• umamnoer.com
  • 50 tahun Attaqwa Putri

bacaan hari ini: culture as theater/culture as belief – V.P. Pecora

on . Posted in Catatan Tepi

Tidak banyak yang dapat saya katakan mengenai tulisan Pecora, selain bahwa saya belum menemukan apa yang sesungguhnya ingin dia katakan. Membaca Pecora seperti masuk ke dalam ruang gelap, di mana satu-satunya pengetahuan yang saya miliki adalah, saya tahu bahwa semakin jauh saya melangkah, saya semakin jauh dari jalan keluar. Dalam hal saya hanya meraba-raba.

Pecora, barangkali, berangkat dari sebuah fakta etnografis, bahwa etnografi klasik seringkali mendeskripsikan kebudayaan dalam konteks teatrikal. Berulangkali Pecora menjelaskan, bahwa apa yang dilakukan oleh Geertz, Mead, atau Evans-Pritchard, adalah meletakkan kebudayaan dalam inti sebuah pertunjukan drama teatrikal yang dimainkan oleh si pemilik kebudayaan. Saya membayangkan, bahwa yang dimaksud oleh Pecora pada dasarnya adalah kritik dia terhadap kegamangan antropolog di masa lalu yang cenderung memberikan deskripsi etnografis sama seperti seorang narator yang menceritakan adegan di sebuah panggung pertunjukan.

 
Pecora melihat bahwa apa yang ada di berbagai karya etnografis, berlusin-lusin foto, ribuan artefak di museum, bahkan gambaran etnografis mengenai kehidupan sehari-hari di antara ‘orang-orang primitif’, tidak lain dari apa yang dikatakan oleh Shakespeare sebagai sebuah panggung. Bagi Pecora, kondisi ini muncul dikarenakan panggung tersebut secara tersirat memang diperuntukkan bagi mata penonton Barat. Dalam hal ini, adalah kehausan dari penonton Barat untuk melihat sebuah pertunjukkan yang murni dan belum tersentuh modernisasi. Panggung tersebut bahkan beranjak lebih jauh lagi, bukan hanya bagi para penonton Barat, namun juga, mengutip Geertz, bagi pemilik kebudayaan (dalam hal ini mereka yang menyaksikan adu ayam di Bali). Kebudayaan secara tidak langsung adalah representasi teatrikal yang dimainkan secara penuh.
 
Bagi Pecora, bukan lah deskripsi mendalam maupun teknologi fotografi yang menjadikan ‘kebudayaan’ sebagai ‘teater’. Bagi para pendukung Geertz, hal ini terjadi ketika setengah abad yang lalu, di mana masyarakat modern dan kebudayaan bertransformasi, sedikit-demi-sedikit, ke arah pengalaman teatrikal, di mana setiap orang akan terpengaruh dan menjadi partisipan-observer dari kehidupannya.
 
Pecora sendiri melihat bahwa trend teatrikal ini bahkan menanjak lebih jauh lagi. Terpengaruh dari Durkheim, kategori “drama sosial” dan “penampilan (performance)” muncul di akhir 50an, dan semakin menguat di bawah teoritisi seperti Turner dan Goffman. Penggambaran ini menunjukkan betapa kebudayaan dimunculkan sebagai sangat jelas sebagai sebuah aksi teatrikal, di mana setiap orang memainkan sebuah peran yang harus dimainkan untuk menjaga keberlangsungan kebudayaan tersebut (walaupun saya lebih senang membayangkan agar para penonton tidak jenuh dan meninggalkan kursi mereka). Panggung yang ada, tempat di mana lakon kebudayaan dimainkan, secara langsung mengambil lokasi di mana pemain-pemainnya berasal, dan peran yang dimainkan pun berasal dari masyarakat tersebut. Dalam hal ini, setiap aksi simbolik adalah pengalaman teatrikal yang dimainkan secara baik dan sempurna.
 
