• umamnoer.com
  • 50 tahun Attaqwa Putri

bacaan hari ini: writing ethnographic fieldnotes – R.M. Emerson, R.I. Fretz, dan L.L. Shaw

on . Posted in Catatan Tepi

Bagaimana menulis catatan lapangan etnografi? Hal-hal apa yang harud catat? Dan bagaimana posisi catatan dalam penelitian etnografi? Saya akan memulai dengan bertanya ‘apa itu ethnographic field research?’. Secara sederhana penelitian etnografi adalah studi mengenai kelompok dan orang sebagaimana mereka menjalani kehidupan mereka sehari-hari. Kegiatan ini meliputi dua hal : (1) kegiatan observasi partisipasi, di mana peneliti memasuki seting sosial dengan berpartisipasi dalam rutinitas, mengembangkan hubungan dengan anggota kelompok, dan mengamati apa yang sedang terjadi. (2) pencatatan yang sistematis mengenai apa yang telah diamati sebagai prosedur untuk memproduksi catatan tekstual dari pengalaman yang dialami.

 
Partisipasi secara sederhana adalah kondisi di mana seseorang mencemplungkan diri (immersed) mereka ke dalam dunia sosial subjek yang diteliti. Ketercemplungan (istilahnya agak aneh) ini membawa banyak manfaat dalam penelitian, antara lain: (1) memungkinkan peneliti untuk mengambil apa yang bermanfaat bagi anggota-anggota subjek yang diteliti, (2) memberikan akses kepada pengalaman orang-orang sebagai proses yang dinamis dan interaktif, (3) memberikan pengalaman bagi peneliti terkait dengan batasan-batasan yang dialami oleh subjek, sehingga peneliti sedapat mungkin mengalami hal yang kurang-lebih sama. Partisipasi juga memungkinkan terjadinya ‘resocialization’ atau resosialisasi dalam proses ketercemplungan itu. Proses ini termasuk: (1) menjadi subjek dari norma perilaku dan makna-makna yang ada, dan (2) mempelajari apa-apa yang diperlukan untuk menjadi anggota dalam dunia sosial mereka. Di sisi yang berbeda, harus pula diingat, bahwa meskipun seorang peneliti berusaha menceburkan diri mereka, namun mereka tidak dapat menjadi anggota yang ‘natural’ dalam kelompok subjek yang diteliti.
 
Hal penting lainnya adalah melakukan pencatatan. Proses pencatatan ini melibatkan transformasi dan reduksi dari even yang telah lalu ke dalam bentuk catatan yang permanen. Meskipun demikian, patut diingat bahwa tidak ada cara yang paling akurat untuk menulis apa yang diamati, disebabkan perbedaan dalam persepsi dan interpretasi. Catatan khusus yang diberikan oleh Emerson, Fretz dan Shaw adalah seorang etnografer seringkali harus mengambil posisi dalam menulis catatan lapangan. Pendirian ini adalah orientasi terhadap topik studi, disiplin teoritis, sistem personal atau kepercayaan moral, atau orientasi politik. Posisi ini sangat dimungkinkan memberikan pengaruh bagaimana interaksi yang terjadi dan kerangka yang dipergunakan.
 
Tentu saja harus dibedakan antara interaksi sosial dalam seting yang natural, yang dilihat sebagai multichanel, dan proses penulisan yang linear. Hal ini didasarkan pada satu realitas, bahwa seorang tidak mungkin mengamati dan mencatat segala hal dalam satu even, sehingga seorang etnografer harus memilih dimensi dari even yang akan dicatat. Seorang etnografer yang tidak mengetahui bahasa yang dipergunakan tetap memperoleh manfaat dari pemahaman dia atas bahasa non-verbal yang muncul.
 
Hal lain yang harus diperhatikan adalah keterikatan antara metode yang digunakan dan temuan yang dihasilkan. Data yang dimiliki oleh seorang etnografer adalah produk dari penggunaan metode, bukan hanya sekedar data yang objektif. Harus pula diingat, bahwa sebuah situasi memiliki sejumlah realitas, dan metode yang digunakan akan menuntun ke arah satu aspek dari realitas tersebut, dan catatan lapangan harus memuat mengenai pembatasan ini.
 
Persoalan lain yang juga muncul dalam pencatatan adalah: indigenous meaning dan masalah etis. Dalam hal ini adalah posisi peneliti dalam memahami sebuah pengalaman dalam posisi mereka yang mengalami, dan peneliti harus menjaga makna-makna yang indegenous ini. Reaksi personal atau konsep yang telah ada sebelumnya harus dipinggirkan terlebih dahulu agar peneliti dapat menangkap makna asli dari pengalaman tersebut. Dalam masalah etis, harus dilihat bahwa ketercemplungan boleh jadi melibatkan hubungan yang intim dengan orang-orang yang diteliti, maka yang menjadi persoalan adalah, apakah hal itu adalah bentuk pengkhianatan atas kepercayaan atau invasi atas privasi ketika peneliti mencatat pengalaman tersebut. Seorang etnografer tidak dituntut untuk membuka maksud penelitian kepada subjek, sebab pengungkapan itu sendiri tidak membebaskan etnografer dari masalah etis.
 
Adalah penting untuk melihat bagaimana partisipasi dilakukan untuk keperluan pencatatan. Satu, penting untuk mencatat initial impressions dari lingkungan maupun orang-orang yang berada dalam satu even yang diamati. Dua, pencatatan dialog sebagai verbatim ketimbang sebagai dialog yang diringkas. Tiga, berikan perhatian pada bagaimana dan apa reaksi yang diberikan oleh anggota-anggota kelompok sebagai sesuatu yang menarik dan memiliki makna. Empat, akun yang muncul dari fakta yang memiliki indegenous meaning tidak pernah bersifat statis, mereka terkait erat dengan waktu, tempat, dan person. Lima, hindari membuat generalisasi yang tidakqualified, atau membuat inferensi atas motivasi seseorang. Enam, buat lah catatan mengenai apa yang dikatakan seseorang dan bagaimana mereka mengatakan hal itu, bukan pada alasannya. Tujuh, orientasikan diri untuk melihat kejadian-kejadian dan interaksi-intreraksi sebagai hal yang potensial untuk ditulis, dan lain sebagainya.
Sebagai penutup, penting untuk memberikan perhatian pada proses penulisan catatan. Proses ini dapat dilakukan dengan memperhatikan tiga hal: satu, berkonsentrasi pada adegan (scene) yang dilihat lebih ketimbang pada kata-kata tunggal yang dapat mempersempit perhatian pada seluruh adegan setelah hal tersebut terjadi; dua, rekam sedetail dan secepat mungkin; dan tiga, simpan semua evaluasi dan pengeditan sampai seluruh detail yang diingat telah ditulis, harus diingat bahwa catatan harus sama spontan sebagaimana interaksi yang diamati.
 

 

 

 

Jadwal Salat