• umamnoer.com
  • 50 tahun Attaqwa Putri

Beranda

bacaan hari ini: a neo-boasian conception of cultural boundaries – I. Bashkow

on . Posted in Catatan Tepi

Sebagaimana Olwig (lihat catatan saya atas tulisan Karen F. Olwig), Bashkow juga melihat adanya kritik yang muncul dalam disiplin antropologi. Secara spesifik Bashkow melihat kritik yang muncul pada konsepboundaries. Di dunia yang terdeteritorialisasi, batasan-batasan (boundaries) tidak dapat dipertahankan lagi. Mimpi besar untuk meletakkan kebudayaan sebagai sesuatu yang memiliki teritori dan batasan boleh dibilang telah usang. Kritik yang muncul mengenai batasan-batasan yang tidak mungkin dilakukan, telah memunculkan beragam model yang dikembangkan oleh para antropolog. Alih-alih melihat kebudayaan sebagai objek yang terbatasi secara alami, para ahli saat ini justru melihat batasan-batasan tersebut sebagai konstruksi yang diciptakan melalui proses representasi yang dilakukan.

Add a comment

bacaan hari ini: economic and philosophic manuscripts (1844) – K. Marx

on . Posted in Catatan Tepi

Menurut Marx, alienasi adalah hasil sistemik Kapitalisme. Teori Marx tentang alienasi (keterasingan) ini didasarkan pada pengamatan bahwa, dalam mode kapitalisproduksi, pekerja selalu kehilangan penentuan kehidupan mereka. Nasib mereka untuk “menjadi” dirampas, dan hak untuk membayangkan diri sebagai “pemilik”dari tindakan mereka, untuk menentukan karakter tindakan mereka, untuk menentukan hubungan mereka dengan aktor lain, untuk menggunakan atau memiliki nilai dari apa yang dihasilkan oleh tindakan mereka, tidak pernah mereka miliki.

bacaan hari ini: the ritual process – Victor Turner

on . Posted in Catatan Tepi

I
 
Buku yang ditulis oleh Turner, bagi saya, adalah pembuktian keahlian Turner dalam melihat, memahami, dan menjelaskan ritual yang dilakukan oleh masyarakat di, entah di mana, di suatu tempat di Afrika. Turner meneliti mengenai orang Ndembu. Secara umum dapat saya katakan bahwa tulisan Turner bukan lah tulisan yang mudah dibaca. Selain karena, lagi-lagi menurut saya, Turner terlalu sibuk menguraikan secara sangat mendetail ritual Ndembu, sehingga membuat pikiran inti dari apa yang diinginkan Turner menjadi sangat terpencar. Adalah terlalu naif, tentu saja, dengan mengharap Turner dapat menuliskan apa yang ingin dia katakan secara jelas dalam beberapa paragraf singkat, namun setidaknya saya mencoba untuk mengambil beberapa pemikiran Turner yang saya anggap penting. Add a comment

bacaan hari ini: intimacy and alienation: money and the foreign in Biak – Danilyn Rutherford

on . Posted in Catatan Tepi

Danilyn Rutherford membahas dengan sangat luas mengenai hubungan-hubungan yang muncul antara orang Biak, orang asing, dan uang. Menarik untuk dilihat, bahwa pada awal pembahasan Rutherford secara spesifik menyebut peristiwa kebakaran yang melanda di sebuah toko atau pasar, bagaimana orang Biak melihat peristiwa tersebut dan apa hubungannya dengan uang menjadi fokus tulisannya. Add a comment

bacaan hari ini: how to read ethnography - P.G. y Blasco dan H. Wardle

on . Posted in Catatan Tepi

Ini adalah pertemuan kedua saya dengan buku yang ditulis oleh Blasco dan Wardle, setelah sebelumnya saya bertemu dalam kuliah di program pascasarjana Universitas Airlangga. Tidak sulit membaca buku ini. Hal ini disebabkan karena buku ini memang dimaksudkan bagi para pembaca etnografi untuk dapat lebih mudah memahami apa yang mereka baca tanpa sedikit pun menghilangkan hak si pembaca untuk berimajinasi. Buku ini adalah pengantar yang mampu memberikan gambaran apa yang dilakukan oleh etnografer, bagaimana etnografer bersikap, dan terutama adalah bagaimana pembaca mengambil sikap dan posisi terhadap tulisan etnografi yang ia baca. Sebelum saya berbicara lebih jauh, satu hal yang harus diperjelas, ulasan buku ini hanya pada chapter 3. Add a comment

