• umamnoer.com
  • 50 tahun Attaqwa Putri

bacaan hari ini: between biography and ethnography – M.D. Jackson

on . Posted in Catatan Tepi

Kali ini saya membaca tulisan Jackson yang mencoba menjelaskan hubungan antara biografi dan etnografi. Secara sederhana, Jackson melihat bahwa kecenderungan yang muncul adalah reduksi dari pengalaman hidup manusia ke dalam gambaran yang detail mengenai kondisi masyarakat namun tidak memberikan porsi pada setiap orang yang ada dalam gambaran besar tersebut. Dalam pandangan Jackson, setiap yang hidup (setiap manusia) dan kehidupan masyarakat adalah lebih kompleks dan bervariasi ketimbang yang diasumsikan oleh diskursus paradigmatik baik di lingkungan akademis maupun media populer. Dalam hal ini, kita diharapkan untuk lebih teliti dalam melihat sebuah gambaran besar mengenai masyarakat. Secara singkat Jackson menginginkan agar kita memberikan porsi yang lebih besar terhadap pengalaman individu, agar dapat memnciptakan sebuah konfigurasi yang lebih kaya, sehingga setiap orang dapat merepresentasikan pengalaman hidup mereka kepada diri mereka sendiri maupun yang lain.

 

Jackson melihat bahwa secara historis dan tipikal, antropologi sosiokultural mencari identitas-identitas yang singular dan kolektif. Ketika orang membaca sebuah karya etnografi, orang akan melihat gambaran mengenai orang-orang yang hidup di tempat yang sama, berpartisipasi dalam kegiatan yang sama, dan berbagi pandangan yang sama tentang banyak hal. Kecenderungan yang ada bukan lah pada fokus, misalnya, bagaimana keyakinan relatif (bagi setiap orang) di mana keyakinan yang umum dilaksanakan, namun pada aturan yang diikuti oleh setiap orang, peranan yang mereka mainkan, dan integritas dan keberlanjutan dari sistem sosial di mana mereka termasuk dalam bagian sistem tersebut. Konsekuensi logis dari hal ini adalah kecenderungan penelitian antropologi untuk menciptakan batasan diskursif antara keberagaman manusia dan pengekalan gambaran ilusif mengenai masyarakat non-Barat yang secara esensial tidak sama dengan mereka (Barat).
 
Hal ini merupakan gambaran yang tidak sepenuhya benar. Bahwa mozaik pada kain budaya pada dasarnya dijalin menggunakan jelujur benang yang berbeda, demikian pula masyarakat. Setiap orang yang bernaung di bawah pohon besar masyarakat adalah berbeda. Setiap orang memiliki kesamaan (dalam derajat tertentu) dan sekaligus berbeda dengan orang lain. Dalam kata lain, kemanusiaan kita memiliki kesamaan sekaligus perbedaan, dan identitas kita terdiri atas kondisi yang identik (dengan orang lain) dan secara unik berbeda dan dapat dikontraskan dengan orang lain. Jackson sendiri mencoba menjelaskan hal ini, dengan mengutip istilah Sartre, “singular universal”. Singular universal mengetengahkan sebuah gagasan bahwa setiap orang yang hidup dalam lingkungan kehidupan dan budaya, adalah tidak terontologi dan tidak pula terpolarisasi, namun dilihat sebagai dimensi yang unik yang dapat dibedakan “saya” dan “anda”, dan anggota lain dari budaya tersebut yang dapat mengklaim diri sebagai “kami”.
 
Hal ini dapat dilakukan dengan melewati subjek individu dan budaya sebagai fenomena yang sui generis, kita akan mencoba untuk mengeksplorasi jarak antara kemunculan, di mana in potentia menjadi in presentia, muncul dan menjadi realita. Mengutip Winnicott, Jackson mencoba menggambarkan bahwa budaya bukan lah sesuatu yang telah siap sedia, kebiasaan yang hadir di mana-mana, makna dan praktik yang terlokasi di dalam setiap individu atau di dalam lingkungan; namun budaya adalah potensialitas, aspek yang akan disadari dan pengalaman yang sangat beragam dalam kaitannya dengan interaksi dengan yang lain sebagaimana hubungan kita dengan lingkungan sehari-hari dan kegiatan-kegiatan yang di mana kita menemukan diri kita memiliki persamaan (dalam derajat tertentu) dan perbedaan sekaligus.
 
Lebih jauh Jackson mencoba menjelaskannya melalui gambaran kewajiban dan berkah bagi orang Kuranko di Sierra Leone, lebih khusus lagi pada dua orang individu: Sewa dan Noah Marah. Melalui gambaran Sewa dan Noah, Jackson ingin menggambarkan hubungan dialektik antara Sewa dan Noah secara individu, dengan lingkungan budaya yang melingkupi masyarakat Kuranko. Dalam hal ini, hubungan yang muncul adalah hubungan yang seringkali paradoks, antara Sewa dan Noah, dan antara mereka (masing-masing) dengan lingkungan budaya Kuranko. Jackson tiba pada satu pemahaman yang lebih penting, mengutip Nenedakis, bahwa terdapat keseimbangan fokus dalam antropologi, antara fenomena kolektif dan kehadiran setiap individu dalam fenomena kolektif tersebut. Dalam pandangan Jackson, hubungan manusia tidak dapat direduksi ke dalam istilah-istilah yang secara konvensional diletakkan bagi mereka, namun hubungan-hubungan tersebut harus diletakkan pada kerangka apa yang terjadi sepanjang waktu, dan bagaimana hal ini merefleksikan perubahan lingkungan eksternal dan kapasitas individu-individu. Pemahaman mengenai individu dengan demikian akan memperkaya pemahaman kita mengenai masyarakat secara keseluruhan dengan variasi yang lebih detail dan multiarah.
 

Jadwal Salat