalin hubungan, maka sangat dimungkinkan untuk melihat cultural site (site sendiri diambil dari model past participledari kata sinere yang artinya meninggalkan, tempat, atau terletak) dengan lebih luas.

Jadwal Salat