• umamnoer.com
  • 50 tahun Attaqwa Putri

Tentang Saya

on . Posted in Uncategorised

Dilahirkan di sebuah desa kecil bernama Ujungharapan pada tanggal 23 Maret 1986, anak laki-laki kecil itu diberi nama Khaerul Umam Noer. Agak aneh sebenarnya, karena saya memiliki dua buah nama dengan hanya perbedaan kecil: Khoirul Umam Noer dan Khaerul Umam Noer. Nama kedua lebih saya gunakan, sebab nama kedua ini tercantum di ijazah. Saya memiliki dua buah akta kelahiran, dua buah KTP (yang satu sudah hampir mati), dan tercantum di dua Kartu Keluarga.

 

Dahulu desa tersebut lebih dikenal dengan Ujungmalang, dan konon atas saran dari Adam Malik berubah nama menjadi Ujungharapan. Desa tersebut kini menjadi kelurahan Bahagia, dan nama Ujungharapan telah turun pangkat hanya sebatas kampung. Kelurahan Bahagia terletak di Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi, Provinsi Jawa Barat, Indonesia.

 

Anak laki-laki kecil itu tumbuh sebagaimana anak laki-laki lainnya. Dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang panuh kasih sayang (hihihihihi), anak laki-laki kecil itu tumbuh menjadi laki-laki yang ada saat ini. Anak itu, merupakan kombinasi genetis yang mengagumkan. Perpaduan dari DNA Bekasi (ibu saya lahir dan dibesarkan di Bekasi) dan DNA Cirebon (ayah saya dilahirkan dan dibesarkan di Cirebon), perpaduan etnisitas Betawi dan Sunda, perpaduan temperamental yang berbeda, itu lah saya.

 

Saya dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang agamis, jika saya diizinkan menyatakan hal tersebut. Sejak usia sangat dini saya sudah dikenalkan dengan Islam. Sejak usia kanak-kanak saya sudah masuk Taman Kanak-Kanak yang memfokuskan pada pembelajaran Al Quran. Sayang sekali saat itu (sebelum tahun 1990) istilah Taman Pendidikan Al Quran belum dikenal, barangkali kalau sudah ada pasti saya dimasukkan ke TPA oleh orangtua saya.

 

Sejak TK saya sudah dibelikan Al Quran super besar. Saya masih menyimpan Al Quran tersebut. Al Quran hardcover dengan sampul berwarna biru bercampur ungu dan putih, dengan plastik laminating yang sudah mengelupas di sana-sini. Hurup Al Quran tersebut besar, sangat besar malah. Barangkali orangtua saya bertujuan agar saya dapat dengan mudah membaca Al Quran. Agak menggelikan sesungguhnya bagi saya, sebab ketika saya kali pertama memegang Al Quran tersebut bahkan saya tidak dapat mengangkatnya tinggi-tinggi, selain bahwa pada saat yang bersamaan saya masih belajar Iqra, entah jilid berapa. Kali pertama saya membaca Al Quran, saya ingat betul, butuh waktu hamper delapan tahun untuk menyelesaikan bacaan saya. Pada saat saya takhtim (menamatkan membaca Al Quran) untuk pertama kali, orangtua saya menyelenggarakan sebuah acara kecil-kecilan, dengan membagikan makanan ke saudara-saudara yang rumahnya berdekatan dengan rumah. Satu hal lain yang saya ingat, sejak saya takhtim itu, saya dibebaskan untuk memilih Al Quran mana pun yang saya suka.

 

Saya ingat, pilihan saya saat itu adalah Al Quran yang dibawa oleh ibu saya ketika dia pulang dari menunaikan ibadah haji pada tahun 1996. Al Quran tersebut terlihat begitu cantik di mata saya. Dengan ukuran yang jauh lebih kecil dari Al Quran pertama saya, AL Quran tersebut dibungkus dengan kain berwarna abu-abu yang dicap kaligrafi berwarna emas. Sangat disayangkan, Al Quran tersebut lenyap entah ke mana. Satu hal yang nampaknya jelas, sejak saat itu, setiap saya mengganti Al Quran, saya selalu memilih Al Quran yang dicetak di Arab Saudi, pun ukurannya semakin mengecil. Al Quran yang saya pergunakan saat ini, saya beli di sebuah toko di Madinah ketika melaksanakan haji pada tahun 2009 lalu, sebuah Al Quran seharga 27 real (jika di rupiah kan kurang lebih Rp. 67.500). Al Quran hardcover berwarna biru, dengan kertas yang sangat tipis, seperti kertas roti, dan ukurannya yang kecil, lebih besar sedikit ketimbang kartu ATM, dan ketebalannya yang tipis, membuatnya nyaman di genggaman tangan saya.

