• umamnoer.com
  • 50 tahun Attaqwa Putri

Beranda

Setelah Silatnas, sebuah tanggapan

on . Posted in Catatan Kaki

Menanggapi tulisan abang saya, Cecep Maskanul Hakim di blognya (klik DI SINI), maka izinkan saya bertutur, tentunya dari sudut pandang saya sebagai Sekretaris Panitia Silatnas 2013. Jawaban yang lebih singkat sejatinya telah saya kirimkan ke milis Attaqwa, namun karena ini blog saya sendiri, saya merasa lebih bebas bertutur di sini.

Pertama, atas nama Panitia Silatnas IKAA 2013 kami mengucapkan terimakasih atas bantuan dan kehadiran semua alumni anggota IKAA pada acara Silatnas kemarin. Kedua, saya setuju sepenuhnya dengan tulisan bang Cecep, dan seperti yang saya tulis sebagai jawaban atas kritik bang Darso, maka izinkan saya menjawab. 

Meninjau Ulang Teori Migrasi, Di Mana Posisi Perempuan? Kritik, Tawaran, dan Implikasi

on . Posted in Catatan Khusus

ABSTRAK
 
Sepanjang sejarahnya, teori mengenai migrasi telah mengalami pasang-surut. Dimulai dari sudut pandang ekonomi, hingga pada posisi aktor pelaku individu. Namun perkembangan teori migrasi melupakan satu faktor penting: perempuan. Tulisan ini memiliki tujuan ganda: Pertama, melakukan kritik atas bangunan teori migrasi yang mengabaikan perempuan, baik sebagai pelaku migrasi maupun sebagai pihak yang berkepentingan untuk mengkonstruksi bangunan teori migrasi. Kedua, tidak berhenti pada kritik, tulisan ini mencoba memberikan tawaran feminisme atas bangunan teori migrasi dan apa implikasinya atas bangunan itu sendiri. Secara umum tulisan ini dibagi dalam tiga bagian. Bagian pertama akan mengekplorasi teori migrasi klasik yang menitikberatkan pada ekonomi dan teori migrasi kontemporer yang menitikberatkan pada aktor pelaku migrasi; bagian kedua merupakan kritik atas dua bagian sebelumnya, yakni melihat bagaimana sebenarnya posisi perempuan dalam bangunan teori migrasi; dan bagian ketiga merupakan  tawaran sekaligus implikasi atas tawaran feminisme terhadap teori migrasi. Sebagai kritik atas tidak munculnya suara perempuan dalam teori migrasi, maka kritik atas bangunan teori migrasi yang bias menjadi sangat penting, sebab dalam teori migrasi klasik maupun kontemporer, posisi perempuan sangat terabaikan. Terabaikannya perempuan membuatnya tidak mampu mengabarkan pengalaman mereka, akibatnya jelas: perempuan tidak diikutsertakan dalam konstruksi pengetahuan, terlupa, tenggelam dalam dinamika diskusi teori migrasi.
 
Kata kunci: teori migrasi, ekonomi, diri, perempuan, feminisme Add a comment

Balada guru bimbel, bagian 2

on . Posted in Catatan Kaki

Hari ini saya berpikir ulang mengenai apa sebenarnya guru itu. Dahulu saya berpikir, bahwa guru hanya lah sosok yang memiliki satu tugas pokok: masuk kelas dan mengajar. Hanya itu. Tidak lebih. Tidak kurang. Namun sejak saya diberi amanah untuk membantu mengisi bimbingan belajar sosiologi, memang bukan keilmuan saya, bagi kelas XII, setiap tahunnya saya semakin memahami apa hakikat guru itu.

"Maaf, anda gay ya??", Part 3

on . Posted in Catatan Kaki

Apa reaksi anda jika seseorang, yang tidak anda kenal, tiba-tiba bertanya di muka umum, apakah anda gay atau tidak. Alamak. Bikin panas-dingin, mengutip Syahrini, cetar membahana badai hehehehe. Sesungguhnya saya tidak tahu mengapa saya selalu berhubungan dengan kelompok ini. Pertanyaan tersebut adalah kali ketiga saya ditanya, dan ketiganya selalu di tempat umum dengan suara nyaris berbisik.

