• umamnoer.com
  • 50 tahun Attaqwa Putri

bacaan hari ini: building engagement: ethnography and indigenous communities today – E. Cervone

on . Posted in Catatan Tepi

with its focus on power imbalances, engagement is a form of anthropological inquiry that responds to the epistemological problems related to the production of ethnographic knowledge involving indigenous societies

 
Melalui tulisannya, Emma Cervone, secara eksplisit menjelaskan mengenai pentingnya membangun hubungan erat (engagement), antara etnografi dan komunitas asli yang menjadi subjek penelitian. Secara implisit, Cervone, meminta agar setiap antropolog mempertimbangkan kembali mindset yang telah mengakar kuat dalam tradisi antropologi, yang terpengaruh kuat dari model positivis, yang memberikan jarak yang lebar antara antropolog yang akan melakukan kegiatan etnografi dengan komunitas yang menjadi objek (sesuai dengan terma postivis) penelitian.
 
Cervone memulai dengan laporan akhir AAA pada tahun 2003, yang mengetengahkan tema mengenai peran antropolog sebagai advokat dan partner penelitian bagi kelompok asli (indigenous). Laporan ini menuai banyak kontroversi, baik yang pro maupun kontra. Salah satu komentar yang muncul dari hasil tersebut adalah bahwa model tersebut mempertanyakan integritas penelitian antropologi dan mengubah kegiatan penelitian antropologi ke arah kerja sosial, yang dianggap lebih tidak saintifik. Bagi Cervone, komentar tersebut menunjukkan betapa masih kuatnya pengaruh postivis dalam tradisi antropologi klasik.
 
Perdebatan panjang telah ada sepanjang kehidupan antropologi sebagai sebuah disiplin ilmu, perdebatan mengenai teori, etik, dan politik. Perdebatan ini muncul, pada dasarnya, seiring dengan lahirnya antropologi sebagai disiplin ilmu, yang disukai atau tidak, pernah melayani kepentingan kolonial. Pelayanan ini, meskipun tidak lagi diakui saat ini, namun dalam banyak hal masih dapat diperdebatkan. Antropologi lahir dari usaha Barat untuk melihat Yang Lain (the others). Sebagai sebuah pengetahuan yang bersifat situasional, pengetahuan antropologis telah lama dikonstruksikan di sekitar ke-Liyan-an sepanjang kelahiran disiplin ilmu ini. Hal ini membawa implikasi lain: antropologi sebagai disiplin ilmu kolonial. Disparitas antara orang yang melihat (antropolog) dengan orang yang dilihat (masyarakat asli) menggambarkan hubungan yang kompleks dan tidak setara antara agen kolonial dengan subjek mereka.
 
Dalam tradisi ini lah antropologi tumbuh dan berkembang. Antropologi yang positivis memberikan jalan sekaligus legitimasi atas ketidaksetaraan ini. Hubungan yang tidak setara ini, misalnya dapat dilihat dari ketidakperluan antropolog untuk memberikan gambaran penelitian terhadap subjek penelitian, atau misalnya hubungan yang hirarkis antara peneliti dengan yang diteliti, menggambarkan kondisi peneliti yang membangun jarak dan posisi hirarkis. Sebuah posisi yang dengan vulgar mempertunjukkan ‘power’ yang dimiliki oleh peneliti, yang dilegitimasi oleh tradisi postivis. Secara sederhana, tradisi positivis didasarkan pada oposisi Cartesian dari seba dan emosi yang memisahkan antara pengetahuan ilmiah dengan kepedulian moral dan politis, atau dengan kata lain, masyarakat menjadi objek utama dan produksi pengetahuan terpisah dari implikasi etis dan politis.
 
Model ini tentu saja menerima banyak kritik dan serangan, terutama kritik-kritik yang mempertanyakan mengenai posisi peneliti dan hubungan antara peneliti dengan subjek yang diteliti. Serangan yang datang, utamanya melihat bias yang muncul dalam tradisi antropologi, apakah itu bias kolonial, bias androsentris, maupun bias rasial dan politis. Berbagai pendekatan baru muncul yang berusaha mengeliminasi bias-bias tersebut, dan bagaimana meletakkan antropologi dalam suatu tradisi yang menyetarakan, antara peneliti dan subjek, dan membangun hubungan yang lebih manusiawi.
 
Dalam konteks perdebatan teoritik dalam antropologi, pedebatan yang muncul membawa ke arah pengembangan pendekatan baru yang menjauh dari membangun tipologi-tipologi dari masyarakat dan kebudayaan ke arah pembangunan pengetahuan yang lebih menitikberatkan pada pemahaman akan realitas masyarakat dan kebudayaan yang saling terinterkoneksi dalam jejaring hubungan antarwilayah, antarnegara, antarpopulasi, dan antarindividu.
 
