• umamnoer.com
  • 50 tahun Attaqwa Putri

bacaan hari ini: the graves of tarim, genealogy and mobility across the indian ocean – Engseng Ho

on . Posted in Catatan Tepi

 I

 
mereka yang pergi: menuju daerah asing
 
And it is He who tamed the sea, that from it you might feed on flesh tender and fresh, and pull fineries to costume yourselves with, and see the ship plying its water. That you might desire His bounty. Perchance you would give thanks (The Bee [An Nahl]: 14)
 
Membaca buku ini seperti berada di dalam kereta ekspress menuju masa lalu, menyusuri lorong-lorong sempit dan gelap, dan terlempar kembali ke masa kini. Harus saya akui, membaca Engseng Ho adalah sebuah tantangan, terutama dengan cara Engseng Ho menggambarkan masa lalu dengan kilatan cepat, membuat siapapun yang ketinggalan kereta akan kesulitan melihat kilatan tersebut.
 
Buku ini bercerita mengenai mobilitas dan tradisi diaspora orang-orang Hadrami. Diaspora yang mereka lakukan, menembus setiap ruang di bumi, yang disediakan Allah bagi setiap ummatnya, melewati lautan, dan bertahan di suatu wilayah hingga ajal menjemput mereka. Buku ini tidak lah bercerita melalui sosok-sosok hidup yang dengannya menceritakan diri mereka, namun melalui serangkaian teks, makam, dan tradisi lisan di kalangan Hadrami yang dengannya mereka mengkonstruksikan siapa diri mereka.
 
Saya setuju dengan Engseng Ho, bahwa Hadrami memiliki kesukaan yang sangat menguntungkan: mereka menulis. Mereka menuliskan apa saja yang penting bagi diri mereka, dalam hal ini adalah silsilah, genealogis, dan wilayah yang mereka datangi. Para Hadrami ini menjadikan genealogi sebagai dasar bagi kehidupan mereka, sebab melalui catatan genealogis lah mereka dapat mempertahankan ‘rumah’ yang lama, membuat ‘rumah’ yang baru, dan mengimajikan hubungan ‘rumah’ mereka di tempat yang baru dengan ‘rumah’ mereka nun jauh di sana. Narasi genealogis menceritakan banyak hal, dan Engseng Ho menceritakan narasi tersebut yang layak mendapat perhatian lebih dari kita, yang merasa perlu melihat kembali para Hadrami.
 
Buku ini, sebagaimana tergambar dalam judul dan kalimat pembuka, menceritakan mengenai masyarakat migran yang melakukan diaspora. Suatu masyarakat di mana tempat dikuburkan jauh lebih penting ketimbang tempat dilahirkan, dan makam-makam yang tersebar memberikan gambaran dan detail mengenai diaspora itu sendiri. Sebelum saya berbicara terlalu jauh, ada baiknya saya memperingatkan, bahwa sebagaimana Engseng Ho melakukan penuturan yang cepat, saya akan melakukan penuturan yang penuh kilas balik.
 
Tarim merupakan wilayah yang menjadi awal perjalanan para pelaku diaspora. Tarim menjadi salah satu lokus utama dalam perbincangan mengenai histiografi Islam dan memegang peranan penting bagi penyebaran para emigran. Terletak di Tarim adalah Dar al-Mustafa, sebuah institusi pendidikan yang memfokuskan pada pendidikan dan pengajaran agama Islam. Secara geografis, Tarim terletak di sebuah lembah. Berbatasan langsung dengan Laut Arab, terletak 176 kilometer dari pantai, dan 35 kilometer sebelah timur Seiyun. Cuaca di Tarim cenderung panas dan kering dengan daerah yang bercirikan dataran tinggi berbatu dan dikelilingi lembah, dengan rata-rata suhu mencapai 26.7°C dan mencapai 37.8°C pada musim panas. Meskipun kering dan panas, adakalanya Hadhramawt dilanda hujan lebat yang mengakibatkan banjir dengan intensitas jarang.
 
Selama berabad-abad, buku ini sendiri menggambarkan diaspora selama lima ratus tahun terakhir, orang-orang Hadrami terpaksa meninggalkan tanah air mereka yang miskin dan gersang untuk mencari keberuntungan di kawasan Samudera Hindia yang lebih luas dan subur. Dengan jaringan yang perdagangan dan migrasi membentang dari pantai Afrika Timur ke kepulauan Indonesia, para Hadrami ini datang dan menetap di wilayah-wilayah baru, yang kemudian menjadi wilayah diasporik mereka. para emigran biasanya bepergian ke wilayah baru tanpa istri dan seringkali menikahi perempuan pribumi. Keturunan mereka dikenal sebagai muwalladin (istilah dalam bahasa Arab yang merupakan bentuk jamak dari walada atau lahir, kalimat ini memiliki bentuk pelaku walad yang artinya anak sedangkan bentuknya jamaknya adalah awlad atau anak-anak), istilah yang juga diterapkan pada setiap Hadrami lahir di luar negeri.
 