Pecora menitikberatkan pada religi dalam tulisannya. Durkheim sendiri memainkan peran yang tidak kecil dalam abstraksi teatrikal yang dimainkan. Apa yang dilakukan oleh Geertz, Greenblat dan lain-lain, pada dasarnya meletakkan pengalaman teatrikal tersebut terkait dengan proses di mana pengalaman hidup seorang individu dibuat secara kolektif atau sosial dalam sebuah kegiatan yang memvisualisasikan intimasi. Bagi Pecora, apa yang dilakukan oleh Geertz dan Greenblat lebih pada ekspresi dari lingkungan pergaulan intelektual Barat yang modern yang mereka termasuk di dalamnya.
 
Namun di sisi yang berbeda, terdapat perkembangan lain, di mana kebudayaan tidak lagi dilihat sebagai pentas teatrikal, dan seringnya mengambil bentuk-bentuk religi, yang difungsikan untuk memuaskan mata para penontonnya. Kebudayaan dilihat sebagai sebuah keyakinan yang tidak melulu dikaitkan dengan drama maupun aksi teatrikal. Puncak arus balik terjadi ketika serangan 9/11. Pecora sendiri melihat peristiwa tersebut dalam kerangka ‘culture of surveillance’, di mana orang yang semula menjadi penonton seketika menyadari bahwa dirinya pun tidak luput dari pantauan kamera, dan mereka bereaksi dengan menjadi partisipan-oberver dalam kehidupan mereka sendiri, menjadi kehidupan yang didasarkan pada realitas.
 
Kebudayaan sebagai keyakinan memiliki fokus yang berbeda dengan kebudayaan sebagai teater. Fokus utamanya adalah bahwa kebudayaan yang dilihat sebagai teater ternyata memiliki kecenderungan untuk melakukan simplifikasi atas kebudayaan, karena hal ini dilihat melalui pandangan orang luar atas suatu kompleks kebudayaan. Dalam hal ini, Pecora nampaknya setuju dengan Talal Asad, bahwa sebuah kompleks kebudayaan berada dalam kesatuan historis yang berkaitan erat dengan perubahan konsep, dan bagaimana perubahan konsep mempengaruhi perubahan dari sisi praksis. Kebudayaan tidak lagi dilihat sebagai sebuah teater tunggal yang seakan statis dan tidak berubah. Dalam hal ini, perbedaan mendasar antara Geertz dan Greenblat di satu sisi dengan Talal Asad di sisi lain adalah pada fokus kepercayaan religi (religious belief). Hal-hal yang berhubungan dengan agama mengalami hentakan yang sangat kuat pada peristiwa 9/11, dan hal ini menyadarkan banyak orang, bahwa aksi teatrikal sebagaimana yang digambarkan selama ini, meniadakan adanya kompleksitas dan perbedaan di dalam kepercayaan religi itu sendiri.
 
Pecora membedakan kebudayaan sebagai teater dan kebudayaan sebagai keyakinan yang mengambil dasar para perbedaan tradisi antropologi. Kebudayaan sebagai teater melihat kebudayaan secara esensial sebagai kelompok fenomena yang dibuat berdasarkan representasi eksternal, di mana kepercayaan pada tingkat individu selalu dilihat sebagai yang hal kedua, yang kurang real dan tidak dapat diinterpretasi, sebagaimana sistem simbol itu sendiri. Di sisi yang berbeda, Asad maupun Bilgrami, berada pada satu posisi keyakinan, bahwa perubahan konsep (anggaplah konsep dalam agama) akan memiliki dampak serius pada sisi praksis, dan dalam hal ini, keyakinan individu harus menjadi inti dari pembicaraan. Yang dibicarakan bukan lah lakon yang dimainkan dalam sebuah panggung pertunjukan, namun setiap individu yang besar kemungkinan memiliki dimensi keyakinan yang berbeda.
 
Sebagai penutup, izinkan saya mengutip Pecora, bahwa “it would be hard not to concede that we are at a moment when rhetorical strategies for dealing with this ambiguity in the culture concept are changing. And that is a development fraught with both intriguing possibilities and great dangers.”

Jadwal Salat