 

Saat saya mulai masuk ke sekolah dasar, saya dimasukkan ke Madrasah Ibtidaiyah tidak jauh dari rumah saya. Barangkali ini kebiasaan orangtua saya. Sekolah TK saya persis berada di seberang rumah, jadi ibu saya hanya mengantar ke pintu gerbang, melihat anaknya menyebrangi jalan, dan disambut oleh guru di pintu gerbang sekolah. Ibu saya, begitu saya telah selamat tiba di sekolah, yang memang berada di depan rumah, langsung masuk ke rumah dan bersiap untuk mengajar. Maklum lah, ibu saya bukan lah tipe ibu rumah tangga yang menetap di rumah sepanjang hari.

 

Sejak awal saya menyadari, bahwa ibu saya bukan lah milik saya pribadi, ia adalah milik masyarakat. Ibu saya adalah seorang yang mengabdikan separuh hidupnya untuk dunia pendidikan. Ia mengajar di, entah berapa banyak, majelis taklim perempuan yang ada di wilayah Bekasi dan Jakarta. Ia juga mengajar di Pondok Pesantren Attaqwa Putri. Setiap hari, ibu saya menerima banyak tamu. Saya sih senang-senang saja, toh banyak makanan yang tersedia, jadi dalam hal terdapat simboisis mutualisme antara saya dan ibu saya (hehehehehe). Ibu saya menyediakan banyak waktu untuk mengajar, sebanyak waktu yang ia sediakan untuk menerima kunjungan dari murid-muridnya. Seiring berjalannya waktu, saya menyadari bahwa yang dilakukan ibu saya terkait erat dengan status yang dia sandang. Sebagai anak dari seorang Pahlawan Nasional, kakek saya, Almaghfurillah KH. Noer Alie, konon katanya membesarkan anak-anaknya untuk meneruskan cita-citanya, membentuk sebuah masyarakat madani yang menjadikan pendidikan sebagai asas pembentuknya. Saya rasa kakek saya pasti bangga dengan anak-anaknya, entah apakah dia memiliki kebanggaan yang sama dengan cucu-cucunya.

 

Ayah saya, dalam banyak hal, memiliki perbedaan dengan ibu saya. Meskipun sama-sama mengabdikan diri pada dunia pendidikan, ayah saya tidak lah mengajar di taklim-taklim sebagaimana ibu saya. Ayah saya lebih tertarik membangun relasi-relasi pribadi dengan orang-orang ada di sekitarnya. Saat ini bahkan lebih ajaib lagi. Ayah saya adalah pendengar yang luar biasa. Dia dapat mendengarkan ocehan orang tanpa sekalipun membuat orang tersebut merasa telah mengoceh terlalu banyak. Akibat dari kemampuannya yang luar biasa ini, banyak orang yang tiba-tiba datang ke rumah mencari ayah saya. Tentu saja awalnya hal ini sangat mengagumkan. Bayangkan, agaknya ayah saya mengisi “celah kehampaan”, di mana orang hanya bicara tanpa mau mendengarkan. Saya bahkan sering tertawa terkikik ketika melihat ayah saya dalam posisi dewa: bersandar dengan miring, dengan tangan kanan menyandar ke pegangan sofa, dan tangan kirinya berada di pahanya, sebuah posisi sempurna yang menggambarkan seseorang yang sedang mendengarkan dengan seksama.

 

Ibu dan ayah saya, mereka sadari atau tidak, membentuk saya saat ini. Saya belajar banyak mengenai etos kerja, tanggungjawab dan loyalitas dari ibu saya, bagaimana ia bekerja untuk memajukan pendidikan murid-muridnya tanpa memandang batasan usia, gender dan etnisitas. Saya belajar banyak mengenai toleransi, keterbukaan dan humor dari ayah saya, bagaimana ia mampu membangun relasi dengan banyak orang sekaligus membuka diri mereka pada orang-orang tersebut. Kedua orangtua saya tentu saja mengajarkan banyak hal secara formal, namun mereka mengajarkan lebih banyak lagi secara non formal.