Emigran Hadrami termasuk sayyid, keturunan Nabi, yang menikmati tingkat prestise keagamaan dalam masyarakat Muslim di mana pun mereka menetap. Tidak semua yang melakukan diaspora adalah para sayyid, namun ada pula orang Hadrami biasa yang bukan keturunan Nabi. Para emigran ini banyak yang menjadi pedagang,beberapa guru agama dan ahli hukum, lain menjadi tentara bayaran, beberapa bahkan mendirikan dinasti lokal melalui perkawinan.
 
Para pelaku diaspora ini tetap mempertahankan afinitas mereka dengan wilayah di mana mereka berasal. Tarim menjadi tempat kembali bagi mereka yang telah jauh berjalan, dan menjadi tempat berlabuh bagi musafir yang lama pergi. Tarim adalah satu wilayah di Yaman Selatan, tempat di mana para keturunan Nabi Muhammad SAW, yang dikenal dengan nama sayyid melakukan migrasi ke sana pada abad ke-12.Terletak di lembah Hadramawt, para keturunan Nabi Muhammad SAW ini menetap dan beranak-pinak.
 
Adalah penting untuk memahami bagaimana para sayyid bermigrasi ke Tarim. Tarim berdiri pada abad keempat Hijrah, namun jauh sebelumnya, penduduk Tarim telah memeluk Islam manakala utusan mereka bertemu Nabi Muhammad di Madinah pada tahun kesepuluh Hijrah (631 M). Adalah Sayyid Ahmad bin Isa Al Muhajir, yang tiba di 951 M, beserta pada pengikutnya yang setia, datang dari Iraq dan mendirikan Rabat, sebuah universitas di Zabid, Tihama, dan Tarim. Hanya di Tarim lah yang tetap berfungsi. Kehadiran keturunan Nabi di Tarim tentu saja tidak lepas dari kisah hidup mereka, yang akhirnya membawa mereka untuk datang ke Hadramawt,[1]termasuk Tarim.
 
Kehidupan mereka terkait erat dengan sejarah penuh warna yang menyertai kehidupan keturunan Nabi: dikejar-kejar oleh para penguasa dan khalifah -sejarah sendiri mencatat bahwa “ketertarikan” para khalifah terhadap anak keturunan Nabi Muhammad dimulai pada saat terjadi perpecahan, yakni pada saat wafatnya Khalifah ketiga Usman bin Affan dan terpilihnya Khalifah keempat Ali bin Abi Talib - diagung-agungkan oleh para pemuja, dan bertahan di tengah kehidupan yang kering dan tandus. Mereka bertahan di tengah intrik kekuasaan dan berhubungan dengan dunia luar. Mereka mengembangkan sebuah jaringan luas, dengan memanfaatkan secercah pesona kenabian, dan membina jaringan yang luas dan luar biasa kompleks. Mereka sendiri lah yang memintal dan merajut jaringan tersebut.
 
Beratus tahun kemudian, mereka melakukan migrasi ke luar Tarim. Namun tidak berarti bahwa mereka yang keluar dari Hadramawt, di mana Tarim terletak, melepaskan wilayah tersebut sepenuhnya dalam imaji kehidupan mereka. Secara fisik mereka memang meninggalkan wilayah tersebut, namun mereka tetap berkunjung (ziarah, kata dalam bahasa Arab yang berarti mengunjungi atau mendatangi) dan mendatangkan sejumlah barang ke wilayah tersebut. Uang, barang kerajinan, para anak-anak yang dilahirkan di luar, saudara-saudara, kerabat dan lain sebagainya, tetap datang ke wilayah asal mereka.
 
Kedatangan para keturunan yang dilahirkan di luar pada dasarnya memiliki dua tujuan utama: mengajarkan mereka tempat di mana mereka sesungguhnya berasal, dan mengajarkan kepada mereka bagaimana kehidupan lokal di tempat mereka berasal. Dalam hal ini, mereka yang datang ke Tarim mentransformasikan diri mereka, dari luar ke dalam, sebagaimana mereka mentransformasikan wilayah yang mereka tinggali, dari daerah tujuan ke daerah asal. Tarim tidak lagi dilihat sebagai wilayah tujuan, sebagaimana dilakukan oleh para sayyid pada abad dua belas, namun sebagai wilayah asal.
 
Sebagai asal dari semua diaspora, Tarim menjadi wilayah tujuan imaji dilabuhkan. Tarim menjadi wilayah geografi moral, di mana segala hal yang di luar harus diikat dengan kuat ke dalam, dan menjadi landasan sekaligus filosofi moral dan nilai bagi mereka yang berada di luar. Sebagaimana telah dilakukan oleh para pelaku diaspora lainnya, hubungan dengan wilayah asal, dalam hal ini Tarim, dilakukan dengan membangun hubungan-hubungan genealogis dari tempat mereka berasal. Hubungan-hubungan tersebut adalah jejaring hubungan keluarga yang melibatkan banyak pihak yang berasal dari wilayah yang berbeda-beda. Hubungan-hubungan ini tetap dijalin, tentu saja untuk tetap mempertahankan hubungan emosional dengan tempat di mana mereka berasal. Melalui catatan genealogis, dan seringkali pula melalui catatan atau cerita tertulis berupa hikayat, hubungan-hubungan ini dilangsungkan dan bertahan hingga hari ini.
 