bacaan hari ini: islam in java, normative piety and mysticism in the sultanate of yogyakarta – M.R. Woodward

on . Posted in Catatan Tepi

I
 
Membaca buku ini mengingatkan saya pada komentar seorang teman, yang juga pengajar di IAIN Sunan Ampel, yang mengatakan bahwa agama tidak jatuh dari syurga dan tidak pernah sepi dari dinamika masyarakat. Teman saya itu mengatakan, entah bergurau atau tidak, bahwa Islam sendiri tidak lah “difaks dari langit”. Islam sebagai agama tidak lah menyebar dan mengakar dengan sendirinya. Terdapat proses, anggap lah kalau kita sepakat untuk membuat model periodik, mengenai waktu Islam datang, berkembang, dan melembaga dalam kehidupan masyarakat di Indonesia. Add a comment

bacaan hari ini: orientalism – Edward W. Said

on . Posted in Catatan Tepi

 a collective book that i think supersedes me as its author more than i could have expected when i wrote it

 
Membaca orientalisme dari Edward Said sama seperti bercermin pada cermin yang buram dan retak. Bayangan apa pun yang muncul akan selalu menjadi bayangan yang kabur, hantu dari kegelapan, menyeruak di antara ingatan, dan membawa saya kembali ke labirin pikiran yang seakan tak berujung. Membaca buku ini membuat saya berpikir, mempertimbangkan kembali, mengevaluasi, sambil berupaya sekuat hati agar saya tidak mencela diri saya sendiri. Said telah berhasil membuat saya meninjau ulang ‘ketimuran’ saya sambil mempertimbangkan kembali ‘kebaratan’ yang ada di diri dan sekeliling saya. Add a comment

bacaan hari ini: religion as cultural system - C. Geertz

on . Posted in Catatan Tepi

Apa itu agama? Bagaimana kita mendefinisikan agama? Apa pula fungsi agama dalam kehidupan? Berbagai pertanyaan boleh jadi muncul sebagai akibat dari perbincangan kita mengenai agama. Seorang teman saya pernah berkata bahwa agama tidak pernah “jatuh” dari langit, suatu waktu dia juga berkata bahwa Tuhan tidak pernah “memfaks” agama dari singgasananya. Barangkali kesannya ngawur, tp setidaknya saya menyadari bahwa apa yang dikatakan teman saya tersebut boleh jadi ada benarnya.

bacaan hari ini: the professional stranger – M.H. Agar

on . Posted in Catatan Tepi

Membaca tulisan Agar, membuat saya lebih mudah mengerti mengenai apa yang diinginkan oleh etnografi. Di awal tulisannya, Agar dengan sangat brilian menceritakan mengenai penelitian yang dilakukan oleh Stephens, yang dilatarbelakangi oleh tradisi sosiologi. Dick, begitu Agar menyebutnya, melakukan penelitian pada junkie, dan bagaimana label (Dick menggunakan teori label) berpengaruh terhadap diri mereka. Dalam hal ini Dick membuat kerangka hipotesa, menyusun operasionalisasi variabel, menyusun pertanyaan, mengisikan hasil pertanyaan, dan menganalisisnya untuk menguji teori yang digunakan.

Add a comment

bacaan hari ini: the anthropological lens – J.L. Peacock

on . Posted in Catatan Tepi

Membaca tulisan dari Peacock, mau tidak mau, saya tersenyum. Tugas seorang antropolog itu unik, bahkan keunikan ini muncul akibat ketidaktahuan orang mengenai apa itu antropologi itu sendiri. Saya ingat betapa banyak orang salah paham ketika saya mengatakan bahwa saya mengambil jurusan antropologi. Bagi teman-teman saya, antropologi diasosiasikan dengan arkeologi bahkan astronomi. Hal yang sama juga dikatakan oleh Peacock, yang menganalogikan pekerjaan antropolog bak Indiana Jones. Di mana letak persamaannya? Setidaknya hal ini dapat dilihat dengan perjalanan yang dilakukan oleh seorang antropolog.

