• umamnoer.com
  • 50 tahun Attaqwa Putri

bacaan hari ini: keeping ethnography alive in an urbanizing world – R. Sanjek

on . Posted in Catatan Tepi

Bagaimana membuat etnografi tetap hidup dalam dunia yang terurbanisasi? Ini adalah tema sentral dari tulisan Sanjek. Sejenak saya termenung membaca Sanjek. Jika pertemuan Sanjek dengan antropologi adalah sesuatu romantis, maka pertemuan saya dengan antropologi adalah sesuatu yang simbiosis. Terlepas apakah hubungan saya itu mutualistik atau tidak, namun pertemuan tersebut membawa arti tersendiri bagi saya, sebagaimana saya yakin pertemuan itu membawa arti tersendiri bagi Sanjek.

 
Sanjek secara sederhana melihat, bahwa romantisme holistik yang selalu di bawa pada masa klasik akan sangat sulit dilakukan pada masa kini. Masa ketika dunia tidak lagi memiliki batasan-batasan yang jelas. Masa ketika mobilitas menjadi sangat dimungkinkan. Masa ketika kota telah menjadi entitas yang sangat heterogen. Masa ketika etnografi tidak lagi dapat berpijak dengan jejak di atas landasan teritorial. Masa ketika dunia semakin terintegrasi dalam dunia yang terurbanisasi. Dalam dunia seperti ini, sangat sulit membayangkan dilaksanakannya sebuah penelitian etnografi yang holistik, yang katakan lah dilakukan oleh Malinowski atau Mead.
 
Jika Malinowski dan Mead melakukan penelitian di wilayah yang hanya memiliki penduduk yang relatif tidak banyak sehingga memudahkan untuk melakukan pengamatan secara holistik, namun hal itu menjadi sangat sulit dilakukan saat ini. Pengamatan partisipatif menjadi sulit dilakukan manakala yang diamati sendiri berjumlah luar biasa banyak. Pengamatan menjadi penting bagi Sanjek, terutama kritik utama Sanjek terhadap penggunaan wawancara yang berlebihan.
 
Sanjek menuturkan bahwa catatan penelitian yang ia buat berbanding 10:1, antara pengamatan dengan wawancara. Dalam hal ini Sanjek melihat betapa berbahayanya manakala seorang etnografer sangat bergantung pada wawancara ketimbang pengamatan. Wawancara tentu saja adalah bagian penting dalam penelitian etnografi, karena melalui wawancara lah seorang peneliti dapat ‘melihat’ peristiwa yang telah lalu dan tidak dapat diamati. Di sisi yang berbeda, wawancara perlu mendapat perhatian lebih untuk hati-hati, disebabkan wawancara memiliki dimensi kemanusiaan yang cenderung “apt to reinterpret or formulate the past to make it conform with their ongoing sense of the present”.
 
Sanjek secara khusus memberikan catatan, bagaimana etnografi dapat terus hidup di dalam dunia yang semakin terurbanisasi, atau dalam hal ini kota. Salah satunya adalah perhatian yang harus diberikan oleh penelitian tidak hanya pada subjek penelitian, namun juga pada pengetahuan atas kota itu sendiri. Sanjek mengutip Leeds, bahwa seorang peneliti tidak hanya menjadi etnografer, namun juga ahli sejarah urban dan ekonomi politik, dan ahli teori komparatik. Dalam hal in, urban historian and political economist merujuk pada kemampuan menggambarkan kota yang menjadi lokasi penelitian dari berbagai sumber-sumber yang tersedia untuk memberikan pemahaman sekaligus pengertian, dan bagaimana kondisi historis yang spesifik mempengaruhi kebudayaan dan perilaku para subjek.
 
Dalam pandangan Sanjek, kegiatan lapangan adalah tugas yang berat. Beratnya tugas ini muncul dalam banyak hal dalam setiap aspek penelitian. Lebih jauh, kegiatan di lapangan “generates a search for contextualization”, di mana penelitian etnografi tentu saja tidak dapat melepaskan diri dari penggambaran mengenai subjek, namun tidak melupakan aspek-aspek dimensional di luar subjek yang mempengaruhi keberadaan subjek tersebut.
 

 

 

 

Jadwal Salat