 
II
 
mereka yang datang: kaum kosmopolitan lokal
 
verily, in the creation of the heavens and the earth, and in the alternation of night and day, and the ship which sail through the sea with that which is of use to mankind … are indeed Ayat (evidences) for people of understanding (The Cow [Al Baqarah]: 164)
 
 
Para Hadrami yang melakukan diaspora ke berbagai wilayah, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, tidak lah datang secara berbondong-bondong dengan seluruh keluarga mereka. Seringkali mereka datang dalam kelompok-kelompok kecil, atau individual. Pada umumnya mereka datang bersamaan dengan para pedagang yang datang dari wilayah, terlepas dari tujuan mereka. Barangkali kita dapat mengambil anggapan awal, bahwa kedatangan mereka adalah untuk keperluan perdagangan ketimbang penyiaran agama Islam. Meskipun anggapan awal ini masih bersifat kontestatif, namun saya sendiri berpendapat bahwa kedatangan mereka melewati samudera adalah untuk memperluas jaringan melalui jalinan perdagangan, dan terutama sekali adalah perkawinan.
 
Setidaknya ada dua hal yang dapat dikemukakan mengenai posisi saya. Pertama, keyakinan saya bahwa kedatangan para Hadrami ini, meskipun dapat dikatakan memiliki semangat ‘misionaris’, namun kecenderungannya adalah pada perdagangan. Kedua, bahkan pun kita dapat melihat kegiatan mereka yang tidak melulu berdagang, jika asumsikan mereka juga menyebarkan agama Islam, namun penyebaran agama Islam tidak lah melalui jalur-jalur agitasi, namun lebih pada jalur kultural. Berbeda dengan orang Eropa yang berdiaspora dengan dukungan negara (baca: militer) dan semangat misionaris tingkat tinggi, para Hadrami ini datang secara personal dan membaur dengan masyarakat lokal.
 
Sebuah fitur yang luar biasa dari diaspora Hadrami adalah kemampuan Hadrami ‘ekspatriat’ untuk mempertahankan rasa identitas dengan tanah air mereka, sementara beradaptasi dan berkembang di wilayah yang mereka datangi. Pada Hadrami ini, jika diambil analog, dapat dipersamakan dengan seseorang yang berpijak pada dua tanah. Satu kaki berada di tanah asal mereka, Tarim; dan satu kaki lainnya berpijak di daerah baru. Mereka yang kemudian menikah dan membangun keluarga tetap mempertahankan identitas mereka melalui banyak hal. Mereka telah mengirimkan uang untuk keluarga mereka di Hadhramawt, sering pula mengirim anak-anak mereka yang lahir di negeri asing untuk menyerap nilai-nilai intrinsik Hadrami dan mengalami cara hidup lokal, dan lebih sering lagi bercita-cita untuk pensiun di sana.
 
Meskipun mereka melakukan hubungan-hubungan dengan penduduk lokal, para Hadrami ini tetap menjalin hubungan dengan daerah asal mereka. Mereka, sedapat mungkin, mempertahankan hubungan genealogis dan gaya hidup dengan wilayah asal, pengetahuan yang di dapat melalui perjalanan, yang menjadikan mereka sebagailocal cosmopolitan. Kaum kosmopolit lokal ini berbeda dan membedakan diri mereka dengan penduduk lokal. Perbedaan ini muncul sebagai akibat dari keterkaitan erat dengan wilayah asal mereka, sebagaimana terlihat dari nama-nama yang digunakan.
 
Meskipun demikian, Engseng Ho melihat, bahwa melalui teks lah perjalanan transkultural bagi para Hadrami ini berlangsung. Melalui teks yang banyak bercerita mengenai kehidupan para sayyid, seringkali bercampur pula dengan mistisisme, hukum, bahkan sejarah. Dalam teks-teks itu lah nama-nama dipergunakan, memiliki tempat, dan dilangsungkan secara turun-temurun. Sebuah kondisi di mana muncul tipikal tersendiri terkait dengan nama-nama yang biasa digunakan oleh Hadrami.Teks-teks yang ditinggalkan, Engseng Ho menyebutnya sebagai ‘hybryd text’, merupakan peninggalan utama dari para pelaku diaspora. Melalui teks hibrid ini lah kehidupan para pelaku diaspora dapat dilihat, dipelajari dan dipahami.
 