Add a comment

bacaan hari ini: islam observed: religious development in morocco and Indonesia – C. Geertz

on . Posted in Catatan Tepi

I
 
Saya beruntung menemukan buku ini, lebih tepatnya terjemahan buku ini, di sebuah toko buku loak di Surabaya. Buku ini bercerita banyak mengenai pengalaman Geertz hidup di dua Negara: Maroko dan Indonesia. Tentu saja kita mengetahui betul siapa Geertz sebenarnya, bagaimana pengaruhnya terhadap studi budaya di berbagai disiplin ilmu. Buku ini adalah salah satu kepiawaian Geertz dalam menjelaskan mengenai Islam di Maroko dan Indonesia. Add a comment

Apa kabar novel Indonesia??

on . Posted in Catatan Kaki

Selasa lalu (3/7) saya mampir ke TM Bookstore di Depok Town Square. Niat awalnya sih hendak cari buku untuk bahan makalah, namun apa daya, godaan untuk mampir ke rak novel terlalu dahsyat untuk dilewatkan. Setelah berputar lima putaran, saya akhirnya memilih satu buku: the Language of Flowers tulisan Vanessa Diffenbaugh. Saya menuntaskan buku tersebut ketika saya dalam perjalan pulang. Dalam Patas AC 84 saya berpikir. Mengapa sangat sulit bagi saya untuk memilih satu novel di antara ratusan judul novel yang ada?

Kebun binatang di sekitar kita

on . Posted in Catatan Kaki

Beberapa hari ini saya resah. Bukan soal utang atau bunga kartu kredit, secara saya memang tidak punya kartu kredit. Saya resah soal kebun binatang di sekitar saya. Alkisah hari ini, di terminal Pulogadung, seorang pengamen lari di depan saya. Dia mengejar temannya. Tidak ada yang istimewa sesungguhnya, sampai kata-kata itu keluar “he, monyet, tungguin gw dong…”. Astaga. Rasanya saya mengalami déjà vu. Peristiwa yang kurang lebih sama terjadi beberapa hari lalu saat saya naik angkutan umum. Seorang pelajar SMP, sambil cekikikan di ponselnya, bilang ke temannya, “anjing, masa gitu aja lo ga ngerti!!”. Ingatan saya pun melayang pada teman-teman kos saya di Kapuk Valley. Mereka yang notabene mahasiswa Gunadarma pun terbiasa mengucapkan kata anjing, babi, ngepet, monyet, dan lainnya.

bacaan hari ini: ethnography then and now – J.V. Maanen

on . Posted in Catatan Tepi

Tulisan Maanen adalah ulasan terakhir yang saya buat untuk kuliah matrikulasi metode penelitian antropologi. Sebagaimana tipikal penutup, tulisan Maanen merangkum secara umum perubahan yang terjadi dalam etnografi dan metode yang dipergunakan. Saya sendiri akan menggunakan tulisan Maanen sebagai pijakan dalam merangkum, melihat kembali, dan memahami kembali apa yang telah coba saya pelajari dalam semester ini. Sepanjang mata kuliah ini berjalan, banyak telah saya pelajari, berdasarkan bahan bacaan dan bagaimana saya memahaminya.

Etnografi, sebagai manifestasi resmi dari antropologi, adalah pijakan awal, tempat di mana saya berpijak dan mulai berjalan. Sebagaimana telah dijelaskan jauh sebelumnya, para antropolog, dimulai sejak kelahiran ilmu ini, telah melakukan perjalanan menuju tempat-tempat jauh, di mana langit adalah batasnya. Di tempat-tempat itu lah mereka melakukan penelitian, menuliskan catatan lapangan, melakukan serangkaian pengamatan, bertanya pada banyak orang, dan menuliskan kembali apa yang mereka dapatkan. Sepanjang sejarahnya, antropologi telah menghasilkan karya-karya etnografis yang monumental.