Add a comment

bacaan hari ini: discipline and punish - Michel Foucault

on . Posted in Catatan Tepi

the body now serves as an instrument or intermediary: if one intervenes upon it to imprison it, or to make it work, it is in order to deprive the individual of a liberty that is regarded both as a right and as prosperty

 
I
 
Tidak mudah membaca Foucault, tidak hanya karena persoalan kerumitan bahasa yang ia pergunakan, namun juga pada kisah yang coba ia tuturkan. Buku ini, “disiplin dan hukuman: kelahiran penjara” merupakan buku yang diterjemahkan dari bahasa Perancis dengan judul “Surveiller et punir: naissance de la prison” yang terbit pada tahun 1975. Dalam buku ini Foucault mencoba mengkaji mengenai mekanisme sosial, dan teoritik, di balik perubahan besar yang terjadi dalam sistem pidana barat pada abad modern. Meskipun berfokus pada dokumen sejarah dari Perancis, tapi apa yang dilakukan oleh Foucault dapat diaplikasikan hingga masa kini. Add a comment

Masih soal identitas nasional, lalu di mana relevansinya Sumpah Pemuda?

on . Posted in Catatan Khusus

Beberapa hari ini saya bosan setengah mati mengikuti perdebatan mengenai identitas nasional. Tolong jangan salah paham. Bukan berarti saya menganggap identitas nasional tidak penting, hanya saja rasanya perbincangan mengenai identitas nasional kok persis kayak kurma. Kalau kurma hanya muncul ketika Ramadhan, maka perbincangan mengenai identitas nasional hanya muncul ketika menjelang kemerdekaan Agustus dan mendekati sumpah pemuda pada oktober.

Add a comment

bacaan hari ini: building engagement: ethnography and indigenous communities today – E. Cervone

on . Posted in Catatan Tepi

with its focus on power imbalances, engagement is a form of anthropological inquiry that responds to the epistemological problems related to the production of ethnographic knowledge involving indigenous societies

 
Melalui tulisannya, Emma Cervone, secara eksplisit menjelaskan mengenai pentingnya membangun hubungan erat (engagement), antara etnografi dan komunitas asli yang menjadi subjek penelitian. Secara implisit, Cervone, meminta agar setiap antropolog mempertimbangkan kembali mindset yang telah mengakar kuat dalam tradisi antropologi, yang terpengaruh kuat dari model positivis, yang memberikan jarak yang lebar antara antropolog yang akan melakukan kegiatan etnografi dengan komunitas yang menjadi objek (sesuai dengan terma postivis) penelitian. Add a comment

Dani, Solidaritas Mekanik, dan Jerat Kapitalistik

on . Posted in Catatan Kaki

Catatan ini ditujukan bagi senior saya, sahabat sekaligus saudara seiman saya, abang Syafiuddin Abdullah a.k.a Dani yang sukses tereliminasi pada acara Akademi Sahur Indosiar tadi pagi. Seorang teman bertanya, dieliminasi ko sukses? Izinkan saya menjelaskan.

Satu hal yang harus dipahami, bahwa dieliminasinya ustad Dani adalah persoalan sms. Ada dua kemungkinan: entah sms Dani berkurang dari hari sebelumnya, atau boleh jadi smsnya bertambah hanya pertumbuhannya kalah cepat ketimbang lawannya. Kita bisa beradu argumen sampai lebaran tentang mana yang paling benar, namun satu hal mutlak yang tidak mungkin dibantah: ini bukan urusan siapa yang logikanya paling yahud atau retorikanya paling mantap. Ini soal SMS.

