• umamnoer.com
  • 50 tahun Attaqwa Putri

bacaan hari ini: economic and philosophic manuscripts (1844) – K. Marx

on . Posted in Catatan Tepi

Menurut Marx, alienasi adalah hasil sistemik Kapitalisme. Teori Marx tentang alienasi (keterasingan) ini didasarkan pada pengamatan bahwa, dalam mode kapitalisproduksi, pekerja selalu kehilangan penentuan kehidupan mereka. Nasib mereka untuk “menjadi” dirampas, dan hak untuk membayangkan diri sebagai “pemilik”dari tindakan mereka, untuk menentukan karakter tindakan mereka, untuk menentukan hubungan mereka dengan aktor lain, untuk menggunakan atau memiliki nilai dari apa yang dihasilkan oleh tindakan mereka, tidak pernah mereka miliki.

 
Pekerja tidak pernah menjadi otonom, menyadari diri sebagai manusia, tetapi diarahkan dan dialihkan menjadi tujuan (atau alat?), dan kegiatan (atau hidup?) mereka didikte oleh kaum borjuis, yang memiliki alat-alat produksi untuk mengekstrak secara maksimal dari pekerja jumlah “surplus value” yang dimungkinkandalam kondisi persaingan antarindustrialis. Dengan bekerja, masing-masing menyumbang kekayaan bersama. Keterasingan dalam masyarakat kapitalis terjadi karena pekerja hanya dapat mengekspresikan aspek fundamental sosial individualitas melalui sistem produksi yang tidak kolektif, tapi milik pribadi. Sebuahaset yang diprivatisasi, yang masing-masing fungsi berdiri sendiri bukan sebagai“social being”, tetapi sebagai alat.
 
Lebih jauh, Marx mengidentifikasi empat tipe alienasi tenaga kerja di bawah kapitalisme, yaitu:
Pertama. Alienasi pekerja dari pekerjaan dia lakukan, dari hasil pekerjaan yang diakerjanya. Dalam hal ini desain produk dan cara yang diproduksi ditentukan bukan oleh produsen sebenarnya, atau bahkan oleh mereka yang mengkonsumsi produk, melainkan oleh kelas kapitalis, yang menyisihkan tenaga kerja - termasuk dari desainer dan insinyur - dan berusaha untuk membentuk cita rasa konsumen dalam rangka untuk memaksimalkan keuntungan.
 
Di sisi yang berbeda, selain kurangnya kontrol buruh atas desain dan produksi, namun bentuk keterasingan yang lebih luas mengacu pada konversi aktivitas kerja, yang dilakukan untuk menghasilkan nilai guna dalam bentuk produk, menjadi komoditas itu sendiri yang dapat diberi nilai tukar. Dengan kata lain, kapitalismengontrol pekerja (termasuk pekerja intelektual dan kreatif [bagi saya]) tidak hanya untuk mendapatkan sebuah produk yang menguntungkan secara nyata bagi konsumen, namun juga ke dalam sebuah konsep ilusi yang tereifikasi, konsep yang disebut “bekerja”, yang tidak lain merupakan kompensasi dengan upah serendah mungkin untuk mempertahankan maksimalisasi pengembalian modal jangka panjang.
 
Secara sederhana, di sini para pekerja teralienasi dari produk yang dihasilkan daritenaga kerjanya. Ketika seorang pekerja menghasilkan objek (produk), ia tidak pernahmemilikinya, namun produk tersebut segera masuk ke dalam tangan kapitalis. Selanjutnya, upah yang diberikan kapitalis untuk membayar pekerja untuk hasilproduksi jelas bukan nilai penuh dari produk, karena kapitalis membuat marginkeuntungan semaksimal mungkin.
 
Kedua. Alienasi pekerja dari “bekerja”, dari tindakan memproduksi itu sendiri.Keterasingan semacam ini mengacu pada pola kerja di mode kapitalis produksi gerakan yang tanpa akhir, berulang, sepele, dan tak berarti, dan menawarkan sedikit, jika ada, kepuasan intrinsik. Tenaga kerja pekerja adalah dikomodifikasi menjadi nilai tukar itu sendiri dalam bentuk upah. Seorang pekerja dengan demikian menjadi bergitu terasing dari hubungannya dengan aktivitasnya melalui upah tersebut.
 