 

Saya adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Kakak pertama saya laki-laki bernama Adang Iskandar, sedangkan kakak kedua saya perempuan bernama Ade Nailul Huda. Sama seperti saya, kedua kakak saya menerima pendidikan yang sama baiknya dengan saya. Saat ini, keduanya sudah menikah, dan nampaknya mereka akan sangat sibuk dengan keluarga masing-masing. Kakak pertama saya menikah dengan perempuan bernama Siti Hinsyana Nunia, dan dikaruniai satu orang anak perempuan bernama Azka Arzaki. Kakak kedua saya menikah dengan laki-laki bernama M. Azizan Fitriana, dan dikaruniai satu orang anak perempuan bernama Ma’azzah Nurul Maula. Nah, karena saya saat ini belum menikah, saya menikmati waktu saya bermain dengan dua orang keponakan, yang walaupun sering bikin saya jengkel setengah mati, tapi mereka dapat membawa warna baru dalam kehidupan saya.

 

Saya lupa sampai mana bercerita. Ah ya, saya baru bercerita ketika saya masuk ke Madrasah Ibtidaiyah setingkat dengan Sekolah Dasar. Tahukah anda bahwa saya lompat kelas? Saya hanya mengenyam pendidikan kelas I hanya sekitar kurang dari dua bulan. Menurut kepala sekolah saat itu, yang juga masih saudara saya, saya itu kurang serius dalam mendengarkan pelajaran. Bukan karena saya malas atai bodoh, tapi materi yang diajarkan telah saya pelajari di rumah. Ketika teman sebaya saya masih berkutat dengan hurup alphabet dan hijaiyah di kelas, saya sudah mempelajarinya di rumah dan TK. Barangkali untuk alasan efisiensi, saya langsung dinaikkan ke kelas II. Hingga saat ini saya bersyukur bahwa saya lompat kelas. Bayangkan, saya memiliki saudara, yang secara kultural saya lebih tua, dia harus memanggil saya abang, jika saya saya tidak lompat kelas, maka saya harus memanggil dia kakak (dengan alasan senioritas). Ah senangnya bahwa kemungkinan itu tidak perlu terjadi.

 

Perjalanan akademik saya di tingkat sekolah dasar biasa-biasa saja. Tidak ada yang terlalu istimewa. Saya bersekolah di MIA 03 Al Barkah hanya sampai kelas III (karena pada saat itu memang hanya sampai kelas III saja), dan melanjutkan ke MIA 01 Pusat Putra untuk jenjang kelas IV-VI. Dapat saya katakan saya termasuk sangat baik dalam bidang akademik. Saya selalu berada di tiga besar, dengan tingkat yang fluktuatif. Satu hal yang akan selalu saya kenang, saya pernah mendapat nilai sepuluh di pelajaran Bahasa Arab pada kelas V, luar biasa (buat saya lho). Pada saat itu, setiap kegiatan kenaikan kelas, bagi yang ranking 1 sampai 3 dipastikan akan mendapatkan piagam. Saya masih menyimpan dengan baik piagam-piagam tersebut.

 

Perjalanan akademik saya dilanjutkan di Madrasah Tsanawiyah Attaqwa Pusat Putra. Mulai dari kelas I hingga kelas III saya jalankan dengan lancar, terlalu lancar malah. Tidak banyak kesan saya ketika saya berada di Madrasah Tsanawiyah, kecuali kebiasaan saya untuk duduk di bawah pohon sengon besar di samping jembatan di depan sekolah ketika istirahat siang. Sekolah saya adalah pondok pesantren, saat ini trend disebut fullday school. Saya mulai belajar pukul 07.00 pagi hingga pukul 12.00 siang, dari pukul 12.00-14.00 istirahat, dari pukul 14.00-16.00 kembali belajar, dari pukul 16.00-19.00 istirahat, dan dari pukul 19-21.00 muhadarah. Pada pukul 13.00 itu lah saya mulai duduk, ditemani beberapa teman sambil mengunyah pisang molen dan es teh. Saya bisa duduk di sana hingga waktu yang tidak ditentukan, biasanya sampai seorang guru, yang saya yakin hamper semua guru tahu tabiat saya untuk duduk di bawah pohon, memanggil semua murid yang ada di asrama untuk masuk kelas. Khusus untuk saya, sang guru bahkan harus memanggil nama saya melalui pengeras suara agar saya, dan teman-teman saya, bangun dari duduk dan masuk ke kelas. Celakanya hal tersebut berlangsung hamper setiap hari di setiap minggu.