Add a comment

bacaan hari ini: pathways of power, building an anthropology of the modern word – E.R. Wolf

on . Posted in Catatan Tepi

Saat ini saya sedang membaca buku dari Wolf, khususnya yang secara spesifik membahas mengenai kerja lapangan (fieldwork). Tulisan Wolf dimulai dengan kesadaran penuh mengenai kritik bertubi-tubi yang datang ke dalam disiplin antropologi, konsep kebudayaan, hingga kerja lapangan itu sendiri. Barangkali kita dapat mengandaikan, bahwa seorang antropolog pada dasarnya mencoba untuk mencatat berbagai kebiasaan yang ada pada manusia, dan dalam prosesnya mereka menemukan kebiasaan-kebiasaan yang di luar dugaan. Meskipun banyak kritik yang menerpa, terutama dengan masuknya bias etnosentrisme, imperialisme hingga rasisme, namun kita tidak dapat melupakan fakta bahwa hal tersebut memberikan banyak sumbangan bagi kemajuan disiplin antropologi itu sendiri. Di sisi yang berbeda, sebagai sebuah disiplin ilmu, antropologi telah membangun sebuah tradisi penelitian yang mencoba melindungi dari ‘self-interested error’. Dalam hal ini, antropologi telah banyak memberikan arahan bagaimana memperluas horizon pemahaman kita mengenai satu spesies yang kita sebut dengan manusia. Lebih jauh, antropolog sendiri menemukan bentangan horizon tersebut dengan hidup di antara subjek penelitian.

bacaan hari ini: the impact of the concept of culture on the concept of man – C. Geertz

on . Posted in Catatan Tepi

Seorang teman pernah bertanya, dengan mimik serius, “apa yang kita maksud dengan manusia?”, “berdasarkan kriteria apa seseorang dapat dikatakan sebagai manusia?”, dan “apa yang membedakan satu ‘manusia’ dengan ‘manusia’ lainnya?”. Terus terang saja, mengingat teman saya ini sangat senang bertanya hal yang sangat filosofis, saya cenderung mendiamkan pertanyaan tersebut dengan bengong dengan tatapan mata hampa (maksudnya saya tidak tahu mau menjawab apa), dan membiarkan teman saya berkicau sendiri dengan pikirannya. Add a comment

bacaan hari ini: Structural Anthropology – C. Lévi-Strauss

on . Posted in Catatan Tepi

Kali pertama saya mendengar nama Claude Lévi-Strauss, saya langsung mengasosiasikan nama tersebut dengan merek jeans yang, dahulu, sering saya gunakan. Entah mengapa nama Lévi-Strauss kemudian menjadi merek dagang tersebut. Tulisan ini tidak membahas mengapa nama Lévi-Strauss beralih menjadi merek dagang, namun memfokuskan pada dua karya utama dari Lévi-Strauss: structural anthropology. Membaca tulisan dari Lévi-Strauss sama halnya seperti tersesat di negeri asing, dan si orang asing tersebut hanya bermodalkan peta yang bahasanya tidak ia mengerti. Saya adalah orang asing tersebut, dan buku structural anthropology yang saya baca tidak lain adalah peta tersebut. Acapkali saya menggunakan dugaan atau bahkan tebakan untuk mengerti buku yang ditulisnya, terlebih adalah sebuah godaan yang luar biasa untuk tidak membaca buku orang lain yang membahas tulisan-tulisan Lévi-Strauss, atau bahkan membaca buku terjemahnya (walaupun yang saya tahu belum ada terjemahan lengkap dari buku-buku Lévi-Strauss). Add a comment

Bandara, saya, dan penumpang lainnya

on . Posted in Catatan Kaki

Hari ini (8/4) saya senang karena dua hal. Pertama, saya akan mengunjungi rumah kedua saya: Surabaya. Kedua, saya senang akan prospek jalan-jalan yang menanti saya di sana nanti. Perjalanan saya awalnya menyenangkan, naik Damri tanpa sedikitpun mengalami kemacetan, adalah sebuah oase di tengah kesemrawutan Jakarta. Dan tiba lah saya di Soekarno-Hatta.