Engseng Ho sendiri merujuk pada dua teks yang dibuat di Gujarat dan Mekkah. Salah satu teks berjudul The Traveling Light: Account of the Tenth Century karya Abdul Qadir Al-Aydrus, dan The Irrigating Fount: Biographical Virtues of the Allawi Sayyids karya Muhammad b. Abi Bakr Al-Shilli. Dalam teks-teks tersebut dapat dilihat mengenai genealogis keturunan Nabi Muhammad, bagaimana kehidupan mereka, dan bagaimana mereka bertahan dalam suatu lingkungan. Teks-teks ini menjadi hibrid dikarenakan isi dari teks ini yang sangat beragam. Teks ini tidak semata membicarakan kehidupan para keturunan Nabi berdasarkan bukti-bukti historis, namun juga cerita-cerita lisan, kanon hukum, dan lain sebagainya. Dalam teks-teks ini dapat dilihat bagaimana ‘sejarah’ genealogis yang terlihat dari penerusan tradisi khas: nama.
 
Nama menjadi fitur penanda penting dari para kosmopolit lokal ini. Mereka mempergunakan nama-nama yang memiliki hubungan dengan akar genealogis mereka, di mana nama-nama yang digunakan seringkali berulang dalam sebuah siklus, maupun kesamaan dengan saudara-saudara mereka di luar sana. Persoalan nama adalah persoalan yang krusial, sebagaimana persoalan mengenai afiliasi dan genealogis. Jika nama menunjukkan hubungan genealogis, mana dengan nama pula menunjukkan afiliasi religius, bahkan dengan nama pula menunjukkan posisi dirinya ketimbang masyarakat lokal. Meskipun mereka, atau ayah mereka, atau kakek mereka menikah dengan perempuan lokal, umumnya perempuan Hadrami dilarang menikah dengan laki-laki lokal, dan menurunkan nama serta beragam nilai yang terkait di dalam nama tersebut ke anak-anaknya, namun nama tetap menjadi penanda utama. Selera boleh saja berubah namun nama tetap lah sama. Nama menjadi penting karena dua hal: pertama, nama menunjukkan dengan jelas tempat di mana mereka berasal; kedua, nama menunjukkan dengan jelas siapa mereka sesungguhnya.
 
Imaji kosmopolitan lokal yang mereka bangun didasarkan pada perkawinan dengan penduduk lokal. Melalui pernikahan lah mereka membangun jejaring kekerabatan dengan penduduk lokal dan menjadi penduduk lokal, tentu saja ‘menjadinya’ mereka sebagai penduduk lokal tidak pernah sepenuhnya sukses. Para Hadrami ini, yang seringkali melakukan perjalanan, sesering itu pula memiliki istri lebih dari satu. Setiap anak yang lahir dari rahim perempuan lokal yang dibuahi oleh laki-laki Hadrami akan memiliki hubungan genealogis yang sama dengan yang dimiliki ayahnya. Anak-anak ini, memiliki dua tipe hubungan yang saling terpaut: mereka sebagai anak-anak lokal karena dilahirkan oleh ibu yang lokal pula, sekaligus mereka kosmopolit karena ayah mereka.
 
Meskipun si anak memiliki garis keturunan dan hubungan genealogis, yang oleh Engseng Ho dinyatakan sebagai gift, namun posisi si ibu tetap lah sama. Engseng Ho mempergunakan istilah creol yang merujuk pada anak yang dilahirkan dari rahim seorang perempuan lokal. Para Hadrami adalah penebar benih, yang dengannya sebuah garis keturunan diberlangsungkan. Hubungan genealogis adalah sebuah berkah manakala hubungan-hubungan tersebut dipertahankan. Hal ini lah sebabnya, mengapa seorang perempuan Hadrami dilarang untuk mengambil suami lokal, sebab ia tidak hanya kehilangan hak dan identitasnya, namun juga anak yang dilahirkan tidak dapat menarik hubungan genealogis dengan asal usulnya, dan dengannya si anak tersebut tidak lagi memiliki gift dalam hidupnya.
 
Hal lain yang terkait dengan perkawinan di antara orang Hadrami, terutama para sayyid adalah kafaah. Kafaah atau setara adalah keadaan di mana terdapat kesamaan antara calon mempelai laki-laki dan perempuan dari sisi status dan hubungan darah. Konsepsi kafaah ini ditekankan baik pada laki-laki maupun perempuan, namun aplikasinya lebih banyak ditekankan pada perempuan. Laki-laki Hadrami sah-sah saja menikahi perempuan lokal, meskipun istri pertama, karena mereka sering berpoligami, harus berasal dari kalangan Hadrami pula. Salah satu fitur menarik dari orang Hadrami adalah kebiasaan mereka untuk berpindah dan menikah dengan penduduk lokal, sehingga manakala si suami pergi, si istri akan dititipkan ke pihak keluarga suami di wilayah tersebut dan menjaga anak-anak yang dilahirkannya. Perempuan Hadrami sendiri ‘diharapkan’ untuk menikah dengan laki-laki Hadrami untuk meneruskan garis genealogisnya.
 