Add a comment

bacaan hari ini: the graves of tarim, genealogy and mobility across the indian ocean – Engseng Ho

on . Posted in Catatan Tepi

 I

 
mereka yang pergi: menuju daerah asing
 
And it is He who tamed the sea, that from it you might feed on flesh tender and fresh, and pull fineries to costume yourselves with, and see the ship plying its water. That you might desire His bounty. Perchance you would give thanks (The Bee [An Nahl]: 14)
 
Membaca buku ini seperti berada di dalam kereta ekspress menuju masa lalu, menyusuri lorong-lorong sempit dan gelap, dan terlempar kembali ke masa kini. Harus saya akui, membaca Engseng Ho adalah sebuah tantangan, terutama dengan cara Engseng Ho menggambarkan masa lalu dengan kilatan cepat, membuat siapapun yang ketinggalan kereta akan kesulitan melihat kilatan tersebut. Add a comment

Apa kabar museum kita?? (bagian 2)

on . Posted in Catatan Kaki

Apa kabar museum kita??

Hari ini saya baru saja pulang habis menyasarkan diri, kalau kesasar kan tidak disengaja, nah ini disengaja, di Taman Mini Indonesia Indah. Awalnya saya berencana ke Museum Nasional, tapi ketika melihat angkutan 19 Depok-TMII ngetem di depan Gunadarma, tanpa pikir panjang saya segera naik. Rupanya saya salah. Supir angkutan itu benar-benar penipu. Ketika saya tanya “Bang Taman Mini??”, dia jawab “Iya”. Rupanya dia tidak belok ke TMII, malah langsung ke Kampung Rambutan balik ke Depok. Sungguh menyebalkan. Akhirnya kepada taksi pula lah saya berpaling.

Add a comment

Gaga, kaum hipokrit, dan kelas konsumen baru

on . Posted in Catatan Kaki

Setelah mual dibombardir dengan berita Sukhoi, tanpa mengurangi rasa belasungkawa saya atas semua korban joy flight tersebut, kini berita didominasi oleh sangMother Monster, Lady Gaga. Lama saya berpikir, apa yang membuat saya dengan ikhlas mengeluarkan uang untuk membeli cd album The Remix dari si ibu monster itu ya?? Bagi saya, suara Gaga sebenarnya tidak lah istimewa. Lalu apa sebabnya?? Saya teringat ucapan seorang teman, yang mengenalkan saya pada Gaga, bahwa Gaga adalah orang yang jujur terhadap dirinya. Baru kali ini saya mengerti apa maksud teman saya itu. Sungguh sangat sederhana, bahwa kita yang doyan ribut ini tidak lain adalah kelompok hipokrit yang enggan jujur dengan diri sendiri. Sesederhana itu.

Add a comment

bacaan hari ini: identifying culture as a threshold of shared knowledge – D.D. Caulkins

on . Posted in Catatan Tepi

Tulisan Caulkins mencoba melihat bagaimana kebudayaan dilihat sebagai pengetahuan yang dimiliki bersama oleh anggota masyarakat. Dalam hal ini, Caulkins mencoba secara metodologis untuk membuktikan hal tersebut. Menggunakan tulisan Fredrik Barth sebagai langkah awal, Caulkins dengan sangat meyakinkan dapat membuat gambaran bagaimana sebuah kebudayaan merupakan pengetahuan yang dimiliki bersama, meskipun yang dijelaskan Caulkins pada mengambil manajemen lintas-budaya dalam studinya. Caulkins juga menggunakan metode analisis konsensus dalam tulisannya, bagaimana para informan memberikan jawaban, dan kemudian data tersebut diolah, menunjukkan sejauhmana derajat pengetahuan yang dimiliki bersama atau pengetahuan yang tidak dimiliki bersama (seringkali berwujud proto-kebudayaan, subkultur, dan lain sebagainya).