Perdebatan mengenai ‘power’, dan kritik yang muncul atas ‘power’ itu sendiri, membawa implikasi lain: pendefinisian kembali dikotomi antropologi klasik atas konsep ‘we’ versus ‘the other’. Redefinisi ini memberikan arah pada diskusi yang lebih kritis terhadap persoalan posisionalitas peneliti terhadap masyarakat yang menjadi subjek penelitian, juga perdebatan mengenai subjektivitas dan refleksivitas. Hal-hal ini pada gilirannya akan membawa kita pada persoalan produksi pengetahuan, yang selama ini sangat bias, mengenai kebenaran dan pengetahuan ilmiah.
 
 
II
 
... it is important to define what constitutes engagement and collaborative work in anthropological practice in order to avoid presenting them as a sort of politicized straitjacket for the researcher.
 
Dalam kaitan dengan hal-hal tersebut di atas lah, Cervone menegaskan pentingnya untuk membangun hubungan erat (engagement) antara antropolog yang melakukan penelitian dengan subjek penelitian. Hubungan ini pada dasarnya adalah upaya mendekatkan antropologi dengan subjek, yang dengannya diharapkan mampu meminimalkan bias, dan membawa suara-suara yang selama ini dibungkam. Perubahan dalam praktik antropologi ini, yakni dengan membangun engagement, bukan lah tanpa persoalan sama sekali. Beberapa hal harus diperhatikan dalam membangun hubungan erat ini, antara lain adalah bahwa hubungan erat ini adalah respon atas permintaan dari subjek terhadap posisi yang jelas seorang peneliti. Hubungan ini tidak hanya berkaitan dengan persoalan etis dan teoritis semata, namun juga persoalan politis yang mempengaruhi produksi pengetahuan dalam disiplin antropologi.
 
Hubungan yang erat adalah salah satu cara untuk mengurangi bias dan mendefinisikan ulang ‘power’ yang dimiliki peneliti, terutama adalah posisi peneliti terhadap subjek yang diteliti. Beberapa pihak, seperti Lamphere misalnya, melihat hal ini berkaitan erat dengan pengetahuan antropologis yang tersedia secara massal di wilayah publik dan memperluas pengaruh antropologi dalam arena politik dan perdebatan kebijakan. Beberapa orang melihat hal ini sebagai upaya untuk membuat sinergi, sebab interpretasi atas kompleksitas global dalam masyarakat yang diteliti hanya dapat dilakukan dengan membangun kolaborasi dengan masyarakat tersebut. Dalam hal ini, hubungan tersebut membawa implikasi metodologis, yakni mendudukkan anggota komunitas sebagai kontributor dalam mendefinisikan relevansi studi dengan pengetahuan yang mereka miliki, dan apa yang ingin mereka hasilkan. Dengan demikian, terjadi perubahan posisi, dari sekedar objek yang pasif berbicara menjadi subjek yang berbicara bagi diri mereka sendiri.
 
Tentu saja terdapat dilema dalam pelaksanaan engagement ini. Salah satu dilema utamanya terletak pada loyalitas yang terbagi, antara kepentingan analisis dan penemuan pengetahuan di satu sisi, dengan komitmen etis dan politis di sisi yang lain. Masalah ini tentu saja akan muncul sesuai dengan konteks yang berbeda-beda, dan berhubungan dengan tensi dan kontradiksi dalam setiap formasi sosial ketika penelitian tersebut dilangsungkan. Dilema lain yang juga muncul adalah posisi antropolog itu sendiri, terutama terkait dengan peran aktif dan publik yang dimainkan, yang menunjukkan tanggungjawab antropolog telah lebih jauh ke depan di luar tugas utama mereka sebagai antropolog untuk memproduksi pengetahuan.
 
Dilema tersebut bukan tidak diketahui atau dirasakan oleh Cervone, sebagaimana pengakuannya sendiri, bahwa posisinya sebagai peneliti telah bergeser, dari sekedargringos (the other) menjadi compañera dalam masyarakat yang ia teliti. Dalam hal ini, cervone menitikberatkan pada perlunya membangun engagement untuk membangun produksi pengetahuan etnografis mengenai masyarakat asli yang kontemporer. Hal ini sejalan dengan tantangan Eric Wolf, yang bertujuan untuk membangun sebagai pengetahuan yang memiliki sisi kemanusiaan yang ‘adequate to our time’. Engagementdalam hal ini adalah bentuk yang diambil untuk menjawab tantangan tersebut, sebab melalui engagement lah antropologi dapat menjauhi bias-bias yang selama ini muncul sepanjang tradisi antropologi sebagai disiplin ilmu. Engagement adalah bentuk kritik sekaligus aksi penolakan terhadap diskriminasi, dan merupakan pandangan kritis antropologi mengenai hubungan antara antropologi dan Yang Lain. Cervone memberikan garis penegas, bahwa engagement yang dilakukan harus berjalan dengan kondisi masyarakat yang semakin global dan memiliki berbagai dimensi. Pada akhirnya, engagement tersebut menjadi langkah maju bagi antropologi untuk tidak lagi menoleh pada latar historis yang bias, namun menuju disiplin yang egaliter dan manusiawi.
 

 

 

 

 

Jadwal Salat