Kosmopolitan lokal yang dibangun oleh para Hadrami tergambar dengan jelas dalam setiap catatan yang mereka buat, namun di sisi lain mereka memiliki dimensi historis yang berbeda-beda. Adalah sebuah kesalahan besar dengan menganggap para Hadrami ini memiliki kesejarahan yang sama, terutama dalam konteks lokal. Banyak Hadrami yang melakukan diaspora menjadi sangat terpandang di wilayah yang mereka datangi, beberapa bahkan menjadi raja, seperti Tuanku Syed Sirajudin Jamal Al-Layl yang menjadi Raja Perlis, Malaysia. Beberapa lainnya menikmati hak prerogratif khusus yang muncul karena hubungan afinitas dan genealogis mereka dengan Nabi Muhammad SAW, terutama ketika mereka berkunjung ke Timur Tengah, khususnya Yaman. Dalam hal ini, hubungan kekerabatan dengan Nabi Muhammad SAW dapat dikatakan memberikan banyak keuntungan bagi para Hadrami.
 
 
III
 
mereka yang bertahan: menguji kembali kesetiaan
 
… they (angels) say (to them): “in what (condition) were you?” they reply: “we were weak and oppressed on the earth.” They (angels) say: “was not the earth of Allah spacious enough for you to emigrate therein?”… (The Women [An Nisa]: 97)
 
 
Engseng Ho menyebutnya sebagai “society of the absent”. Keberadaan pada Hadrami sangat unik karena dua hal. Pertama, sulit untuk menjelaskan dengan pasti bagaimana konteks ruang dan waktu dapat diaplikasikan pada mereka. Kedua, bahkan pun kita dapat menjelaskan bagaimana konteks ruang dan waktu tersebut terjadi, akan sangat sulit memberikan batasan mengenai dampaknya. Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, bahwa masyarakat Hadrami adalah masyarakat yang diasporik. Mereka melakukan perjalanan yang tidak hanya membawa diri mereka, namun juga kebudayaan yang mereka miliki. Perjalanan mereka tidak hanya berpengaruh pada ruang dan waktu yang mereka miliki, namun juga konsepsi kita mengenai ruang dan waktu.
 
Tarim adalah kata kunci untuk memahami konteks ruang, sedangkan proses diaspora itu sendiri adalah kata kunci untuk memahami konteks waktu. Meskipun demikian, adalah kesalahan besar dengan menjadikan Tarim hanya sebagai ruang yang kosong atau hanya sebatas ruang spatial belaka; sama celakanya dengan menganggap diaspora yang dilakukan hanya sebagai proses tanpa nilai. Ruang dan waktu berjalin dalam satu rangkaian yang berjalan bersamaan., berjalin, dan seringkali tidak dapat dipisahkan.
 
Tarim tidak hanya sebatas ruang geografis di mana mereka berasal. Tarim, dengan seluruh makam di dalamnya, adalah lokus utama ketika kita berbicara mengenai dimensi ‘ruang’ bagi pelaku diaspora ini. Makam adalah penting untuk dipelihara, bukan hanya karena makam itu dianggap suci dan dikeramatkan, namun juga karena pada makam lah titik simpul kehidupan berjalin-berkelindan. Jelas bahwa Engseng Ho memperhatikan dengan sangat baik fungsi makam, sebagaimana terlihat bahwa dalam buku ini, dia memberikan porsi yang cukup besar dalam menjelaskan mengenai makam.
 
Apa yang dapat kita pahami soal makam? Saya setuju dengan Engseng Ho, bahwa dalam masyarakat diasporik, di mana anda lahir tidak lah penting, namun di mana anda meninggal dan dikuburkan menjadi sangat penting. Dalam melihat hal ini, jelas kiranya bagaimana kita dapat mengaplikasikan konteks ruang bagi masyarakat Hadrami yang diasporik. Ruang menjadi sangat ambigu. Di satu sisi, “ruang” di mana anda lahir tidak lah relevan untuk dibincangkan, namun “ruang” di mana anda meninggal menjadi lebih penting. Hal ini tentu saja berkaitan erat dengan makam.
 
Makam adalah penanda kehadiran seseorang, yang boleh jadi membawa garis keturunan di berbagai wilayah. Sudah menjadi kebiasaan para pelaku migrasi ini untuk menikah dengan perempuan lokal, dam boleh jadi pula mereka menikah dengan lebih dari satu perempuan. Hubungan antara anak dengan ayahnya, anggaplah jika si ayah tidak berada di wilayah yang sama dengan si anak, dibangun pada keberadaan makam si ayah. Makam ayah menjadi sangat penting bagi si anak untuk menjaga sekaligus menegaskan identitas diri si anak. Demikian pula makam-makam yang tersebar di wilayah Asia Tenggara, atau khususnya Indonesia, merupakan jalinan utama, penanda penting bagi kehadiran para Hadrami diasporik ini. Mereka yang hidup “berhutang” nyawa pada mereka yang meninggal, dan “hutang” tersebut hanya dapat dilunasi sepanjang mereka yang hidup tetap menjalin hubungan dengan mereka yang lama berpulang. Dalam konteks ini, kesetiaan dapat dilihat dari bagaimana mereka yang hidup mengembangkan loyalitas dan penghormatan terhadap mereka yang telah lama tiada.
 