Menurut Marx, seseorang baru dapat dikatakan sebagai ‘diri’ manakala dia mampumempertahankan kontrol atas subjek tenaga kerja dengan kemampuan untuk menentukan bagaimana hal itu akan digunakan secara langsung atau ditukar dengan sesuatu yang lain. Kapitalisme menghilangkan hak pekerja untuk menjalankan kontrol atas nilai atau efek dari kerjanya, merebut paksa kemampuannya, baik untukmengkonsumsi produk yang dia buat langsung, atau menerima nilai penuh dari produk tersebut ketika sudah dijual.
 
Secara sederhana, para pekerja yang teralienasi dari kegiatan tenaga kerja itu sendiri.Buruh tidak mencerminkan kecerdasan dirinya, atau membutuhkan kecerdasan tersebut untuk menghasilkan kreativitas. Produk yang dihasilkan ini luar diri pekerja.Dia tidak diperlukan untuk menggunakan kecerdasan sendiri atau kreativitas, dia hanya harus patuh.
 
Ketiga. Alienasi pekerja dari dirinya sebagai produser, dari dirnya sebagai "speciesbeing" atau "essence of a species". Bagi Marx, hakekat manusia adalah terpisah dari kegiatan atau pekerjaan, tidak statis, namun juga meliputi potensi bawaan untuk berkembang sebagai organisme yang bernama manusia. “Species being” merupakan sebuah konsep yang merujuk pada apa yang ia lihat sebagai esensi asli atau elemenintrinsik dari spesies, yang ditandai baik oleh pluralitas dan dinamisme: semua makhluk memiliki kecenderungan dan keinginan untuk terlibat dalam berbagai kegiatan untuk mempromosikan kelangsungan hidup mereka, sekaligus upaya untuk mempertahankan kelangsungan itu sendiri. Bagi Marx, manusia mampu mengobjektifkan upaya, apa yang disengaja dalam gagasan tentang dirinya sendiri (subjek) dan ide dari hal yang menghasilkan (objek). Hewan tidak mengobjektivasikan diri atau produk mereka sebagai ide-ide karena mereka terlibat dalam tindakan mandiri secara langsung, tanpa proyeksi mereka akan masa depan yang berkelanjutan.
 
Secara sederhana, para pekerja yang teralienasi dari memenuhi “kerja”. Karya yang iahasilkan sama sekali tidak memiliki kemungkinan yang berguna untuk pengembangan bakatnya. Hal ini karena spesialisasi dan pembagian kerja.Perkembangan teknologi telah menyebabkan proses produksi lebih banyak dan lebih mengandalkan pada jalur perakitan yang terpisah-pisah dan lebih dari proses keseluruhan yang dilakukan berulang-ulang oleh satu orang. Jadi, bahkan jika seorang pria tertarik untuk belajar bagaimana membuat sepatu, jika dia bekerja di pabrik sepatu, dia hanya akan berdiri di atas jalur perakitan, melubangi kain atau pengeleman karet. Dia tidak akan belajar cara membuat sepatu secara utuh.
 
Keempat. Alienasi pekerja dari pekerja lain atau produsen. Kapitalisme menjadikantenaga kerja sebagai komoditas komersial untuk diperdagangkan di pasar, bukan dari hubungan sosial antara orang-orang yang terlibat dalam upaya bersama untuk kelangsungan hidup. Pasar tenaga kerja yang kompetitif ditetapkan di negara industri kapitalis untuk mengekstrak sebanyak mungkin dalam bentuk modal dari mereka yang bekerja untuk mereka yang memiliki usaha dan aset lainnya yang mengontrol alat produksi (means of production). Hal ini menyebabkan hubungan produksi menjadi konfliktual, yang menjadikan pekerja berhadapan dengan pekerja lain, ataumengasingkan anggota dari kelas yang sama dari kepentingan bersama mereka. Sebuah efek yang disebut Marx sebagai kesadaran palsu (false consciousness).
 
Secara sederhana, para pekerja yang teralienasi dari sesamanya. Pasar bebas kapitalis dan status pekerja sebagai komoditas memaksa setiap pekerja untuk mengadopsi pandangan egois dan bersaing dengan pekerja lain untuk pekerjaan dan upah. Setiap manusia direduksi menjadi sekedar cara atau alat keberhasilan setiap individu, di mata setiap pekerja individu.
 

 

 

 

Jadwal Salat