 

Selesai di Madrasah Tsanawiyah, sebenarnya saya agak deg-degan. Ibu saya meminta saya melanjutkan di pondok temannya di Madura, Pondok Pesantren Al Amin di Sumenep, Madura. Astaga, tidak terpikirkan oleh saya untuk melanjutkan ke pulau garam tersebut. Akhirnya saya mampu memberikan argumentasi dengan menolak untuk melanjutkan ke Madura. Saya kembali melanjutkan ke Attaqwa. Saya meneruskan di Madrasah Aliyah Attaqwa Pusat Putra. Sebagaimana di Madrasah Tsanawiyah, karir akademik saya di Madrasah Aliyah pun berjalan dengan baik. Salah satu hal terbaik yang saya dapatkan ketika belajar di Madrasah Aliyah adalah kesempatan saya untuk menjadi senior. Saya dan teman-teman diangkat menjadi pengurus Persatuan Pelajar Attaqwa (PPA) pada tahun 2002. Saya sendiri diangkat menjadi Sekretaris Umum. Entah apa yang ada dipikiran Ketua Umum, waktu itu Iwan Rahmat, dengan mengangkat saya sebagai sekretaris. Barangkali pertimbangannya waktu itu saya dianggap mampu mengurusi manajemen dan administasi, selain fakta bahwa sekretaris adalah tumbal utama ketika melakukan berbagai kegiatan, sebab melalui sekretaris lah seluruh perizinan disampaikan ke pimpinan pondok, yang notabene adalah paman saya sendiri.

 

Anda boleh tanya ke teman-teman lain bagaimana saya menjadi sekretaris yang kejam dan bertangan besi. Pada masa saya menjabat sekretaris, saya mencabut seluruh hak setiap departemen untuk membuat surat-menyurat, sekaligus mencabut hak mereka untuk memohon perizinan. Dengan dicabutnya hak tersebut, saya merasa seperti orang penting (hihihihihi). Bayangkan setiap sabtu saya selalu diburu oleh teman-teman kepala departemen untuk mengajukan permohonan melakukan kegiatan, sebab seluruh surat dan perizinan harus sepengetahuan dan seizing sekretaris. Saya bahkan memaksa seluruh departemen untuk menghentikan seluruh kegiatan satu minggu sebelum Sidang Pleno Anggota PPA. Kepengurusan kami, di bawah tangan besi saya, yang mencatat sejarah: menyerahkan Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) dua hari sebelum Sidang Pleno Anggota PPA dibuka, dan diserahkan langsung kepada seluruh pimpinan di Pondok Pesantren Attaqwa Putra. Taktik tersebut berhasil memaksa Presidium Sidang untuk menolak usulan Dewan Perwakilan Kelas untuk mengadakan rapat terbatas untuk keperluan evaluasi. Argumentasinya sederhana: mereka kan sudah memegang LPJ dua hari sebelum pleno dimulai, harusnya mereka sudah rapat sebelum pleno dimulai. Dan dimulai lah Sidang Pleno dengan kemenangan 1-0 di pihak kami. Ketika saya menjabat sekretaris, cukup banyak yang saya lakukan, dan yang paling sering adalah membuat Ketua I, saat itu dipegang teman saya, Mirwan Nijan, menangis tersedu-sedu. Dia (Mirwan) adalah tipe melankolis, sang ratu drama. Saya akui, saya bukan lah sekretaris yang kelewat taat apa kata bos. Saya adalah tipe pembangkang. Meskipun demikian, saya selalu berusaha untuk menyelesaikan seluruh pekerjaan tepat waktu.

 

Saya menyelesaikan pendidikan Madrasah Aliyah saya pada tahun 2003. Ada yang unik pada tahun 2003. Pada tahun 2003 lah dimulai standardisasi nilai Ujian Nasional. Saya adalah angkatan pertama yang menjadi kelinci percobaan UN. Di saat teman-teman yang lain sibuk belajar UN, saya malah sibuk mempersiapkan SPMB (sekarang bernama SNMPTN). Saya memilih untuk mengambil les tambahan di bimbingan belajar Nurul Fikri, meskipun saya harus mengambil resiko bolos belajar setiap hari senin, selasa dan kamis. Jadual pun saya susun ulang, dan hanya membolos pada hari senin, sebab jadual bimbel saya ubah menjadi senin, jumat dan minggu. Setelah saya mengikuti bimbel, saya agak lupa, sepertinya satu bulan sebelum UN, saya iseng mendaftar di Universitas Paramadina, dan diterima di Jurusan Hubungan Internasional. Tak lama kemudian saya mendaftar di SPMB dan diterima di Universitas Airlangga, dan mengingat prospek di Unair lebih menyenangkan buat saya, saya melepaskan Universitas Paramadina. Saya lulus UN dengan nilai yang cukup meyakinkan, seyakin keyakinan saya bahwa setiap siswa di sekolah saya akan lulus. Saya yakin hal itu, mengingat kami adalah korban pertama, maka pihak sekolah pun melakukan berbagai upaya agar kami semua dapat lulus.