Di sisi yang berbeda, adalah penting untuk melihat bagaimana konteks waktu bekerja. Dalam hal ini, agaknya kita berhutang banyak pada kebiasaan orang Hadrami pelaku diasporik yang menurunkan berbagai catatan mengenai kehidupan mereka. Diaspora yang dilakukan adalah proses yang terkait erat dengan dimensi waktu. Ketika seseorang berpindah, dia tidak hanya berpindah secara tempat, namun juga waktu. Dalam hal ini, penting untuk memahami, bahwa diaspora yang dilakukan oleh orang Hadrami juga berkaitan erat dengan proses yang tentu saja membutuhkan waktu.
 
Dalam melihat konteks waktu, penting untuk melihat catatan yang ditinggalkan oleh para pelaku diaspora. Melalui catatan tersebut dapat ditelusuri mengenai diaspora yang mereka lakukan. Catatan menggambarkan sebuah proses perpindahan. Dimensi waktu bekerja dengan mempertimbangkan bagaimana proses kehidupan para emigran itu bekerja dan berlangsung.
 
Namun waktu bukan hanya sekedar proses perjalanan seorang pelaku diaspora, waktu juga berkait bagaimana mereka mengaitkan kehidupan mereka di masa kini dengan imaji mengenai asal mula mereka di masa lalu. Sebagaimana terjadi dalam konteks ruang, para Hadrami juga mengkonsepsikan waktu sebagai domain yang tidak terlepas dari tempat di mana mereka berasal. Apa yang terjadi di waktu kini dipengaruhi oleh apa yang terjadi di waktu lampau, dan bagaimana mereka memposisikan waktu saat ini akan berpengaruh terhadap pandangan mereka di masa mendatang.
 
Persoalan mengenai ruang dan waktu menjadi sangat krusial untuk menjelaskan keterkaitan antara para muwalladin dengan tanah asal orangtua mereka. Dalam konteks ini lah apa yang disebut Engseng Ho sebagai society of the absent. Jika kita mengkonsepsikan nation sebagai ruang dan waktu di mana kita dilahirkan, sebab katanation itu sendiri diambil dari kata nasci yang dapat diartikan sebagai act of giving birth, maka the absent adalah kebalikannya. Dalam society of the absent yang terpenting adalah di mana anda dimakamkan ketimbang di mana anda dilahirkan. Melalui makam yang ditinggalkan terdapat awal dari kehidupan. Sebab society of the absent sendiri tidak pernah mewujud dalam bentuk fisik semata, namun juga melibatkan imaji, dan bagaimana para muwalladin mengikat diri mereka pada imaji tersebut.
 
Para muwalladin, pada hakikatnya adalah penduduk lokal di mana mereka dilahirkan. Namun mereka tidak lah sepenuhnya lokal, dan tidak pernah sepenuhnya sukses sebagai orang lokal; sebab mereka memiliki tanah asal nun jauh di sana yang harus selalu mereka ingat dalam imaji mereka. Meskipun mereka lahir, tumbuh, dan dibesarkan dalam tradisi lokal, namun mereka tetap harus mempelajari tradisi nenek moyang mereka di Hadramwt. Mereka harus memiliki identitas yang sama dengan identitas yang membentuk diri ayah dan kakek mereka. Melalui imaji atas daerah asal lah mereka mengikatkan loyalitas dan kesetiaan.
 
Melalui imaji akan daerah asal dan tempat kembali mereka mengaitkan diri mereka, dan melampaui batasan ruang dan waktu mereka mengikatkan kesetiaan mereka. Dalam konteks masyarakat Hadrami sebagai pelaku diasporik, para muwalladin ini memiliki tanggungjawab moral untuk meneruskan kesetiaan yang telah dibangun oleh orangtua mereka. Tanggungjawab tersebut tidak hanya diajarkan melalui pengetahuan mengenai cara-cara hidup a la Hadrami, namun juga ajaran mengenai etika, pengetahuan mengenai hukum, bahkan kewajiban untuk menjaga tradisi dan hubungan kekerabatan sesama muwalladin. Tanggungjawab untuk melanjutkan hubungan dan meneruskan imaji asal mula menjadi sangat penting bagi pembentukan identitas muwalladin, yang dapat membuat mereka menjejakkan kaki di wilayah baru, sekaligus mempertahankan pijakan mereka di wilayah asal.
 
 
IV
 
mereka yang kembali: Tarim sebagai imaji
 
And indeed We have honoured the Children of Adam, and We have carried them on land and sea, and have provided them with lawful good things, and have preferred them to many of those whom We have created with a marked preferment (The Journey by Night [Al Isra]: 70)
 
 
Engseng Ho lagi-lagi kembali ke soal makam. Makam menjadi simbol sekaligus penanda penting hubungan genealogis bagi orang-orang yang berada di luar Tarim. Melalui diaspora yang dilakukan terbentuk lah komunitas-komunitas Hadrami di berbagai wilayah. Melalui diaspora, yang tergambar dengan sangat baik dalam catatan-catatan yang ada, memberikan informasi mengenai pelaku-pelaku diaspora dan bagaimana kehidupan mereka.
 