Add a comment

bacaan hari ini: writing ethnographic fieldnotes – R.M. Emerson, R.I. Fretz, dan L.L. Shaw

on . Posted in Catatan Tepi

Bagaimana menulis catatan lapangan etnografi? Hal-hal apa yang harud catat? Dan bagaimana posisi catatan dalam penelitian etnografi? Saya akan memulai dengan bertanya ‘apa itu ethnographic field research?’. Secara sederhana penelitian etnografi adalah studi mengenai kelompok dan orang sebagaimana mereka menjalani kehidupan mereka sehari-hari. Kegiatan ini meliputi dua hal : (1) kegiatan observasi partisipasi, di mana peneliti memasuki seting sosial dengan berpartisipasi dalam rutinitas, mengembangkan hubungan dengan anggota kelompok, dan mengamati apa yang sedang terjadi. (2) pencatatan yang sistematis mengenai apa yang telah diamati sebagai prosedur untuk memproduksi catatan tekstual dari pengalaman yang dialami.

Syiar, promosi, dan "Lailatul Keder"

on . Posted in Catatan Kaki

Saya memulai catatan ini dengan penuh rasa sesal. Sebuah anomali, kalau tidak mau dikatakan tragedi, bahwa di pondok tercinta saya, di tengah geliat Lailatul Qadr, di antara orang-orang yang giat bermunajat, entah bagaimana, ada Armada dan para dai kondang di sana.

Apa lakon? Oh, rupanya ada siaran langsung yang digawangi oleh salah satu tipi nasional. Ya, geliat acara Ramadan memang membuat seluruh stasiun tipi sibuk luar biasa. Ramadan bukan lagi sekedar puasa atau pun ibadah. Ramadan adalah sebuah tradisi yang penuh nuansa keislaman. Nuansa itu lah yang ditangkap dengan sangat cermat oleh semua tipi di Indonesia. 

Add a comment

UN untuk (si)apa? catatan nelangsa guru bimbel

on . Posted in Catatan Kaki

Lima tahun yang lalu, saya mengiyakan ketika untuk kali pertama saya diminta untuk mengajar sosiologi. Istilahnya keren: bimbingan belajar. Apa itu bimbingan belajar? Mengapa perlu bimbingan? Apakah demikian buruknya sampai perlu dibimbing? Ah, pusing. Jangan tanyakan mengapa di namakan demikian, barangkali cuma terdengar keren saja. Pada awalnya adalah petualangan akademik, namun saat ini adalah ritual tahunan yang penuh kebosanan. Sumpah mati saya bosan mengisi bimbel. Teman saya bertanya, mengapa? Ada dua alasan: jenuh dan bosan. 

Pantai Camplong, sejumput garam dari surga

on . Posted in Catatan Kaki

Saya senang sekali berkunjung ke tempat ini. Sedikit keluar dari kegiatan riset yang bikin kulit semakin menghitam adalah sebuah kenikmatan kecil yang layak dilakukan. Awalnya saya ragu, ada ya pantai indah di Madura?? Teman saya langsung, tanpa salamlekum, menjitak saya. Mengendarai motor selama satu jam lebih, rasa pegal terbayar ketika sampai di tempat ini: Pantai Camplong.

Awalnya hanya sebuah keisengan. Bosan yang mendadak datang membuat saya berkomentar singkat, "ada pantai ga?? makan degan (kelapa muda) enak nih". Teman riset saya, yang memang asli Madura, langsung bersemangat dan mulai berkoar-koar promosi tentang indahnya pantai-pantai di Madura.Setelah berembuk singkat, disertai debat kusir yang tidak perlu (saya memang senang mendebat teman saya ini), akhirnya diputuskan kami akan ke pantai Camplong. Tidak jauh kata teman saya (saya lupa basa-basi khas Jawa, dekat itu artinya sekitar 16KM). Add a comment

Rokok, Mau???

on . Posted in Catatan Kaki

Indonesia Lawyers Club (10/7) hari ini membuat saya jengkel berat. Alasannya sederhana: entah kenapa, saya tidak lagi menghormati Karni Ilyas terkait isu rokok. Maka saya pun menyerah dan berganti chanel. Kenapa ya, begitu sulit bagi orang untuk duduk tenang ketika bicara soal rokok?? Saya akui, rokok, atau industri rokok memang industri yang luar biasa besar. Lihat saja daerah-daerah di Jawa Timur atau Kudus yang menggantungkan kehidupan mereka dari rokok. Ribuan orang terlibat dalam industri rokok, dan bahkan MUI sendiri tidak pernah berani, dan tidak akan berani mengeluarkan fatwa haram soal rokok. Alasannya sederhana: ribuan orang terancam kehilangan pekerjaan.