 

Setelah acara perpisahan dengan seluruh guru dan teman-teman, saya berpisah jalan dengan teman-teman saya. Di saat teman-teman saya lebih memilih untuk berkuliah di Jakarta dan Yogyakarta, saya tersesat sendiri di Surabaya. Saya harus akui, saya menikmati kesendirian saya di Surabaya. Saya kaget, ternyata saya tidak lah sesendiri yang saya bayangkan. Ternyata ada seorang saudara saya di Surabaya, seorang laki-laki bernama Ibnu Satria, yang ternyata pula satu angkatan dengan saya di Universitas Airlangga walaupun berbeda fakultas. Saya adalah mahasiswa FISIP jurusan antropologi, sedangkan dia adalah mahasiswa FK jurusan pendidikan dokter. Saya rasa dunia dengan dunianya, terkadang sangat, berbeda. Meskipun dia sudah berada di Surabaya sejak SMA, saya lebih mengenal Surabaya dari pada dia. Boleh jadi hal ini disebabkan saya di Surabaya menggantungkan hidup saya pada angkot (di Surabaya dikenal dengan nama Lyn) dan taksi, sedangkan dia menggantungkan hidupnya pada mobil dan motor (yang menurut pengakuannya sangat jarang digunakan).

 

Secara umum dapat saya katakana kehidupan saya di Surabaya sangat menyenangkan. Saya kos di Dharmawangsa Barat No.18, di rumah Bapak Kasmari lah saya tinggal selama enam tahun. Di rumah tersebut, ibu saya menyebutnya kandang burung, sebab saya tinggal di lantai dua, sedangkan si ibu kos dan keluarganya berada di lantai 1. Terdapat enam kamar di lantai dua, awalnya tujuh kamar, tapi satu kamar dibongkar untuk menciptakan ruang tamu di belakang. Kamar tersebut tidak pernah terisi penuh. Pada awal saya datang tahun 2003, terdapat enam kos laki-laki di sepanjang Dharmawangsa Barat, dan ketika saya meninggalkannya pada tahun 2010, hanya dua tempat yang masih bertahan: kos tempat saya dan kos yang berada di depan kos saya. Saya memperhatikan, bahwa umumnya laki-laki yang kos membawa kendaraan, dan mereka lebih memilih untuk kos yang agak jauh dengan pertimbangan harga kos yang lebih murah (beberapa bahkan nekat pulang-pergi walaupun dia tinggal di Sidoarjo bahkan Gresik).

 

Saya enggan pindah dari kos saya yang lama sebab letaknya yang strategis. Hanya berjalan lima menit saya telah tiba di jalan Airlangga-Dharmawangsa, dan tercatat sepuluh angkutan yang melewati jalan tersebut ke segala arah di Surabaya, dan tercatat puluhan penjual makanan siap memenuhi selera saya atas masakan. Saya bukan orang yang suka pilih-pilih makanan atau pun tempat makan, oleh karena itu saya menikmati seluruh tempat makan di sekitar kos saya, bahkan dalam radius 2km dari kos saya. Saya bahkan punya hobi baru ketika di Surabaya, saya suka naik lyn hanya untuk tahu lyn yang saya tumpangi melewati jalan apa saja, pertokoan apa saja, pasar apa saja, rumah sakit apa saja, taman apa saja, kantor apa saja, dan berakhir di mana lyn tersebut. Hobi ini tidak jarang membuat saya tersesat, dan taksi adalah penyalamat saya. Saya akui hobi saya itu agak mahal dan kurang bermanfaat, tapi saya menikmatinya sebagai bagian dari ritus peralihan saya.