Cerita mengenai para Hadrami ini, dimulai dengan konflik berdarah mengenai makam dan pembentukan kabinet di Yaman, yang dipenuhi oleh para sayyid, membuka sebuah fakta, bahwa mobilitas dan diaspora yang dilakukan oleh para Hadrami ini telah lama dilakukan, dan memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi mereka. Diaspora para Hadrami ini menggambarkan kehidupan mereka, bagaimana mereka beradaptasi, menurunkan kebudayaan Hadrami kepadamuwalladin, dan pengaruh yang mereka miliki di wilayah baru yang mereka tinggali.
 
Melalui makam di Tarim lah semua cerita ini bermuara. Bagaimana makam tersebut menjadi situs utama perziarahan bagi para Hadrami dan muwalladin, dan bagaimana hubungan-hubungan genealogis dibangun di atas pondasi makam sebagai penanda mereka. Melalui makam, hubungan genealogis, nama-nama yang digunakan, dan wilayah tujuan yang ditransformasikan sebagai wilayah asal, mereka membentuk identitas mereka: sebagai sayyid dari Hadramawt. Dengan identitas ini mereka diidentifikasi sebagai sosok individu, keturunan sayyid, dan masuk ke dalam marga-marga yang telah tersebar luas.
 
Ziarah menjadi sangat krusial untuk mengingatkan kembali pada Hadrami ini mengenai asal mula kehidupan mereka. Ziarah tidak hanya sekedar ritus formal mengunjungi sebuah makam dan berdoa kepada Allah agar mereka yang telah dikuburkan mendapatkan tempat terbaik di sisiNya. Ziarah adalah upaya untuk memperat hubungan genealogis, untuk menyambung kembali tali hubungan yang putus, dan untuk memperbaiki kembali mozaik genealogis yang retak. Ziarah menjadi momentum bagi para Hadrami yang telah jauh pergi untuk mengingat kembali siapa diri mereka, dari mana asal mereka, dan terutama sekali adalah genealogi mereka. Identitas mereka baru akan sempurna jika mereka telah mengingat kembali hubungan mereka dengan ‘leluhur’ mereka. Begitu pentingnya ziarah, sehingga mereka yang menolak untuk berziarah tidak lain adalah musafir yang melupakan rumah mereka, dan perlahan melupakan siapa diri mereka sendiri.
 
Hubungan-hubungan genealogis menjadi sangat penting, terutama ketika melakukan diaspora. Para non-sayyid Hadrami misalnya, akan lebih cepat kehilangan identitas historis mereka ketimbang para sayyid Hadrami, disebabkan retaknya hubungan yang mereka bangun. Pada Hadrami yang juga sayyid ini, membangun hubungan-hubungan khusus dengan mempertahankan eksistensi diri mereka melalui mekanisme genealogis, termasuk didalamnya seperangkat aturan kanon mengenai perkawinan. Meskipun demikian, mekanisme genealogis saja tidak lah cukup, sebab jika hanya bertahan pada mekanisme ini, yang muncul hanya lah para muwallad yang kehilangan rumah mereka. Makam dan keterikatan pada makan menjadi hal penting lainnya yang harus dilakukan untuk mempertahankan hubungan genealogis dalam diaspora yang dilakukan.
 
Tidak hanya memiliki keterikatan pada makam, identitas mereka juga dibentuk melalui bukti formal: surat yang menyatakan bahwa mereka adalah keturunan Hadrami. Barangkali agak mirip dengan Surat Kekancingan yang dibuat oleh Keraton Jawa, yang mengakui seseorang sebagai bagian dari trah darah biru. Maka melalui surat-surat dan dokumen lah trah keluarga sayyid Hadrami dipertahankan dengan membuktikan seseorang sebagai bagian dari keluarga besar sayyid. Tanda bukti ini menjadi sangat penting sebagai pengakuan formal dan justifikasi atas identitas Hadrami yang mereka miliki. Di sisi yang berbeda, sebagaimana Engseng Ho mengingatkan kita, bahwa ke-sayyid-an seseorang di masa kini dapat pula dimunculkan dalam penanda identitas yang diakui secara internasional : passport. Melalui passport lah diaspora abad modern dilakukan. Melalui passport lah ke-sayyid-an seseorang dipertahankan.
 
Dengan bukti tertulis, berupa hubungan-hubungan genealogis, seseorang dapat dengan mudah mempertahankan identitasnya, sekaligus menjadi acuan bagi kehidupannya. Para sayyid Hadrami ini pun, menggunakan bukti ke-sayyid-annya, memperoleh berbagai benefit dari masyarakat lokal di mana mereka meletakkan diri mereka dalam masyarakat. Benefit yang muncul sebagai akibat posisi mereka sebagai kosmopolitan lokal, dan dengannya mereka dapat memperoleh posisi yang lebih strategis dalam dinamika kehidupan di masyarakat.
 
