• umamnoer.com
  • 50 tahun Attaqwa Putri

bacaan hari ini: identifying culture as a threshold of shared knowledge – D.D. Caulkins

on . Posted in Catatan Tepi

Tulisan Caulkins mencoba melihat bagaimana kebudayaan dilihat sebagai pengetahuan yang dimiliki bersama oleh anggota masyarakat. Dalam hal ini, Caulkins mencoba secara metodologis untuk membuktikan hal tersebut. Menggunakan tulisan Fredrik Barth sebagai langkah awal, Caulkins dengan sangat meyakinkan dapat membuat gambaran bagaimana sebuah kebudayaan merupakan pengetahuan yang dimiliki bersama, meskipun yang dijelaskan Caulkins pada mengambil manajemen lintas-budaya dalam studinya. Caulkins juga menggunakan metode analisis konsensus dalam tulisannya, bagaimana para informan memberikan jawaban, dan kemudian data tersebut diolah, menunjukkan sejauhmana derajat pengetahuan yang dimiliki bersama atau pengetahuan yang tidak dimiliki bersama (seringkali berwujud proto-kebudayaan, subkultur, dan lain sebagainya).

 

Dalam pandangan Caulkins, konsep kebudayaan memang telah lama mendapat serangan, bahkan dari para antropolog sendiri, yang disebabkan karena orang hanya berfokus pada konsep kebudayaan, yang dikritik karena mendorong pada kesalahan seperti menghomogenisasi, me’liyan’kan objek studi, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, Caulkins mengikuti pendapat Barth, mendorong untuk meninggalkan (atau membuang?) konsep kebudayaan, dan beralih ke pengetahuan. Dalam pandangan Barth, pengetahuan adalah apa yang dipakai oleh seseorang untuk menginterpretasikan dan bereaksi terhadap dunia di sekelilingnya, termasuk perasaan sebagaimana informasi, kemampuan sebagaimana taksonomi verbal dan konsep, seluruh cara untuk memahami yang kita pergunakan untuk melihat pengalaman kita dalam menjangkau realitas.
 
Caulkins sendiri, dalam tulisan ini, mencoba untuk menggunakan Barth, untuk melihat bagaimana kebudayaan dibagikan dalam konteks manajemen lintas-budaya. Dalam hal ini Caulkins mencoba melakukannya melalui tiga tahapan. Pertama, mengidentifikasi domain atau kategori dari pengetahuan, dengan menggunakan ‘freelisting’ untuk menetapkan elemen-elemen atau konten dari domain. Kedua, mengidentifikasi derajat dari kepemilikan bersama atau pembagian dari pengetahuan atau kebudayaan menggunakan analisis konsensus. Ketiga, mengidentifikasi koherensi dari pengetahuan tersebut dengan menguji cara para informan dalam organisasi dan bidang bisnis memprioritaskan elemen-elemen domain dari pengetahuan atau kebudayaan.
 
Caulkins menjelaskan domain sebagai subdivisi atau kategori yang berada dalam lingkup pengetahuan atau sistem makna dari populasi target. Domain-domain ini dikonstruksi dalam sebuah diskursus di antara anggota-anggota dalam organisasi, jaringan kerja, atau lapangan penelitian, dan dapat ditemukan melalui observasi partisipasi, wawancara, atau analisis isi dari dokumen. Domain dan elemen-elemennya adalah emik, dan merupakan bagian dari sistem pengetahuan lokal ketimbang kategori analisis yang dibuat oleh peneliti. Pengetahuan mengenai domain dapat dilakukan, dengan cara yang terbaik, melalui usaha mendengarkan setiap informan menggunakan bahasa ‘insider’ atau bahasa yang mereka miliki sendiri. Bagi Caulkins, dengan melakukan riset yang memfokuskan pada domain yang penting dalam sistem pengetahuan, kita dapat mengidentifikasikan yang nyata namun relatif mengambil bentuk yang remeh dari sebuah kebudayaan. Caulkins sendiri menyadari, bahwa hak ini hanya lah usaha yang sangat kecil dari sebuah kebudayaan yang luas.
 
Mengingat Caulkins memfokuskan pada manajemen lintas budaya, maka dua hal yang selalu muncul adalah dua hal pokok: pertama, layanan dan produk yang diproduksi oleh organisasi, dan kedua, masalah yang dihadapi oleh organisasi. Saya sendiri tidak mau terlalu panjang merangkum tiga contoh organisasi yang dicoba dijelaskan oleh Caulkins, cukup lah saya jelaskan dengan sangat ringkas. Apa yang dilakukan oleh Caulkins pada dasarnya mencoba melihat pengetahuan sebagai sesuatu yang dimiliki bersama. Dalam pandangannya, pengetahuan termasuk ‘evaluasi’ dari sesuatu. Setiap orang dalam organisasi tahu mengenai sejumlah masalah, dalam organisasi mereka, lebih penting ketimbang masalah yang lain, dalam hal ini nilai-nilai menginformasikan apa yang menjadi prioritas. Langkah selanjutnya adalah menggunakan analisis faktor untuk mengidentifikasi ‘cultural threshold of knowledge’. Dari hal ini kemudian diketahui tiga pola besar: pertama, persetujuan yang lemah atau domain proto-budaya. Kedua, idiosinkratik atau domain yang terpecah yang tidak memiliki struktur nyata. Ketiga, multisenter domain dengan kondisi subkultur yang saling menutupi atau tidak. Bagi Caulkins, kemampuan untuk mengintifikasi, tidak hanya kebudayaan, namun juga proto-kebudayaan, domain-domain yang terfragmentasi, subkultur atau kounter-kultur adalah tema pokok dalam manajemen lintas-budaya, karena organisasi yang besar maupun korporasi multinasional sangat mungkin menciptakan konfigurasi kebudayaan yang kompleks dan bermacam-macam.
 
Salah satu keuntungan menggunakan analisis konsensus, bagi Caulkins, adalah kemampuannya untuk mendefinisikan kebudayaan dengan lebih luas. Dengan mendefinisikan kebudayaan sebagai pengetahuan yang dimiliki bersama, kita dapat melihat kebudayaan sebagai sebuah fenomena dengan lebih luas. Kita menemukan, bahwa kebudayaan, sebagai dikatakan Barth, terdistribusikan, terisi secara emosional, terartikulasi secara internal, dan memiliki nilai yang berbeda-beda. Dengan menjelaskan inti metodologi untuk menjelaskan kebudayaan, proto-kebudayaan, subkebudayaan, kounterkebudayaan, dan fragmentasi domain, kita telah meletakkan pondasi eksplorasi empiris dari dari proses-proses budaya dalam bangunan konsensus.

Jadwal Salat