 

Masa kuliah sarjana saya lalui dengan lancar. Sesuai target, saya sudah menyelesaikan penulisan skripsi saya pada semester tujuh. Hanya ada sedikit masalah. Pihak fakultas tidak mengizinkan saya mengambil KKN pada semester enam, alhasil saya harus ikut KKN semester tujuh. Kondisi ini unik, sebab saya sudah dinyatakan lulus secara yudisium padahal saya belum KKN, dan ini membuat saya harus mengikuti wisuda semester delapan, menunggu nilai KKN turun. Saya wisuda pada Oktober 2007 dengan nilai cum laude, ya walaupun mepet-mepet cum laude. Nilai IPK saya pas 3.50, batas minimal cum laude. Akibat dari telatnya saya wisuda, saya tidak mungkin langsung melanjutkan, sebab ijazah belum keluar. Saya berpikir praktis, saya akan melanjutkan ke jenjang magister di mana tidak dibutuhkan ijazah, cukup surat keterangan. Di mana lagi saya bisa melakukan hal itu kecuali di Universitas Airlangga, tempat di mana s1 saya berasal. Tolong jangan salah paham, bukan berarti saya tidak menyukai almamater saya. Saya mencintai almamater saya sebab melalui Amrta Airlangga lah saya seperti ini. Maka melaju lah saya di jenjang magister, dan saya mantap memilih Ilmu-Ilmu Sosial sebagai jurusan saya.

 

Saya memiliki banyak kenangan sangat manis ketika sarjana. Pada saat itu lah, untuk pertama kalinya saya jatuh cinta pada antropologi. Bayangkan seperti ini. Saya dididik dalam tradisi pesantren, maka tidak ada antropologi dalam pendidikan saya. Alasan saya memilih antropologi adalah karena saya percaya Allah menghendaki demikian. Ketika saya hendak memilih jurusan di IPS, saya mantap memilih sastra Arab UI sebagai pilihan pertama, dan pilihan kedua beum ditentukan. Maka saya menggelar pilihan jurusan, mengambil koin, membaca basmalah, dan melempar koin tersebut. Koin tersebut jatuh di Universitas Airlangga dan menutupi tiga pilihan: sosiologi, antropologi, dan ilmu politik. Saya berpikir, sosiologi? Saya mengasosiasikan ilmu ini dengan statistik, dan karena saya tidak bisa statistik maka saya menolak memilih sosiologi. Ilmu politik? Hmm… saya rasa saya tidak suka politik, oleh karena itu saya tidak memilih ilmu politik. Antropologi? Apa yang saya tahu tentang antropologi? Tidak ada. Saya mengasosiasikan antropologi dengan arkeologi, saudara saya bahkan mengasosiasikan ilmu ini dengan ilmu perbintangan (barangkali maksudnya astronomi). Setelah menimbang, saya memilih antropologi dengan alasan sederhana: saya anggap ilmu itu unik sebab saya sama sekali tidak tahu subjek yang dibahas. Ilmu ini menjadi lebih unik sebab hanya saya di keluarga besar saya, bahkan di lingkungan sosial saya, yang mau mengambil subjek ini.

 

Antropologi, di satu sisi bagi saya adalah sebuah bentuk pelarian. Keluarga besar saya banyak yang menceburkan diri pada bidang ilmu agama. Buat saya hal tersebut tentu bukan masalah yang harus dibesar-besarkan. Barangkali saya bisa membuat statistik sederhana. Dari sepuluh orang, lima dipastikan akan dikirim ke Timur Tengah, tiga orang dengan senang hati mendaftar di universitas berbasis Islam, satu orang akan memilih universitas yang masih berbau Islam, dan satu orang lagi adalah devian. Saya adalah devian tersebut. Sendiri memilih universitas sekuler (barangkali keterlaluan membandingkan Airlangga dengan UIN), dengan jurusan yang tidak hubungannya sama sekali dengan agama yang saya anut. Di sisi yang berbeda, saya jatuh cinta dengan antropologi sebab membuat saya menjadi lebih terbuka. Orang-orang di sekeliling saya selalu menilai bahwa saya memiliki pemikiran yang kelewat sekuler, walaupun saya kadang bingung di mana letak sekuleritas (jika memang boleh disebut sekuleritas) saya.

 

Menjadi sarjana antropologi membawa kebahagiaan tersendiri buat saya. Antropologi dapat menjawab kesenangan saya berkeluyuran di daerah orang. Bayangkan. Sejak semester satu hingga semester enam selalu terdapat kuliah lapangan. Saya sudah menghitung, rasanya hampir seluruh kota di Jawa Timur dan Jawa Tengah telah saya datangi. Namun kesenangan saya sedikit berkurang ketika menginjak program master dalam bidang antropologi. Ketika mengambil program sarjana, saya banyak ditemani oleh teman-teman yang menyenangkan. Saya akui, saya memiliki kelompok tersendiri yang sama-sama doyan jalan, sama-sama doyan makan, dan sama-sama doyan keluyuran. Saat ini saya kangen berat sama teman-teman saya itu.