Add a comment

bacaan hari ini: global ethnoscapes, notes and queries for a transnational anthropology – A. Appadurai

on . Posted in Catatan Tepi

 “fantasy is now asocial practice; it enters, in a host of ways, into the fabrication of social lives for many people in many societies”

 
Appadurai mengenalkan konsep ‘ethnoscapes’ yang merujuk pada dilema yang dihadapi oleh para etnografer dalam menghadapi gejala dunia global yang semakin kosmopolitan. Appadurai sesungguhnya ingin agar kita memikirkan kembali berbagai studi etnografi yang pernah dilakukan, dan apakah studi semacam itu tetap dapat kita lakukan di era kosmopolit seperti saat ini. Add a comment

Teroris sebagai profesi??

on . Posted in Catatan Kaki

Pulang dari kumpul-kumpul di rumah Dr. Leila Mona Ganiem, seorang pakar komunikasi terkenal (hehehehehe), saya melaju ke daerah Cibubur, menemui seorang teman yang sudah lama tidak berjumpa. Kalimat pertama teman saya sungguh mengherankan "Lo dah jadi anggota Baasyir Fans Club??". Eh, bingung saya. Kesadaran itu seketika muncul. Rupanya jenggot saya lah penyebabnya. Lama tak bersua, teman saya itu heran melihat penampilan saya. Saya bilang ke teman saya, anggap saja ini seperti dulu, temporary madness, kegilaan sementara. Teman saya tertawa. Rupanya dia bercanda. Sialan.

bacaan hari ini: culture and cultural analysis as experimental systems – M.M.J. Fischer

on . Posted in Catatan Tepi

Tulisan ini adalah ulasan terakhir yang saya buat untuk matakuliah konsep kebudayaan dalam kajian antropologi. Ulasan terakhir ini membahas tulisan Michael Fischer yang mencoba merangkum atau merekapitulasi berbagai definisi mengenai kebudayaan (atau budaya), sejak abad ke-19 hingga masa kini. Fischer menjelaskan budaya sebagai:

 
“(1) that relational (2) complex whole (3)whose parts cannot be changed without affecting other parts (4) mediated through powerful and power-laden symbolic forms (5) whose multiplicities and performatively negotiated character (6) is transformed by alternative positions, organizational forms, and leveraging of symbolic systems, (7) as well as by emergent new technosciences, media, and biotechnical relations". Add a comment

bacaan hari ini: negara, the theatre state in nineteenth-century bali – C. Geertz

on . Posted in Catatan Tepi

 I

 
Buku ini mengkaji kehidupan Negara di Bali sebelum masa pendudukan kolonial pada tahun 1906. Secara mendetail Geertz menjelaskan dan menganalisa mengenai organisasi sosial di Bali melalui kemampuan analitiknya dalam interpretasi atas mite, upacara, ritual dan simbol yang dipergunakan oleh Negara. Negara, pada abad 19 sebagaimana dibuktikan oleh Geertz, secara meyakinkan menolak berbagai teori politik maupun pendekatan khas Barat mengenai kehidupan politik. Negara secara (nagara, nagari, negeri) berarti ‘kota’, dan juga dapat diartikan sebagai ‘istana’, ‘ibu kota’, ‘negara’, ‘wilayah kekuasaan’, dan ‘kota’. Dalam pengertian klasik, negara merujuk pada peradaban klasik dunia tradisional, yang meskipun dikatakan klasik namun menunjuk pada, dunia budaya tinggi dan wewenang politik yang berkembang pesat di wilayah tersebut. Lawan dari negara adalah desa, keduanya berasal dari bahasa sanskrit, yang berarti ‘daerah pedalaman’, atau ‘daerah’, ‘mukim’, ‘tempat’, ’daerah momongan’, dan ‘daerah yang diperintah’. Add a comment