bacaan hari ini: culture as theater/culture as belief – V.P. Pecora

on . Posted in Catatan Tepi

Tidak banyak yang dapat saya katakan mengenai tulisan Pecora, selain bahwa saya belum menemukan apa yang sesungguhnya ingin dia katakan. Membaca Pecora seperti masuk ke dalam ruang gelap, di mana satu-satunya pengetahuan yang saya miliki adalah, saya tahu bahwa semakin jauh saya melangkah, saya semakin jauh dari jalan keluar. Dalam hal saya hanya meraba-raba.

Add a comment

bacaan hari ini: keeping ethnography alive in an urbanizing world – R. Sanjek

on . Posted in Catatan Tepi

Bagaimana membuat etnografi tetap hidup dalam dunia yang terurbanisasi? Ini adalah tema sentral dari tulisan Sanjek. Sejenak saya termenung membaca Sanjek. Jika pertemuan Sanjek dengan antropologi adalah sesuatu romantis, maka pertemuan saya dengan antropologi adalah sesuatu yang simbiosis. Terlepas apakah hubungan saya itu mutualistik atau tidak, namun pertemuan tersebut membawa arti tersendiri bagi saya, sebagaimana saya yakin pertemuan itu membawa arti tersendiri bagi Sanjek.

Munarman, secangkir air, dan Islam yang saya tahu

on . Posted in Catatan Kaki

Apakah anda sudah menyaksikan bagaimana aksi Munarman, Jubir FPI, yang menyiram Tamrin Tamagola dalam acara Apa Kabar Indonesia Pagi di TvOne pada Jumat (28/6/2013) lalu?? Saya sudah dan itu membuat saya jengkel hingga hari ini. Teman saya, menanggapi kekesalan saya, menyatakan bahwa kegondokan saya hanya berbuntut sia-sia. Baginya jelas, FPI tidak mungkin dibubarkan. Negara membutuhkan anjing yang siap menggonggong bahkan menggigit orang (atau keadaan) yang tidak bisa diatur negara. Celakanya, begitu berharganya anjing ini, jika pun dia menggonggong bahkan menggigit, maka di pemilik hanya akan tutup mata. Seakan tidak pernah terjadi. Ya ya, saya setuju. Teman yang lain, mendukung keberadaan ormas ini. Baginya, keberadaan ormas ini diperlukan untuk membela kepentingan ummat Islam yang selama ini diabaikan oleh negara.

Add a comment

KAMI TIDAK BISU, sebuah tanggapan

on . Posted in Catatan Khusus

Kemarin (26/11), bertempat di Ruang Soelaeman Soemardi FISIP UI Depok, saya bersama Kamilia Manaf membedah buku yang diterbitkan oleh Institut Pelangi Perempuan. Sebagai orang yang mendadak ditodong untuk membedah buku itu, saya tentu tersanjung. Bagi saya, seorang pasivis (istilah ini tadi saya gunakan sebagai kebalikan dari aktivis), memdedah buku yang berasal dari pengalaman teman-teman lesbian muda adalah sebuah kehormatan.

Apa kabar lagu anak Indonesia?

on . Posted in Catatan Kaki

Apa kabar lagu anak hari ini? Rasanya saya enggan bertanya, sebab saya tahu, dan sungguh saya khawatir, atas jawabannya. Jawabannya sederhana: layu dan perlahan mati. Teman saya berkata, apa indikatornya? Bagi saya sederhana, lihat lah pengamen jalanan anak. Pernahkah anda mendengar pengamen jalanan, yang anak-anak lho ya, mendendangkan lagu anak-anak? Katakan lah ambilkan bulan? Saya sih tidak.

bacaan hari ini: raiding the land of the foreigners, the limit of the nation on an indonesian frontier – D. Rutherford

on . Posted in Catatan Tepi

 

I

apa yang kita maksud dengan bangsa Indonesia?
 