 

Perjalanan akademik saya di pascasarjana antropologi boleh dibilang berjalan sangat baik. Meskipun pada awalnya ada persitegangan antara saya dan pihak fakultas, terutama dengan hilangnya matakuliah antropologi pada semester dua dan tiga. Saya diberi tahu, bahwa antropologi adalah peminatan yang ditawarkan, bukan program studi itu sendiri. Ah rasanya saya ditipu. Tapi tidak apa-apa lah. Tidak ada penipuan jika dalam ilmu pengetahuan, jadi saya sih terima aja. Di program pasca ini, saya tidak menemukan teman yang memiliki minat yang sama dengan saya. Saya maklum sepenuhnya, sebab teman-teman pasca saya sebagian besarnya sudah bekerja, dan sebagian besar lainnya sudah berkeluarga. Jika dibandingkan dengan saya yang belum bekerja dan belum menikah, dapat berjalan tanpa beban adalah sebuah kemewahan buat mereka.

 

Pada saat pasca ini lah saya mulai membangun karir akademik saya (hohohohoho). Saya mulai mengembangkan minat saya. Hingga saat ini saya mengakui bahwa saya memiliki begitu banyak minat. Saya memiliki minat dalam bidang kajian perempuan (yang saya yakin karena latar belakang historis saya), bidang kajian budaya popular (yang saya yakin karena minat saya pada musik dan film), bidang kajian perubahan sosial terutama di pedesaan Jawa (sebenarnya saya tertarik bidang ini gara-gara teman), dan saat ini saya sedang tertarik bidang kajian postcolonial (saya yakin ini gara-gara mantan dosen saya yang selalu menyuruh saya membaca Orientalism dari Said). Bagi saya, minat-minat tersebut bukan lah untuk dipertentangkan atau dipilah-pilih. Saya menyukai seluruh minat-minat tersebut, setidaknya hingga saat ini.

 

Lulus dari program pascasarjana minat studi antropologi, saya mendapat hadiah luar biasa dari ibu saya: berangkat haji. Adalah sebuah anugerah bagi saya, sebab berangkat haji adalah mimpi bagi semua pemeluk agama Islam. Menunaikan rukun Islam yang kelima merupakan pengalaman paling unik yang pernah saya alami. Saya merasa bahwa saya sedang melakukan mudik. Mudik atau kembali ke udik, adalah kembali ke asal muasal di mana saya berasal. Meskipun saya dilahirkan di Bekasi, saya menghormati tanah kelahiran ayah saya di Cirebon, dan bagi saya Cirebon hanya lah satu kota di Jawa Barat tempat DNA saya berasal. Tidak lebih dan tidak kurang. Oleh karena itu saya tidak pernah menganggap perjalanan ke Cirebon sebagai mudik. Perjalanan mudik saya adalah ke Tanah Suci. Ini adalah perjalanan kedua saya ke sana. Saya pernah mengunjungi tanah suci dalam rangka umrah pada tahun 1996. Tidak banyak yang saya ingat pada masa itu, maklum saja, saya baru berusia sepuluh tahun. Tiga belas tahun kemudian saya kembali dan mencoba menyesap kembali semua memori itu.

 

Perjalanan haji menjadi pengalaman yang tidak terlupakan. Empat puluh hari bersama dengan sembilan puluh orang (KBIH yang saya ikuti membawa jamaah dua bis atau setara 90 orang), dan berinteraksi selama itu dengan orang-orang tersebut. Berbeda dengan kegiatan penelitian lain yang pernah saya lakukan, berinteraksi selama empat puluh hari membawa nuansa yang sama sekali baru. Selama empat puluh hari itu pula saya mencoba sedikit mengesampingkan rasa keindonesiaan saya dengan sedapat mungkin menolak makanan Indonesia. Sudah saya katakan, saya adalah pemakan segala. Saya menikmati semua jenis makanan yang ada di Arab Saudi, sambil membayangkan proses membuatnya, siapa tahu bisa saya aplikasikan ketika saya kembali ke Indonesia.