 
V
 
kisah tentang ‘mereka’: catatan akhir
 
Then which of the Blessings of your Lord will you both (jinn and man) deny? (The Most Gracious [Ar Rahman]: 16)
 
 
Buku ini, meskipun membingungkan untuk dibaca, namun memberikan gambaran yang sangat baik mengenai kehidupan para muwallad. Dalam buku ini, Engseng Ho menceritakan kisah mereka melalui cara yang sangat lain dan unik. Buku ini bercerita mengenai kehidupan, bukan berpijak pada orang yang ada, namun pijak pada mereka yang tiada. Ini adalah kebalikan sepenuhnya dari globalisasi, yang gaungnya diwujudkan melalui suara orang-orang yang keberadaannya ada di mana-mana. Engseng Ho justru memulai dari makam. Tanpa suara, makam memberikan informasi yang luar biasa mengenai kehidupan masyarakat diaspora. Dalam pandangan Engseng Ho “a gravestone is a sign whose silent presence marks an absence”. Berdasarkan hal tersebut, sangat mudah melihat mengapa Engseng Ho memiliki ketertarikan tersendiri mengenai makam. Society of the absent mengambil pijakan dari makam, terutama bagaimana mereka membentuk identitas mereka.
 
Engseng Ho memberikan jalan lain bagi kita yang tertarik untuk meneliti diaspora: mulai lah dari mereka yang tidak dapat bersuara namun memberikan informasi yang jujur dan ‘akurat’. Melalui makam dan teks-teks hibrid Engseng Ho memulai petualangannya meneliti para Hadrami di luar wilayah asal mereka. Engseng Ho melihat terdapat keterkaitan antara identitas dan makam melalui serangkaian peristiwa konflik berkepanjangan terkait dengan perusakan makam di Yaman. Peristiwa yang sama pun pernah terjadi di Indonesia, yakni peristiwa bentrok di makam Mbah Priok, yang konon bernama Sayyid Al Habib Hasan bin Muhammad Al Haddad Husain As Syafi'i Sunnira. Terlepas dari perdebatan apakah makam yang ada di sana masih sudah dipindahkan atau belum, namun bentrokan yang terjadi menggambarkan betapa para Hadrami melihat makam sebagai jalinan pembentuk identitas mereka. Penodaan atas makam adalah sama dengan penodaan atas identitas, dan merupakan kewajiban untuk mempertahankan identitas diri yang terjalin pada situs-situs makam.
 
Membaca buku ini pun butuh perjuangan tersendiri, terutama kesukaan Engseng Ho menggunakan istilah yang aneh dan tidak biasa. Misalnya kreol, yang sepengetahuan saya digunakan untuk merujuk pada orang keturunan negro atau Eropa di Hindia Barat, namun digunakan sebagai sinonim atas muwallad. Beberapa istilah lain sepertischismogenesis misalnya, sulit dipahami sebagai satuan kata. Engseng Ho nampaknya menikmati betul berjalan melewati semak belukar istilah dan jargon antropologis yang membuat kerutan di dahi pembacanya.
 
Di sisi berbeda, saya harus memuji Engseng Ho atas keberaniannya menggunakan teks-teks, yang dalam pandangannya disebut sebagai teks hibrid. Meskipun saya secara pribadi tidak terlalu paham atas teks-teks tersebut, terlebih karena saya belum pernah melihat teks tersebut, namun Engseng Ho layak mendapat apresiasi atas kejeliannya membaca teks-teks hibrid tersebut. Di luar yang saya bayangkan, teks-teks yang diteliti oleh Engseng Ho mampu memberikan gambaran detail mengenai kehidupan para Hadrami di wilayah diaspora.
 
Terlepas dari berbagai kesulitan dalam membaca dan memahami pesan yang hendak disampaikan, buku ini adalah buku yang sangat baik dalam menggambarkan mengenai diaspora para Hadrami. Buku ini memberikan gambaran bagi saya, mengapa para sayyid yang saya kenal begitu sama sekaligus begitu berbeda. Saya sendiri memiliki keraguan, bahwa para sayyid yang saya kenal tidak lagi memiliki hubungan erat dengan tanah kelahiran mereka, namun agaknya saya harus mengembalikan urusan asal usul kepada mereka. Sebab mereka lah yang memiliki tanggungjawab moral merawat jalinan genealogis, sekaligus menjadi bagian dari mozaik besar kehidupan para Hadrami.
 
 
________________________________________
[1] Hadramawt sendiri konon diambil dari ucapan Nabi Hud ketika akan meninggal, yakni ‘Hadara al Maut”, yang artinya telah datang maut (baca: malaikat maut), sehingga nama wilayah tersebut dikenal dengan Hadramawt
 

 

 

 

Jadwal Salat