bacaan hari ini: the human adaptation for culture – M. Tomasello

on . Posted in Catatan Tepi

Kisah ini adalah lanjutan dari cerita saya dalam review buku Geertz. Kisah tentang secangkir teh yang membentuk diri saya saat ini, namun lebih pada adaptasi saya terhadap kebudayaan minum teh. Dalam tulisannya, Tomasello, dengan sangat meyakinkan, mengatakan bahwa manusia (human beings) secara biologis beradaptasi dengan kebudayaan, dengan cara yang tidak dilalui oleh primata lainnya. Bagi Tomasello, bukti paling kuat dari argumen tersebut adalah bahwa hanya manusia yang memiliki akumulasi dari modifikasi kebudayaan sepanjang rentang waktu kehidupan. Dalam bahasa yang lebih sederhana, Tomasello mencoba menjelaskan bahwa manusia adalah satu-satunya spesies di bumi yang memiliki kemampuan beradaptasi sekaligus memodifikasi kebudayaan yang mereka miliki untuk menunjang kehidupan mereka.

bacaan hari ini: social anthropology & anthropology and history – E.E. Evans-Pritchard

on . Posted in Catatan Tepi

Kali saya membaca tulisan dari Evans-Pritchard, dan saya harus akui, membaca tulisan Evans-Pritchard ternyata tidak lebih mudah ketimbang membaca Levy-Strauss. Meskipun demikian, saya harus memuji Evans-Pritchard karena keengganan dia untuk mengatakan apa yang ingin dia katakan ketimbang memilih jalan berputar. Maka saya akan merangkum apa yang ingin dikatakan oleh Evans-Pritchard melalui cara saya.

Cinta Bersemi di Danau UI

on . Posted in Catatan Kaki

Ini bukan cerita novel atau pun lakon FTV. Ini adalah keisengan saya dan teman saya. Setelah bertemu dengan orang yang saya tunggu-tunggu selama berjam-jam, saya menemui teman saya. Awalnya Detos adalah tujuan utama, namun teman saya berubah pikiran dan malah ngajak janjian ketemuan di tepi danau UI. Bagi saya, mendapat permintaan yang aneh dari teman-teman saya adalah hal yang biasa, termasuk permintaannya untuk menemani duduk di tepi danau. Add a comment

bacaan hari ini: lèbur, seni musik dan pertunjukan dalam masyarakat madura – H. Bouvier

on . Posted in Catatan Tepi

 

Apa yang ada dalam pikiran anda ketika mendengar kata ‘Madura’? Beberapa dengan segera akan berpikir mengenai kondisi geografis Madura yang panas dan gersang, beberapa segera berpikir mengenai ramuan jamu Madura yang terkenal, beberapa segera berpikir mengenai jembatan Suramadu (saya termasuk yang ini), beberapa segera berpikir mengenai sate dan sop kambing (saya juga termasuk yang ini), dan beberapa yang lain berpikir mengenai carok. Sedikit sekali yang berpikir mengenai kesenian. Hélène Bouvier termasuk dalam yang sedikit itu. Add a comment

Lenny, perempuan, dan politik identitas Tionghoa

on . Posted in Catatan Kaki

Siang tadi, mengingat setiap selasa saya tidak ada jam kuliah, saya janji untuk bertemu dengan teman lama di Detos untuk makan siang dan ke toko buku. Teman saya itu bertama Lenny Agustina Mulyawan, kami sama-sama satu angkatan di Airlangga, saya di antropologi sedangkan dia di kedokteran gigi. Alkisah pertemuan berlangsung lancar, terlalu lancar malah. Saya harus akui, saya belajar mengenai ketepatan waktu dari teman saya ini, yang merupakan “warga keturunan” (untuk sementara saya akan menggunakan istilah ini). Selepas membeli buku, dia membeli buku-buku sejarah, dan saya membeli tulisan Tohari, kami pun naik untuk makan. Setelah itu, kami turun dan saya mengantarnya untuk naik angkutan umum ke Kampung Rambutan.

Add a comment

Jadwal Salat