 

Kembali ke tanah air saya secara tidak langsung menambah bobot pada nama saya. Tiba-tiba saya sering dipanggil “aji Umam”, dan tiba-tiba pula saya merasa risih. Pada awalnya panggilan tersebut terasa sangat asing, bahkan rasa itu belum juga hilang hingga saat ini. Saya merasa tidak nyaman dengan panggilan tersebut. Saya sadari sepenuhnya, bahwa panggilan tersebut berkaitan erat dengan status baru dan peran yang harus saya mainkan dengan status tersebut. Saya adalah seorang muslim yang dianggap paripurna sebab telah menunaikan ibadah haji, dan peran yang harus saya mainkan adalah peran sebagai orang berhaji yang baik dan benar. Tentu saja hal ini cukup menyulitkan. Bahkan tanpa peran baru ini pun, peran yang saya mainkan sudah cukup kompleks. Namun, mengutip teman saya, bahwa peran yang saya mainkan adalah sebuah kemewahan yang hanya dapat dinikmati oleh segelintir kecil orang, dan saya tidak sepatutnya mengeluh terus-menerus mengenai hal tersebut. Barangkali teman saya benar. Bayangkan bahwa saudara saya yang baru akan membayar biaya ONH, baru akan mendapat jatah kuota pada tahun 2013, tiga tahun lagi tanpa adanya kepastian umur. Mengingat hal tersebut, saya pun berhenti mengeluh dan mencoba beradaptasi dengan peran baru ini.

 

Kembali dari tanah suci satu kegiatan besar menanti: melanjutkan studi saya. Banyak orang bertanya, untuk apa saya belajar terus. Saya katakan bahwa saya mengikuti anjuran nabi dengan belajar terus hingga akhirnya saya mati (^^). Di satu sisi, saya melakukan ini karena permintaan khusus ibu saya. Ibu saya menuntut agar saya dapat menyelesaikan jenjang pendidikan tertinggi yang dapat dicapai, dan karena saya sangat menghormati dan mencintai ibu saya, saya enggan menolak permintaan tersebut. Di sisi yang lain, saya menyadari bahwa melanjutkan pendidikan adalah semua anugerah yang tidak dapat dicapai oleh semua orang, dan dengan menyia-nyiakan kesempatan tersebut saya khawatir dikatakan sebagai orang yang kufur nikmat. Saya sendiri menyukai belajar karena saya tidak memiliki beban. Saya belum berkeluarga, dan dengan demikian membuat langkah saya lebih ringan dalam melakukan banyak hal.

 

Akhirnya saya memutuskan untuk kembali melanjutkan pendidikan saya. Akhirnya saya pindah dari Surabaya dan menjadi penghuni baru Depok. Di Universitas Indonesia saya berlabuh. Melanjutkan program doktoral saya, sambil terus meyakinkan diri bahwa saya sanggup bertahan dan menyelesaikan studi saya. Memang bukan hal yang ringan, namun saya rasa saya tidak perlu terlalu khawatir. Terhitung sejak Agustus 2010 saya menjadi penghuni kota yang baru ini. Saya sedang mencoba memahami ruwetnya jalan kota ini, sambil mencoba berbagai moda angkutan dari dan ke kota ini. Di rumah saya, Bekasi, adalah sebuah kemewahan saya dapat keluyuran naik angkutan umum, dan dengan migrasi saya ke Depok, saya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk naik angkutan umum, sebagaimana yang sering saya lakukan ketika berada di Surabaya. Cukup lah hingga saat ini saya katakana bahwa saya menyukai Depok, meskipun kota ini belum dapat saya anggap sebagai rumah ketiga saya. Rumah pertama saya adalah tempat saya dilahirkan, dan Surabaya akan selalu menjadi rumah kedua saya. Apakah Depok akan menjadi rumah ketiga saya? Hanya waktu yang bisa menjawab pertanyaan ini.

 

Akhirnya, sebagai penutup, saya dapat mengatakan bahwa masa lalu saya lah yang membentuk saya saat ini. Apa yang anda lihat dalam catatan super ringkas, dari dua puluh empat tahun hidup saya. Dalam perjalanan hidup saya, waktu adalah batasan saya, dan proses adalah aktivitas saya. Saya menyenangi hidup saya saat ini dengan keyakinan yang sama besarnya dengan keyakinan bahwa saya pun akan menyukai kehidupan saya nanti. Akan jadi apa saya nanti, lima, sepuluh, dua puluh tahun lagi? Entah lah. Hanya kepada Allah lah saya bergantung dan meminta, dengan harapan saya dapat menjadi diri saya apa adanya.

Jadwal Salat