 
Membaca Rutherford membuat saya banyak bertanya, terutama satu pertanyaan utama: apa yang kita maksud dengan bangsa Indonesia? Sebelum saya berbicara lebih jauh, adalah penting bagi saya untuk menegaskan, bahwa tulisan ini tidak hanya memfokuskan pada tulisan Rutherford, namun juga beberapa hal yang muncul dalam kepala saya. Barangkali saya perlu meminta maaf jika tulisan ini tidak terlalu jelas dalam membahas tulisan Rutherford. Add a comment

bacaan hari ini: writing against culture - Lila Abu-Lughod

on . Posted in Catatan Tepi

most American anthropologists believe or act as if ”culture,” notoriously resistant to definition and ambiguous of referent, is nevertheless the true object of anthropological inquiry

 
Tulisan Lila Abu-Lughod, jika boleh saya katakan, adalah tulisan yang menantang dan mempengaruhi banyak orang, termasuk saya. Meskipun ditulis pada tahun 1991, tulisannya tetap menarik untuk dicermati. Judul artikelnya sendiri menyatakan banyak hal, terutama kritiknya atas konsep ‘culture’, itu sebabnya ia memberikan judul yang brilian, ‘writing against culture’. Sangat banyak isu yang dibawa dalam tulisan ini, namun terutama isu-isu tersebut dilihat dari dua sudut pandang: feminist dan halfies. Halfies atau separuh-separuh, istilah yang ia pinjam dari Kirin Narayan, adalah orang-orang yang identitas nasional atau kulturalnya bercampur dengan adanya migrasi, pendidikan ke luar, atau asal-usul. Add a comment

bacaan hari ini: between biography and ethnography – M.D. Jackson

on . Posted in Catatan Tepi

Kali ini saya membaca tulisan Jackson yang mencoba menjelaskan hubungan antara biografi dan etnografi. Secara sederhana, Jackson melihat bahwa kecenderungan yang muncul adalah reduksi dari pengalaman hidup manusia ke dalam gambaran yang detail mengenai kondisi masyarakat namun tidak memberikan porsi pada setiap orang yang ada dalam gambaran besar tersebut. Dalam pandangan Jackson, setiap yang hidup (setiap manusia) dan kehidupan masyarakat adalah lebih kompleks dan bervariasi ketimbang yang diasumsikan oleh diskursus paradigmatik baik di lingkungan akademis maupun media populer. Dalam hal ini, kita diharapkan untuk lebih teliti dalam melihat sebuah gambaran besar mengenai masyarakat. Secara singkat Jackson menginginkan agar kita memberikan porsi yang lebih besar terhadap pengalaman individu, agar dapat memnciptakan sebuah konfigurasi yang lebih kaya, sehingga setiap orang dapat merepresentasikan pengalaman hidup mereka kepada diri mereka sendiri maupun yang lain.

Add a comment

bacaan hari ini: cultural sites, sustaining a home in a deterritorialized world – K.F. Olwig

on . Posted in Catatan Tepi

Dalam sejarahnya, antropologi selalu memiliki kecenderungan untuk menempatkan subjek penelitian dalam satu lingkup lingkungan yang ‘telah ada’ atau perpindahan penduduk dari satu wilayah ke wilayah baru dan menetap di sana. Kecenderungan ini mendapat banyak kritik, terutama dengan melihat kecenderungan yang ada saat ini, bahwa perpindahan adalah sesuatu yang tidak dapat dielakkan. Gambaran hidup yang normal berupa sekelompok orang yang tinggal di satu wilayah tertentu dalam jangka panjang tidak lah dapat dipertahankan lagi. Dunia modern, sebagaimana telah coba dijelaskan oleh Appadurai, tidak lagi memiliki batasan. Deteritorialisasi adalah kata kunci, dan kata kunci yang sama juga digunakan oleh Olwig dalam tulisannya kali ini.

Add a comment

Jadwal Salat